
Dari kejadian itu, hari-hari dilalui Putra terasa hampa, terlebih lagi ponselnya tak berdering seperti dulu lagi. Kalau berdering itu saat Imelda melakukan transfer untuk biaya kebutuhan kuliah dan bulanan Putra di sana. Selebihnya tidak ada.
Rasanya sungguh tersiksa jika harus mengalami hal seperti ini. Kesalahpahaman tak berujung. Ingin menjelaskan kepada orang kita cintai, tapi pekerjaan paruh waktu terus menunggu dan tidak bisa di tinggalkan.
Demi masa depan untuk menjadi seorang pria bertanggung jawab, Putra rela menghabiskan waktunya untuk belajar, dan bekerja paruh waktu selepas pulang kuliah.
Bukan hanya Putra saja tersiksa akan kejadian itu. Imelda juga, hari-hari Imelda kini di hiasi wajah suram tak lagi tersenyum kepada setiap karyawan dan tetangganya. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Imelda terus menatap layar ponselnya tak pernah berdering dan bergetar. Jari-jemarinya terasa gatal ingin mengirim pesan singkat dan menelepon Putra. Namun, hatinya memaksanya untuk tidak melakukan hal itu.
Menyiksa diri setelah sekian lamanya.
4 tahun pun berlalu begitu cepat.
Di wisuda kelulusan Putra, Imelda tak datang, hal itu tidak jadi masalah. Menjadi masalah saat ini, sudah hampir 1 tahun nomor ponsel Imelda tidak bisa di hubungi. Tapi biaya transfer darinya terus masuk ke rekening milik Putra.
Selesai wisuda, Putra berpamitan sekaligus mengucapkan terimakasih telah menerimanya bekerja paruh waktu selama kurang lebih 4 tahun kepada Vience dan Salsabila. Keluar dari ruangan Vience. Putra bergegas memesan tiket penerbangan menuju tanah air demi memastikan apakah Imelda baik-baik saja.
‘Ada apa denganmu Imelda?’ gumam Putra dalam hati sambil terus melangkah.
6 jam berlalu, Putra akhirnya telah berada di dalam pesawat menuju tanah air. Meski perjalanan jarak tempuh dari AU ke tanah air memakan waktu hampir 1 hari. Kedua mata Putra tidak bisa terpejam, meski rasanya pedas terkena angin.
Tidak terasa pesawat di tumpangi Putra telah sampai di landasan Bandara Kualanamu. Setelah keluar dari pesawat, mengambil tas dan koper miliknya. Putra bergegas keluar menunggu taksi online pesanan miliknya di teras Bandara.
10 menit menunggu taksi online pesanan Putra akhirnya datang. Putra memberi alamat kompleks rumah milik mereka kepada pak supir. Mobil taksi online kini meluncur keluar bandara menuju jalan menuju kompleks rumah mereka.
Karena jalanan kota Medan tidaklah terlalu macet. Akhirnya Putra sampai dalam waktu menempuh jarak 2 jam. Taksi online terhenti tepat di depan kontrakan milik Putra. Setelah mendapatkan bayaran dari Putra, taksi online tersebut melaju pergi meninggalkan kompleks.
Baru saja turun dari taksi online, kedua mata Putra disuguhkan pemandangan menyakitkan. Dari teras rumahnya ia terus menatap lurus ke rumah sang kekasih. Di sana ia melihat sang kekasih sedang menyuapi seorang anak kecil perempuan berusia 2 tahun.
__ADS_1
Dengan langkah gemetar ia berlari menghampiri Imelda.
“Imelda, anak siapa ini?” tanya Putra pelan, sorot mata bingung mengarah pada gadis kecil berdiri di hadapannya dan sedang menatapnya dengan menengadahkan kepala mungilnya.
“I-ini—”
“Apakah sebegitu sakit hatinya kamu kepadaku sehingga kamu diam-diam menikah dengan lelaki lain?” tanya Putra menyela, kedua matanya terlihat memerah menahan tangis dan amarah.
“Tidak. Rihana dan Maya telah menceritakan semuanya kepadaku tentang kejadian 3 tahun lalu. Maafkan aku tidak mau mendengarkan kamu waktu itu,” sahut Imelda.
“Jadi, anak ini?” tanya Putra kembali menatap anak kecil masih menatapnya dengan lekat.
“Mami, apakah lelaki ini adalah Papi?” tanya anak kecil tersebut sebelum Imelda menjawab pertanyaan Putra.
Degser duaar!!!
“Aluna, sebentar ya, sayang!” izin Imelda kepada gadis berusia 2 tahun.
Putra semakin hilang kesadaran mendengar sahutan Imelda.
Imelda menarik Putra sedikit menjauh dari Aluna. Kemudian ia ingin memberitahu kepada Putra siapa Aluna. Namun, Putra lebih dulu menyerobot pertanyaannya.
“Siapa pria yang telah menghamili mu?” tanya Putra dengan sorot matanya dingin.
“Darwin..” penjelasan Imelda terhenti karena Putra tidak sabar untuk mendengarkannya.
“Haaaa! Bajinga*n itu lagi. Kenapa kamu tidak memberitahukannya padaku jika lelaki itu telah meniduri mu? Oh! Apa kamu ingin balas dendam kepadaku? Iya!” celetuk Putra meluapkan emosinya.
__ADS_1
“Putra, dengarkan dulu penjelasanku. Aluna memang anak dari Darwin, tapi…”
“Apa? Apa lagi yang ingin kamu jelaskan sekarang? Mau mengatakan bukti? 1 tahun, 1 tahun aku menunggu kabar darimu. Ponsel yang tidak aktif membuat aku yang bekerja paruh waktu hampir gila. Di saat aku mendekati ujian akhir, menyusun skripsi dan banyak hal berat sedang aku kerjakan di sana. Dan aku segera menepis semua hal buruk selalu terlintas di pikiranku agar aku bisa segera pulang dan lulus dengan hasil yang baik. Saat aku memikirkan semuanya hanya untukmu, malah kamu membalasnya dengan seperti ini!” sela Putra dengan suara gemetar menahan tangis tersimpan di dadanya, meluapkan semua kekecewaan.
“Tadi gadis kecil itu bertanya apakah aku Papinya. Dan sekarang aku bertanya kepada kamu. Apakah kamu telah menikah setelah melakukan hal itu?” tambah Putra, pandangannya mengarah pada Aluna duduk di teras rumah sambil main boneka.
“Putra, apakah kamu bisa memberikan aku kesempatan untuk mengatakan hal yang sejujurnya tanpa ada selaan darimu?” Imelda balik bertanya, berusaha lembut untuk menenangkan pikiran Putra.
“Ya, silahkan!”
Imelda mengingat kejadian pertemuannya dengan wanita itu, ibu kandung Aluna sebelum meninggal dunia, dan mulai menceritakannya kepada Putra.
“6 bulan setelah aku pulang dari mengunjungimu. Aku bertemu dengan seorang wanita muda. Wanita itu mengatakan jika dia sedang hamil 2 bulan, dan pria yang menghamilinya tidak ingin bertanggung jawab. Pria itu malah berbohong jika aku adalah istrinya. Pria jahat yang tega berbohong dan melakukan hal ini kepada wanita polos yang baik adalah Darwin. 1 minggu setelah meminta pertanggung jawaban, wanita itu datang lagi mengunjungi rumah Darwin. Namun, Darwin, Om dan tante telah pindah keluar negeri. Perusahaan milik mereka di sini juga telah di jual. Wanita yang bingung itu datang lagi menjumpai aku ke Perusahaan demi bertanya apakah aku tahu kemana perginya Darwin sekeluarga. Wanita itu ingin minta segera di nikahi karena malu dengan hujatan orang di kampung. Merasa iba mendengar ceritanya, aku memutuskan untuk menerima wanita itu tinggal bersamaku. Saat usia kandungannya mencapai 8 bulan hampir memasuki 9 bulan. Wanita itu mendadak terserang asma dan tidak bisa tertolong. Melihat Aluna masih bernafas dan bergerak di dalam perut wanita yang telah meninggal, Dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi demi bisa menyelamatkan Aluna. Alhamdulilah, dengan keajaiban Allah Aluna akhirnya bisa terselamatkan.”
Imelda mejeda penjelasannya, ia menolehkan pandangannya kepada Putra saat ini terdiam tak percaya.
“Kenapa aku tidak pernah menghubungimu dan kenapa ponselku tidak bisa di hubungi lagi? Semua itu karena Aluna. Saat itu aku baru pertama kali merawat bayi. Aku benar-benar bingung dan hampir menangis karena tidak bisa merawatnya. Untung saja ada ibu-ibu tetangga mau membantuku selama Aluna melewati pase bayinya. 1 tahun berlalu Aluna telah pandai berjalan dan berbicara. Entah apa yang terjadi. Tengah malam di hujan deras dan badai, tubuh Aluna mendadak demam tinggi. Hal itu membuat aku benar-benar bingung, dan panik. Saking paniknya ponsel berada di dalam saku baju dasterku sampai terhempas jatuh ke lantai. Dan sampai sekarang aku belum membeli ponsel baru. Tentang hubungan kita kenapa aku terlihat tenang tanpa adanya ponsel? Aku selalu berdoa yang terbaik untuk hubungan kita. Aku selalu berdoa kepada Allah, jika lah kita berjodoh pasti kita akan dipertemukan. Jika tidak, maka kita akan dipisahkan,” tambah Imelda lagi.
“Aku sangat mencintaimu!” gumam Putra memeluk dan mencium bibir Imelda tanpa rasa malu.
“Papi dan Mami napain itu?” gumam Aluna sambil menutup kedua matanya.
Kasihan Aluna, masih kecil matanya sudah ternodai.
.
.
__ADS_1
Bersambung