Kompleks Janda

Kompleks Janda
47. MELAMARMU


__ADS_3

Waktu terus berlalu.


1 tahun telah berlalu. Dari terakhir Putra mencari tanah kosong untuk di buat Perusahaan baru seperti milik Imelda. Akhirnya Putra memiliki Perusahaan ia inginkan. Perusahaan bergerak di bidang Percetakan dan Penerbitan kini telah berjalan cukup lancar selama 6 bulan lamanya.


Merasa dirinya sudah pantas untuk menikahi Imelda, dan umurnya juga sudah memasuki 23 tahun. Putra memutuskan untuk membeli sebuah cincin pertunangan untuk Imelda, dan segera pulang ke kota tempat Imelda berada.


Setelah menempuh perjalanan 1 hari 2 malam dengan mengendarai mobil. Akhirnya Putra telah sampai di kompleks rumah mereka. Putra mengernyitkan dahinya melihat sebuah mobil dengan plat berbeda dari kota mereka terparkir di samping rumah Imelda. Putra segera turun, dengan langkah besar dia memasuki gerbang otomatis Imelda.


Sesampainya di ruang tamu, Putra benar-benar terkejut melihat seorang pria begitu familiar memangku Aluna dan duduk bersama dengan Imelda di ruang tamu.


“Darwin,” gumam Putra.


Sejenak Putra mengingat sebuah pesan singkat dari nomor misterius, dan itu sudah pasti adalah nomor Darwin. Putra sangat ingat jelas jika 1 tahun lalu ia mengirimkan nomor pribadinya ke Darwin, dan sudah memblokir nomor itu dari ponsel Imelda.


Tapi, kenapa saat ini malah Darwin bisa bersama dengan Imelda?


Penasaran dengan semua pertanyaan di dalam pikirannya. Putra melangkah besar mendekati Imelda.


“Ada apa ini?” tanya Putra setelah berdiri di samping Imelda.


Imelda terkejut bukan main, sehingga tubuhnya spontan berdiri dengan kedua mata membesar.


“Pu-Putra!” gumam Imelda dengan kedua mata membulat.


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Putra mengarahkan pandangannya ke Darwin.


“Aluna, Om minta kamu turun sebentar ya, karena Om ingin berbicara dengan Om Putra,” bujuk Darwin kepada Aluna.


“Baik Om!” sahut Aluna segera turun dari pangkuan Darwin.


Darwin beranjak dari duduknya, melangkah perlahan mendekati Putra, menatapnya dengan tatapan merendahkan.


“Bukannya kau sudah membaca isi pesanku yang sudah kau balas 1 tahun yang lalu?” tanya Darwin.


Imelda hanya diam dalam kebingungan dan keheranan.


“Iya, lantas kenapa baru sekarang kau datang?” sahut Putra kembali bertanya.


“Tentu saja aku menghindari mendiang ibu Aluna, dan kejaran dari awak media yang terus ingin mencaritahu semua tentang masalah kehamilan wanita kampungan itu!”


“Sekarang apa maumu?” tanya Putra serius.


“Aku ingin mengambil Aluna dan juga ibu sambungnya, Imelda,” sahut Darwin.

__ADS_1


Putra menggeram, kedua tangan ia kepal menahan amarahnya.


“Kenapa? Kau ingin memukulku?” tantang Darwin mendekatkan wajahnya.


Putra masih berusaha menahan amarahnya.


Melihat Putra menggeram penuh kesabaran, Imelda segera mendekat, memegang kepalan tangan Putra sembari menenangkannya.


“Putra, sebaiknya kamu pergi saja dari rumah ini. Biar aku—”


“Aku tidak akan pergi dan aku tidak akan pernah menyerahkan kamu kepada siapa pun!” sela Putra serius.


“Oh, jadi kau tidak ingin melepaskan Imelda? Bagaimana jika Aluna tahu kalau Imelda bukanlah Mami kandungnya? Apakah kalian tega melihat anak sekecil Aluna harus mengetahui hal kejam?” ancam Darwin.


Lirikan penuh maksud mengarah ke Imelda.


“Gimana Imelda, apa kamu ingin menghancurkan perasaan anak kecil sejak dini? Kalau kamu menikah denganku, tentu saja kamu akan tetap bisa menjadi Mami palsu Aluna sampai waktu yang kau inginkan untuk memberitahu semua kenyataan sesungguhnya. Tapi, kalau kamu tidak ingin menjadi istriku, maka Aluna akan aku bawa pergi bersamaku, dan akan aku katakan jika Mami Imelda bukanlah Mami kandungnya. Dan Mami kandungnya telah lama meninggal dunia,” lanjut Darwin mengancam Imelda.


Sejenak Imelda terdiam dengan wajah bingungnya. Kemudian ia menjawab.


“Aku ikhlas jika Aluna kau ambil. Karena memang sudah seharusnya kau membawa anak itu pergi dari rumah ini. Besarkan Aluna dengan penuh kasih sayang layaknya orang tua yang baik,” sahut Imelda mengejutkan Putra dan Darwin.


“A-apa kamu yakin? A-Aluna sudah cukup lama tinggal bersama kamu loh! Ke-kenapa kamu melepaskannya seperti seorang wanita yang tidak punya perasaan?” tanya Darwin mulai panik.


“GILA! Sudah tidak waras kamu Imelda. Urus saja sendiri anak itu, dan aku tidak mau tahu lagi tentang kehidupannya. Katakan pada anak itu jika kedua orang tuanya telah lama mati!” celetuk Darwin histeris.


“Tentu saja, aku akan segera mengatakan hal yang sebenarnya kepada Aluna suatu saat nanti,” sahut Imelda masih dengan wajah datarnya.


Aneh dengan sikap Imelda. Darwin memutuskan untuk pergi tanpa memaksa Imelda untuk menjadi istrinya.


Setelah kepergian Darwin, kedua kaki Imelda lemas, ia pun terduduk dengan kepala tertunduk.


“Akhirnya,” gumam Imelda lemas.


“Syukurlah kamu mengatakan hal seperti itu. Kalau tidak aku—” ucapan lega Putra terhenti karena Imelda spontan berdiri, mencium bibir Putra.


Merasa habis oksigen di paru-paru keduanya, Imelda melepaskan ciumannya, kepalanya tertunduk karena malu mengingat sikap agresifnya.


“Ma-maaf, a-aku panik dan butuh kesegaran,” maaf Imelda terdengar bodoh.


“Tidak masalah,” sahut Putra. Putra memutar posisi berdiri Imelda berhadapan dengannya, tangannya menaikkan dagu sehingga membuat Imelda menengadahkan kepalanya. Kedua nanar mata tersebut saling bertemu hingga menimbulkan debaran tak biasa.


“Pu-Putra…”

__ADS_1


“Maukah kamu menikah denganku, Imelda!” ucap Putra serius.


“Kamu pasti bercanda,” ucap Imelda tak percaya.


“Aku serius,” sahut Putra kembali mencium bibir Imelda penuh cinta.


Merasa oksigen benar-benar habis di dalam paru-paru. Putra melepaskan ciumannya, tangannya mengambil kotak cincin dari saku celananya. Mengambil cincin tersebut dan memakaikannya ke jari manis Imelda.


Seolah tak percaya dengan cincin mahal telah terpasang di jari manisnya, Imelda terus tercengang menatap jari manisnya hingga meneteskan air mata.


“A-apakah ini cincin sungguhan?” tanya Imelda ragu.


“Iya, itu adalah cincin sungguhan. Selanjutnya aku akan mendaftarkan nama kita di kantor KUA. Aku ingin segera menikah dan memiliki anak darimu,” sahut Putra berbisik di telinga Imelda.


Bisikan Putra membuat Imelda meremang hingga seluruh bulu halus di tubuhnya berdiri.


“Putra, apa kamu sedang menggodaku?” tanya Imelda dengan wajah merona karena malu.


“Ia, aku menggoda calon istri,” sahut Putra kembali berbisik.


“Kamu ih…genit sekarang, ya!” gumam Imelda mencubit gemas lengan Putra.


“Aduh, aduh, duh!” keluh Putra menggerakkan tubuhnya seolah merasa cubitan Imelda sakit.


“Terima kasih telah membuktikan keseriusan kamu untukku,” terima kasih Imelda tulus.


“Terima kasih kembali. Mumpung aku mengambil libur panjang, maka aku ingin segera menikahi kamu. Berhubung kita berdua sudah tidak memiliki kedua orang tua lagi, maka aku akan meminta izin kepada tante-tante yang ada di sini untuk menjadi wali kita. Aku juga akan meminta tolong kepada Joni, Randy, dan Lila untuk menjadi wali ku,” ucap Putra menjelaskan.


“Usulan yang bagus. Tapi, apakah janda-janda di sini akan menerima hal itu? Menerima kamu menikahi aku?” tanya Imelda cemas.


“Kalau mereka tidak merestui, maka aku akan menikahi mereka semua,” sahut Putra sedikit bercanda.


“Apaan sih, nggak lucu tahu!”


“Makanya kamu jangan mengatakan hal seperti itu. Oh ya, kamu ingin kita menggelar acara pesta meriah, atau sederhana?”


“Aku ingin yang sederhana saja, soalnya malu jika orang tahu kalau aku menikah lagi,” sahut Imelda.


"Baiklah!" sahut Putra.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2