
Mimi terus berjalan meninggalkan rumah Imelda dengan wajah kesal.
“Berani sekali mereka mempermalukan aku seperti ini. Awas saja kalian!” umpat Mimi kesal.
Kedua kaki Mimi masih terus melangkah menuju kontrakan miliknya. Sementara itu Putra masih terus memandang dan memandang kepergian Mimi dari jendela kamar miliknya. Melihat Mimi masuk ke rumah, Putra menutup kain gorden, tangannya memegang ponsel dan menghubungi seseorang.
📲 [“Bagaimana dengan alamat yang sudah aku kirimkan kepada kalian? Dan tentang kejadian tadi sore. Apakah kalian sudah merekamnya?”] tanya Putra kepada seorang pria di sebrang sana.
📲 [“Semuanya sudah aman dan sudah kami rekam dengan jelas tuan.”] sahut pria dengan suara serak.
📲 [“Bagaimana dengan wanitanya. Apakah wanita itu ada kaitannya dengan pria itu?”] tanya Putra kembali.
📲 [“Jelas! Semua itu ada kaitannya karena memang pria itu yang mengirimkannya ke kompleks rumah tuan. Tapi, tuan harus hati-hati karena wanita itu di juluki wanita ular.”]
📲 [“Maksudnya?”] tanya Putra tidak paham.
📲 [“Wanita itu bisa memikat hati siapa saja dengan gerakan dan ucapan terlontar dari bibirnya. Bukan hanya itu, wanita itu ternyata seorang wanita yang mudah jatuh hati kepada seorang pria hanya karena melihat postur tubuh sang korban.”]
📲 [“Sekarang aku sudah paham. Kalian tenang saja, aku akan baik-baik saja di sini. Aku harap besok saat pertemuan kami. Kamu dan anak buahmu harus bersembunyi di tempat yang cukup sulit diketahui. Buat tempat itu benar-benar sunyi agar mereka tidak curiga dan semua berjalan dengan lancer.”] perintah Putra mengarahkan.
📲 [“Tuan tenang saja. Hari ini aku telah mengirimkan beberapa anggota ke sana untuk berjaga-jaga.”]
📲 [“Bagus! Kalau gitu aku tutup panggilan ini.”]
Putra mengakhiri panggilan teleponnya, memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana.
“Mimi! Ternyata kamu adalah salah satu orang suruhan dari pria itu. Penyamaran yang cukup kurang rapih,” gumam Putra sambil merebahkan tubuhnya di ranjang, di sebelah Aluna sedang tertidur sambil memegang boneka Tedy.
.
.
Sementara itu di ruang tamu.
Imelda masih bersama dengan Rihana, Maya dan 7 janda lainnya.
“Eh, eh! Kalian lihat tadi sih, janda baru itu?” tanya Maya sambil menyeruput minuman dingin.
“Lihatlah, yang kau pikir kami ini buta!” sahut cepat Rihana dan 7 janda lainnya.
Maya melihat ke Imelda terlihat tenang dan santai.
“Eh, kau kok tenang aja suami kau ingin di gebet janda baru itu. Apa kau nggak cinta sama Putra?” tanya Maya.
Rihana dan 7 lainnya menatap Imelda, menunggu jawab dari bibir peach Imelda.
“Aku juga sebenarnya cemas. Cuman mau gimana lagi, kan tidak mungkin aku mencak-mencak, memukul, memaki seorang wanita yang menyukai suamiku. Kalau memang aku harus marah pada Mimi, mungkin aku juga harus marah pada kalian semua yang masih terus menggait Putra,” jelas Imelda dengan tenang.
Rihana, Maya dan 7 janda lainnya terdiam, mereka saling pandang.
“Ma-maaf!” gumam Maya, Rihana dan 7 janda lainnya dengan wajah bersalah.
“Sudahlah, lupakan saja tentang hal itu. Intinya, sekeras apa pun kalau aku ingin melarang Putra tidak boleh mendekati wanita lain. Kalau Putra sendiri yang mendekati dan merayu wanita di luar sana tanpa sepengetahuanku. Aku bisa apa,” jelas Imelda sekali lagi dengan wajah santainya.
__ADS_1
“Inti dari pembicaraan kamu, bukan berarti kamu merelakan dan membiarkan Putra menggantal dengan wanita lain, kan?” tanya Rihana ingin mendengar kejelasan Imelda.
“Ya, engga lah. Istri mana yang rela suaminya melirik wanita lain,” sahut Imelda tetap dengan wajah santainya.
Maya melirik ke sekeliling ruang tamu, dan tangga menuju kamar mereka.
“Putra kemana?” tanya Maya penasaran.
“Aku rasa ada di atas bersama dengan Aluna,” sahut Imelda.
“Loh! Iya-ia, perasaan tadi Aluna masih ada di sini. Sekarang sudah main kabur tanpa permisi aja,” celetuk Rihana.
“Sifat Aluna kini hampir mirip dengan Putra,” sambung janda lainnya.
Imelda, Maya, Rihana dan 7 janda lainnya melanjutkan perbicangan mereka dengan sesekali mulut mengeluarkan tawa.
Sementara itu di rumah Mimi.
Mimi terlihat sedang bersiap untuk pergi. Pakaian sopannya kini berganti dengan pakaian ketat, tak lupa jaket panjang untuk menutupi seluruh tubuhnya agar pakaian serba ketat itu tidak terlihat oleh Imelda, Rihana, Maya dan 7 janda lainnya masih berada di rumah Imelda.
Mimi melangkah terburu-buru masuk ke dalam mobil miliknya, melajukan mobil tersebut keluar dari kompleks rumah.
Sementara itu, Putra ternyata diam-diam kembali mengintip Mimi dari jendela kamar di lantai 2. Melihat Mimi bergerak keluar rumah, Putra langsung mengirim perintah melalui pesan singkat dan mengirimnya ke seorang pria dari sebrang sana.
Setelah mengirim pesan singkat, Putra kembali merebahkan tubuhnya di tubuh mungil Aluna telah terlelap tidur dengan tangan memeluk boneka Tedy.
2 jam berlalu.
Mobil Mimi telah terparkir di salah satu hotel terletak di kota S. Mimi terlihat berlari terburu-buru masuk ke dalam hotel. Sementara itu, pria suruhan Putra terus mengikutinya sampai masuk ke dalam hotel dengan membawa wanita bayaran sebagai alibi.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Mimi masuk ke dalam diikuti pria suruhan bersama dengan wanita bayarannya masuk ke dalam lift, berdiri tepat di belakang Mimi.
Melihat Mimi terlihat tidak nyaman, pria suruhan Putra memulai aktingnya.
“Hari ini kau sungguh terlihat cantik sayang,” ucap pria suruhan Putra, tangannya mencolek dagu wanita bayarannya.
“Kamu juga,” sahut wanita bayaran itu terlihat malu-malu.
Mimi menggeleng, segaris senyum tercetak di wajahnya, dan itu terlihat jelas di pantulan dinding lift.
Ting!
Pintu lift terhenti di lantai 3.
Mimi keluar dari dalam lift, pria suruhan Putra juga ikut melangkah keluar dengan gaya jalan seperti sedang mabuk.
Tak jauh dari lift, Mimi menghentikan langkahnya di depan pintu kamar 230.
Pria suruhan Putra perlahan mengambil camera mini, menempelkannya ke bagian kerah dan mulai mereka Mimi secara diam-diam.
__ADS_1
Saat pintu kamar 230 terbuka, pria misterius mempercepat langkah kakinya bersama dengan wanita bayarannya.
Bug!
Pria suruhan Putra pura-pura terjatuh tepat di depan pintu kamar 230. Mengambil kesempatan untuk menyorot siapa pria di dalam kamar teramat gelap tersebut, dan ternyata benar, dari sorotan kamera miliknya terlihat seorang pria.
Karena kamar terlalu gelap dan hanya terlihat 1 orang pria duduk di kursi dan 2 lainnya berjaga di pintu. Pria suruhan Putra mengerutkan dahinya, hanya bisa merekam dan berharap dengan hasil baik melalui rekaman kameranya nanti.
“Aduh, kamu tidak apa-apa?” tanya Mimi membantu pria suruhan untuk berdiri.
“Ti-tidak!” sahut pria suruhan.
“Itu, kan. Tadi sudah aku bilang jangan banyak minum. Eh, kamu malah banyak minum dan akhirnya jadi mabuk berat dan menyenggol orang seperti ini,” tambah wanita bayaran berakting.
Sambil ingin meraih tangan Mimi, pria suruhan tersebut menempelkan benda kecil ke jaket panjang penuh corok milik Mimi. Kemudian merangkul wanita bayarannya, dan mencium bibir wanita itu di depan Mimi dan penjaga masih berdiri memegang pintu kamar 230.
“Bibir yang paling manis itu hanya milikmu, sayang!” gumam pria suruhan setelah selesai mencium bibir wanita bayarannya.
“Akh! Sayang, aku sudah tidak tahan, mari kita masuk ke kamar,” ajak wanita bayaran tersebut sambil mengajak menuju kamar mereka.
Setelah kepergian pira suruhan. Mimi melangkah masuk ke dalam kamar hotel dengan pencahayaan redup.
“Malam tuan!” sapa Mimi menghentikan langkahnya di hadapan pria tersebut.
Pria itu menaikkan kedua tangannya kepada 2 penjaga di dalam kamar hotel, mengisyaratkan untuk keluar kamar.
Kedua penjaga tersebut patuh, mereka keluar kamar.
“Sebelum kita membahas tugas kamu. Gimana kalau kamu melayani aku sampai puas,” celetuk pria tersebut.
Tanpa membantah, Mimi membuka jaket dan seluruh pakaiannya. Kini Mimi berdiri dengan tubuh polos, hanya sandal hak tinggi miliknya masih melekat di kedua kakinya.
“Tubuh kamu memang selalu bagus dan enak di pandang saat dalam gelap seperti ini. Terlihat semua cahaya dari tindik yang ada di tempat tertentu itu, membuat darahku menggelegar dan nafsu langsung meningkat,” ungkap pria itu dengan wajah terhalang cahaya.
“Asal tuan puas, maka saya juga akan puas,” sahut Mimi tersenyum tipis.
Pria tersebut beranjak dari duduknya, menghempaskan tubuh Mimi di kursi miliknya, dan menaikkan sebelah kaki Mimi ke atas tangan kursi.
“Tidak pakai pelican dulu, tuan?” tanya Mimi dengan wajah santai seolah tak bernafsu.
“Tidak perlu, karena aku yang akan membuatnya licin,” sahut pria itu.
Pria tersebut memulai serangannya, menggerakkan lidahnya di sana.
“AAA…AAA!” suara lembut itu keluar dari mulut Mimi.
Suara begitu di sukai banyak lelaki, padahal hati Mimi berkata sebaliknya.
‘Sebenarnya aku sudah tidak memiliki nafsu kepada kamu. Aku melakukan hal ini hanya untuk membuat diriku aman dan segera terlepas dari genggaman tanganmu. Jika aku boleh jujur, aku akan mengatakan jika barang milikmu itu sebenarnya kecil, dan cepat letoi tuan. Sangat-sangat tidak membuat aku bernafsu untuk melakukannya kepadamu. Hebatnya kamu bermain karena kamu memakai obat dan tisu ajaib,’ batin Mimi.
.
.
__ADS_1
Bersambung