
Selesai memasak makanan untuk makan malam. Putra hendak membangunkan Imelda. Namun, Imelda sudah turun bersama dengan Aluna di dalam gendongannya.
“Harum sekali. Apa Om ini yang memasak semuanya?” tanya Aluna mencium harum aroma masakan Putra, sampai-sampai air liurnya menetes.
“Iya, kamu pasti sangat lapar. Sampai-sampai ngences seperti ini,” sahut Putra membersihkan air liur di sekitar bibir Aluna dengan tisu.
“I-iya,” sahut Aluna malu-malu.
“Putra, tolong ambilkan kursi khusus untuk Aluna makan, dan dekatkan dengan kursiku,” ucap Imelda meminta tolong untuk mengambil kursi khusus buat Aluna makan.
Putra mengambil kursi khusus untuk Aluna, meletakkannya di samping kursi Imelda.
“Ada lagi yang bisa aku bantu?” tanya Putra sebelum ia mendudukkan dirinya di kursi makan miliknya.
“Tidak, cukup ini saja,” sahut Imelda.
Imelda meletakkan Aluna di kursi makan khusus, kemudian Imelda duduk di sebelah kursi Aluna.
“Kamu masak semua makanan ini?” tanya Imelda memandang berbagai macam menu makanan di atas meja.
“Iya!” sahut Putra mengangguk.
“Terima kasih,” terima kasih Imelda untuk Putra.
Sejenak Putra dan Imelda kembali tersipu. Wajar saja, setelah sekian lama tidak bertemu, Imelda dan Putra sedikit merasakan canggung dan gugup berlebihan karena harus memulai awal pertemuan kembali.
“Mami, Aluna lapar!” panggil Aluna memecah keheningan.
“I-iya,” sahut Imelda dengan cepat menyadarkan dirinya. “Aduh, maafkan Mami yang lupa kalau ada anak cantik Mami yang sedang kelaparan,” tambah Imelda sembari mengambilkan nasi dan beberapa lauk di wadah berbeda untuk Aluna.
Melihat Imelda sibuk mengambilkan makan untuk Aluna. Putra berinisiatif untuk mengambilkan makanan untuk Imelda. Kemudian ia kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
Imelda merasa tersentuh, ia memandangi Putra sampai-sampai air mata kebahagian menetes di pipinya. Namun, harus segera ia hapus agar Aluna tidak kuatir.
Imelda, Putra, dan Aluna makan dengan khidmatnya.
1 jam berlalu, Aluna, Imelda, dan Putra sudah selesai makan dan membersihkan sisa makanan mereka di dapur.
Imelda, Putra, dan Aluna kini berpindah tempat ke ruang tv. Menyalakan tv digital dengan tontonan anak-anak untuk Aluna.
Sejenak Putra dan Imelda saling diam, ikut menonton acara Aluna. Melihat jarum jam panjang terus berpindah. Putra akhirnya memutuskan untuk membicarakan niatnya.
“Imelda,” panggil Putra lembut.
“Iya!” sahut Imelda cepat, menolehkan wajahnya ke Putra.
“Sebenarnya waktu aku kuliah, aku bekerja paruh waktu di salah satu restaurant teman sekelas ku. Awalnya aku tidak tertarik untuk bekerja. Namun, setelah aku pikir-pikir, dan merasa bosan setelah pulang kuliah hanya berdiam diri di rumah. Aku memutuskan untuk menerima penawaran tersebut. Semua itu demi kamu! tentang aku terlihat seperti seorang pria sedang memeluk wanita waktu menyapu. Sebenarnya aku memberikan jarak antara tubuhku dan Salsabila. Tidak sedekat yang kalian lihat. Tentang Salsabila mencium ku, ia hanya ingin mengatakan 'terima kasih karena mau mengajarinya tentang membersihkan rumah', karena sebelumnya dia tidak tahu bagaimana caranya. Waktu dia berlari masuk ke dalam rumah setelah mencium ku, aku mengejarnya hanya untuk mengatakan 'hal itu tidaklah baik karena aku sudah ada yang memiliki',” jelas Putra kembali memberitahu tentang kejadian 3 tahun lalu.
Putra mengambil tangan Imelda, mengelus punggung tangan tersebut dengan sambil melanjutkan penjelasannya.
Antara bahagia dan ingin menangis, semua perasaan itu bercampur menjadi satu di wajah Imelda.
“Sebelum aku menjawabnya. Aku ingin bertanya,” ucap Imelda.
“Tanyakanlah,” sahut Putra cepat.
“Kamu tahu, kan kalau aku ini janda yang sudah memasuki kepala 3. Kalau kamu menikah denganku suatu hari nanti, apakah kamu tidak malu. Apalagi saat ini banyak orang berfikir jika aku melahirkan seorang anak, tanpa tahu siapa Ayah kandungannya," ucap Imelda menjelaskan agar Putra tidak kecewa dengan keputusannya.
“Kenapa kamu harus memikirkan hal itu. Kalau ada orang yang bertanya kepadamu, bilang saja kalau Aluna itu adalah anakku, dan kita sudah menikah sirih,” sahut Putra mengusulkan.
“Apa kamu yakin dengan perkataan itu?” tanya Imelda terlihat senang.
“Iya. Kalau boleh tahu, apa karyawan di Perusahaan tahu kalau kamu membesarkan Aluna. Dan, apa mereka tahu kisah sesungguhnya tentang Aluna?” Putra balik bertanya karena penasaran.
__ADS_1
“Iya, mereka tahu tentang siapa ibu dan ayah kandung biologis asli Aluna. Karena mereka dulu pernah bertemu dengan mendiang ibu Aluna. Namun, aku meminta semua karyawan untuk diam. Meski banyak wartawan terus menyelidiki informasi tentang aku dan ayah biologis Aluna,” sahut Imelda.
“Syukurlah. Imelda, apa kamu yakin bisa menutupi hal besar ini kepada Aluna. Bagaimana jika dia tumbuh dewasa dan mengetahui semuanya jika kamu bukanlah ibu kandungnya?” Putra balik bertanya karena cemas.
“Aku berharap semua rahasia ini bisa tertutupi sampai Aluna dewasa,” sahut Imelda, sorot mata sendunya memandang lurus ke Aluna menari-nari mengikuti lagu siaran yang di tontonnya.
“Hal itu mungkin akan bisa terjadi. Aku usulkan sebelum Aluna tumbuh menjadi gadis dewasa, kamu harus memberitahu siapa ibu kandungnya. Dan berhubung dia adalah seorang perempuan, dan Ayah biologisnya masih hidup, kamu harus memberitahu kepada Aluna. Kalau kamu terus menutupinya, kamu akan mendapatkan dosa besar dari Allah,” ucap Putra memberitahu.
Imelda tertunduk, kedua tangannya meremas rok miliknya.
“Aku takut dosa, tapi rasanya aku tidak sudi memberitahu jika Darwin adalah Papa kandungnya Aluna—” ucapan Imelda terhenti karena Aluna menolehkan wajahnya ke Imelda.
Aluna perlahan mendekat, berdiri di depan Imelda sembari menengadahkan wajahnya.
“Mami, apakah Mami menangis?” tanya Aluna melihat kedua mata Imelda memerah.
“Tidak sayang. Kamu kenapa berhenti menari? Ayo! Menari lagi agar Mami bisa ikut menari bersama Aluna,” sahut Imelda berbohong.
“Benarkah?” tanya Aluna semangat.
“Benar,” Imelda memegang pergelangan tangan Aluna. “Mari kita bernyanyi dan menari seperti biasa,” lanjut Imelda mengajak Aluna kembali ke depan tv.
Imelda mengganti siaran tv digital dengan lagu anak-anak, mengajak Aluna bernyanyi, dan menghafal nama-nama hewan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
“Aku berharap semuanya akan baik-baik saja. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi semua masalah besar di sini,” gumam Putra berjanji.
.
.
Bersambung
__ADS_1