Kompleks Janda

Kompleks Janda
43. Bingung Melihat sikap wanita


__ADS_3

Hari itu pun tiba.


Karena tidak sabar menunggu hari minggu, Rihana memutuskan untuk membeli tiket penerbangan menuju kota Y di hari sabtunya. Maya sendiri juga sudah memboking kamar hotel selama 1 minggu di sana.


Pesawat milik Imelda, Putra, Aluna, dan Rihana, telah mendarat dengan sempurna tanpa hambatan di bandara kota Y. Mereka juga sudah memesan taksi online untuk menjemput, mengantarkan menuju hotel pesanan mereka.


“Nggak nyangka kalau kita sudah berada di kota ini!” gumam Maya senang.


‘Sedangkan aku sudah tidak sabar untuk bisa tidur bersama dengan Putra di dalam satu kamar nantinya,’ batin Rihana.


‘Untung aku masih ada baju piyama yang bagus untuk di pamerkan saat tidur di depan Putra,’ batin Imelda.


2 jam berlalu. Akhirnya taksi online terparkir di depan teras hotel. Staf karyawan menyambut kedatangan mereka dengan hangat, dan di antarkan ke meja resepsionis.


“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis sopan.


“Kamar hotel yang sudah di booking atas nama Maya,” sahut Maya memberitahu.


“Sebentar ya, bu!” ucap resepsionis sembari membuka daftar bookingan. Resepsionis tersebut mengernyitkan dahinya menatap Maya. “Mohon maaf, bukannya 3 hari lalu setelah ibu memesan kamar hotel, kami sudah mengirimkan e-mail jika kamar sudah penuh?” tambah resepsionis.


“Loh! Kenapa bisa seperti itu?” tanya Maya tidak senang.


“Mungkin ibu tidak mengecek e-mail yang kami kirim. Untuk memastikan pesan e-mail yang sudah kami kirim, silahkan di cek kembali kotak spam di e-mail milik ibu!” jelas Resepsionis.


“Iss, kau ini memang, ya! Mana ponselmu,” celetuk Rihana merampas ponsel dari genggam oleh Maya.


Rihana membuka e-mail, dan benar saja jika e-mail pemberitahuan masuk ke dalam kotak spam tidak di baca oleh Maya. Bukan hanya notifikasi pemberitahuan dari hotel, tapi banyak notifikasi penting lainnya yang tidak di baca. Hal tersebut membuat darah Rihana menggelegar.


“Ya, ampun! Hilang akal aku melihatmu. Apa saja yang kamu lakukan selama 3 hari ini janda?” omel Rihana berkacak pinggang.


“A-aku, tentu saja aku mempercantik diri sebelum pergi,” sahut Maya tanpa rasa bersalah.


“Kalau kayak gini. Kita mau tidur dimana nanti? Kau pikir cari kamar hotel yang sesuai itu gampang?” omel Rihana lagi.


“Ma-Maaf!”


“Aku lihat kau ini. Heemm! Gemes kali aku ingin makan kepalamu!” gerem Rihana menahan emosinya.

__ADS_1


Malu dilihati para tamu karena berdebat di depan meja resepsionis, Putra menggendong Aluna sedang tidur, mendekati Rihana dan Maya. Tapi sebelumnya Putra meminta maaf terlebih dahulu kepada karyawan resepsionis karena ulah Maya.


“Tante, mari ikut aku ke lobi,” ajak Putra melangkah terlebih dahulu.


Maya dan Rihana mengikuti dengan masing-masing wajah di tekuk. Pupus sudah khayalan mereka untuk bisa tidur dalam satu kamar dengan Putra.


Begitu sampai di ruang lobi, Putra berdiri menatap Maya dan Rihana.


“Begini, sebenarnya kemarin aku sudah melihat-lihat tempat peristirahatan yang cocok untuk kita di sini. Kalau tante Maya dan tante Rihana tidak keberatan, aku akan menghubungi pemilik Vila tersebut. Gimana?” usul Putra.


“Vila?” tanya Rihana.


“Iya, sebuah Vila dekat dengan perkebunan. Pokoknya tempatnya cocok untuk menampung kita semua di sana,” sahut Putra.


“Baiklah, kita pilih Vila itu saja,” sahut Maya diangguki Rihana.


Imelda mengambil ahli Aluna. Membiarkan Putra menghubungi pemilik Vila tersebut.


Setelah mendapat keputusan sah mengenai harga sewa vila. Putra kembali memesan taksi online dan menuju ke vila tersebut.


“Jauh ya, bu?” tanya ibu pemilik tua berbasa-basi ke Imelda.


“Tidak juga. Kalau jarak tempuh selama itu untuk mendapatkan hasil memuaskan seperti ini, aku pikir kami tidak akan merasa kecewa—” sahut Imelda harus terputus karena Rihana menyela.


“Tidak seperti tadi. Sudah capek-capek menuju hotel, berpikir ingin istirahat. Eh. Sampai di sana malah kamarnya sudah penuh. Itulah, efek punya tetangga malas membuka notif. Entah gimana ceritanya janda seperti itu bisa menjadi seorang Presdir di perusahaannya,” sela Rihana sambil menyindir Maya.


“Biasa ajalah! Namanya aku juga manusia. Kau ini, macam kau nggak pernah buat kesalahan saja. Dasar, janda ember!” celetuk Maya tak mau kalah.


“Ck. Muncungnya itu mana bisa diam. Jawab aja terus dia tuh!” gumam Rihana.


Malu melihat tingkah Maya dan Rihana. Imelda meminta maaf kepada ibu pemilik Vila.


“Maafkan sikap mereka ya, bu!” ucap Imelda meminta maaf.


“Oh, hahaha! Ti-tidak perlu minta maaf,” sahut ibu pemilik Vila di sela senyum manisnya.


Di bantu dengan supir taksi, Putra meletakkan koper dan barang-barang milik mereka di teras Vila. Kemudian membayar ongkos taksi, lalu mendekati ibu pemilik Vila.

__ADS_1


“Bu, berapa tadi harganya?” tanya Putra.


“1,5 aja nak,” sahut ibu pemilik tersebut.


“Ada tempat masaknya juga di dalam kan?” tanya Putra.


“Oh, ada. Semua lengkap di dalam, nak. Kalau mau belanja sayur, tidak jauh dari Vila ini ada pusat pasar. Ada juga tukang sayur keliling, jadi tidak perlu repot-repot untuk jauh-jauh ke pasar membeli sayuran,” sahut ibu pemilik Vila panjang lebar.


“Oh ya, bu. Kalau ibu tahu di sini ada tidak orang yang merental mobil lepas kunci selama 7 atau 6 hari di daerah ini?” tanya Putra kembali.


“Ada, kalau soal rental merental di desa ini yang paling lengkap milik Janda kembang yang bohay. Kapan kamu mau melihatnya ibu akan siap mengantarkan kamu ke sana,” sahut ibu pemilik vila.


Mendengar kata janda kembang bohay. Maya, Rihana, dan Imelda langsung mendelik ke ibu pemilik vila. Hendak memarahi dan melarang Putra untuk menemui janda tersebut. Segan karena Putra ada di hadapan mereka. Akhirnya Imelda, Rihana dan Maya memilih untuk diam di dalam kecemburuan.


“Gimana nak?” tanya ibu pemilik vila.


“Ya, sekarang saja antarkan aku ke rumah pemilik rental mobil itu,” sahut Putra.


“Ikut! Kami ikut!” celetuk Maya dan Rihana cepat. Imelda sendiri tidak bisa berkutik karena tidak ingin membangunkan Aluna masih terlelap.


“Tidak usah, sebaiknya tante Maya dan tante Rihana beristirahat di sini saja. Biar aku saja yang ikut dengan ibu ini,” tolak Putra sopan.


“Jangan. Kamu itu masih kecil, tidak boleh pergi sembarangan di tempat yang belum di kenal,” bujuk Rihana.


“Benar, gimana kalau ada seorang wanita yang mencoba untuk menyakiti kamu. sudah, biarkan kami ikut, ya!” tambah Maya.


Di tengah bujukan Maya dan Rihana. Aluna tiba-tiba terbangun dan langsung berkata.


“Aluna juga ikut Om!” ucap Aluna sembari mengucek kelopak matanya.


Putra terdiam, bingung melihat sikap para wanita.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2