Kompleks Janda

Kompleks Janda
44. Linda Janda Bohay


__ADS_3

Ibu pemilik Vila, Imelda, Putra, Maya, Rihana, dan Aluna di dalam gendongan Imelda telah berdiri di depan pagar rumah berwarna hitam.


“Assalamualaikum! Permisi, Assalamualaikum, bu Linda!” teriak ibu pemilik vila memanggil nama pemilik rumah berpagar hitam.


“Wa’alaikumsalam,” sahut seorang wanita dari dalam gerbang.


Pintu gerbang terbuka, berdiri seorang wanita berusia 45 tahun dengan tubuh lebih berisi dari Imelda, Maya, dan Rihana.


“Ada apa ini bu?” tanya Linda, lirikan genit tertuju pada Putra.


Imelda, Maya dan Rihana melirik sinis, lirikan sinis itu berhasil membuat Linda semakin melirikkan matanya penuh hasrat ke Putra. Namun, Putra tak menghiraukan hal itu karena di hati dan pikirannya sudah ada Imelda.


‘Lumayan juga berondong satu ini. Dan..siapa ketiga wanita tua yang bersama dengannya? Apa wanita-wanita itu adalah salah satu sumber uangnya. Oh! Sangat menarik,’ batin Linda tatapannya perlahan turun ke bagian resleting celana. ‘Huuuh! Seger banget kayaknya yang bersembunyi di balik resleting itu. Agak gagah gimana gitu, ya?’ lanjut Linda membatin.


Tidak suka Putra di tatap intens seperti itu oleh Linda, Imelda bergerak sedikit ke hadapan Putra, berdiri menutup bagian tubuh Putra sehingga Linda memalingkan pandangannya.


“Ganggu aja!” gerutu Linda.


“Bu Linda,” panggil ibu pemilik vila mengejutkan Linda.


“I-iya bu, ada apa?” tanya Linda mulai fokus.


Tidak suka melihat sikap Linda, Maya mulai membuka mulutnya untuk menyindir Linda.


“Fokus makanya bu. Punya mata indah itu seharusnya di pakai untuk melihat yang benar. Bukan jelalatan kemana-mana seperti melihat ke arah yang sudah pasti di miliki orang lain,” celetuk Maya.


“Ada tamu itu seharusnya di suruh masuk, bukan dibiarkan di luar saja,” tambah Rihana dengan tatapan sinis nya.


Linda benar-benar kalah telak, ia tidak bisa menjawab atau berkata apa pun saat ini. Linda hanya bisa membulatkan kedua bola matanya menatap wajah Rihana dan Maya secara bergantian.


“Se-sebenarnya kenapa dengan orang-orang ini, bu?” tanya Linda ke ibu pemilik vila.


“Begini bu Linda. Nak Putra ingin menyewa mobil ibu selama 6 atau 7 hari lamanya. Dan saya katakan jika di tempat ibu adalah pemilik rental mobil yang lengkap,” sahut ibu pemilik vila menjelaskan.


“Oh! Kenapa tidak bilang dari tadi,” Linda menggenggam tangan Putra. “Aduh, pemuda seganteng ini jadi harus menunggu lama di luar. Mari masuk sayang, aku tidak akan membiarkan matahari menyentuh kulitmu,” lanjut Linda sembari menarik Putra masuk ke dalam rumah.


“Karena urusan saya sudah selesai, saya pamit dulu. Jika butuh bantuan, rumah saya ada di ujung jalan lewat sini,” pamit ibu pemilik vila sambil menunjukkan jalan arah rumahnya.


“Terimakasih, ya bu. Hati-hati di jalan,” sahut Imelda, Rihana dan Maya serentak.

__ADS_1


Selesai berpamitan ibu pemilik vila melangkah menuju arah jalan pulang rumahnya.


Maya dan Rihana saling menatap penuh tanya.


“Kita gas wanita yang di dalam itu?" tanya Maya ke Rihana.


“Ialah, mainkan terus! Mari kita masuk,” sahut Rihana sembari melangkah besar masuk ke dalam rumah Linda.


Lagi dan lagi, Aluna kembali melihat perdebatan unik Maya dan Rihana.


“Mami, kenapa kita tidak ikut masuk?” tanya Aluna.


“Baiklah, Aluna mau Mami gendong atau jalan sendiri?”


“Jalan Mi,” sahut Aluna mulai melangkah dengan gaya jalan meniru Maya dan Rihana. Hal itu membuat Imelda tertawa geli.


“Kamu imut banget sih,” gumam Imelda gemas. Ia pun ikut melangkah menyusul Aluna.


Sesampainya di ruang tamu.


Putra duduk dihimpit oleh Maya dan Imelda. Linda sendiri duduk di sofa single dengan raut wajah terlihat tidak suka.


Aluna berpikir jika kelakuan Maya dan Rihana sedang bermain sebuah permainan supir-supiran dalam bus. Aluna baru masuk ke ruang tamu segera berlari dan melompat ke atas pangkuan Putra.


“OOW!” teriak Imelda, Linda, Maya dan Rihana berpikir jika Aluna telah mengenai benda berharga tersimpan di balik resleting celana milik Putra.


Imelda berlari mendekati sofa.


“Putra, apa itu kamu baik-baik saja?” tanya Imelda sorot matanya ke bagian tengah sedang di duduki Aluna.


“Baik, aku menutupinya dengan tanganku,” sahut Putra tenang. Rihana, Maya dan Linda menghela nafas lega.


“Aluna duduk bersama dengan Mami saja, ya!” bujuk Imelda, kedua tangannya terulur seolah ingin memberi penawaran untuk menggendong Aluna.


“Tidak mau. Aluna mau main bersama dengan Om Putra,” tolak Aluna sembari melipat kedua tangannya di depan dada, dan membuang wajah masamnya ke lain sisi.


“Aku tidak masalah jika Aluna ingin duduk di sini. Kamu duduk saja di sana,” sahut Putra.


Imelda duduk di sofa. Putra mulai bertanya kepada Linda.

__ADS_1


“Maaf kalau kedatangan kami kurang sopan,” maaf Putra sopan.


Suara Putra membuat hati Linda luluh, dan ia memaafkannya.


“Oh, t-tidak masalah. Wajar saja terlihat ramai karena kali ini tamuku membawa anak kecil,” ucap Linda melembutkan suaranya.


“Terima kasih atas pengertian ibu,” sahut Putra.


“Hem, jangan panggil ibu. Panggil saja Linda, biar tidak terlalu tua gitu!” protes Linda.


Imelda, Maya dan Rihana mengernyitkan dahinya, menatap tajam ke Linda, dan Linda membalasnya dengan senyuman licik.


“Jadi…siapa tadi namamu, darling?”


“Putra,” sahut Putra memberitahu.


“Oh iya-ia. Jadi, kenapa Putra ingin merental mobil saya selama itu?” tanya Linda penasaran.


“Begini, aku ingin melihat-lihat tanah yang cocok untuk dijadikan gedung Perusahaan di sini. Kebetulan kami semua dari kota lain yang baru saja tiba di kota ini. Kami tidak membawa kendaraan. Sedangkan untuk berkeliling mencari tanah yang pas membutuhkan kendaraan, sedangkan kami tidak memilikinya. Setelah di pikir-pikir daripada berkeliling dengan taksi online, lebih baik aku menyewa mobil saja, dan kebetulan ibu pemilik vila menyarankan untuk menyewa mobil di tempat Linda,” jelas Putra.


“Oh! Te-tentu saja itu adalah pilihan yang pas. Jangankan meminjamkan mobil, untuk menemani Putra berkeliling mencari tanah di kota ini, saya juga bisa. Bukan hanya bisa, tapi saya juga mengenal beberapa pemilik tanah di kota ini. Kalau Putra mau, saya siap membantu,” ucap Linda menawarkan jasanya.


Putra melirik sejenak ke Imelda, berharap mendapatkan jawaban baik.


Setelah mendapatkan anggukan dan senyuman manis dari sang kekasih, Putra langsung menjawab.


“Baiklah! Kalau gitu kapan bisa bawa aku berkeliling?” sahut Putra sekaligus bertanya.


“Besok pagi saja kamu datang ke sini lagi, untuk sekarang kamu pulang dan bawa saja salah satu mobil di garasi saya,” sahut Linda sembari memberikan kunci mobil fortune terletak di atas meja.


“Berapa harga sewanya?” tanya Putra setelah kunci di tangannya.


“Tidak perlu, kamu cukup isi minyaknya saja, dan…” Linda menggantung ucapannya, melirik ke Imelda, Maya, dan Rihana. “Dan, sebagai gantinya temani saya selama 3 malam berturut-turut pergi ke kota untuk menghadiri acara resepsi pernikahan dari mantan suami saya yang digelar selama 3 hari 3 malam itu,” lanjut Linda memberi syarat.


Imelda menarik nafas panjang. Lagi-lagi kejadian seperti ini terulang. Ingin marah, tapi sadar kalau Putra adalah lelaki begitu sempurna sangat di idamkan banyak wanita.


Imelda hanya bisa pasrah dan bersabar.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2