Kompleks Janda

Kompleks Janda
58. Sepucuk Surat Dari Doni


__ADS_3

Perkelahian terjadi.


Buq! Bam!


Swiisshh!


Tendangan, pukulan, pisau mengayun ke arah tubuh Putra.


Dengan tubuh terasa lentur Putra mengelak semua serangan tersebut. Termasuk serangan wanita berpura-pura sebagai sandera.


1 jam larut dalam perkelahian. Wanita itu kini berdiri dengan mulut mengeluarkan darah, tangan memegang perut kirinya.


“Lumayan juga pemuda satu ini. Bukan hanya tampan dan sungguh memikat hatiku. Tapi, musuh sih, tua bangka ini lama-lama sungguh memikat hatiku,” gumam wanita sandera tersebut, tangannya menyeka kasar darah mengalir di bawah bibirnya.


Kasihan melihat Putra menghadapi semua musuh-musuh seorang diri. Dynamic telah kehilangan kesabaran mengarahkan semua anak buahnya untuk menyerang anak buah dari Pak tua. Suara tembakan memenuhi kompleks gudang kosong tersebut. Membuat semua semua musuh tergeletak dengan tubuh bersimbah darah kecuali, wanita berpura-pura sebagai sandera.


Melihat aksi Dynamic dan anak buahnya terus menghujani peluru, Putra hanya bisa bersembunyi di balik mobil miliknya dengan tubuh sedikit membungkuk.


“Memanglah,” gumam Putra sambil mengintip ke Dynamic terlihat keluar dari markas tempat persembunyiannya, dan terhenti di samping wanita berpura-pura sebagai sandera.


Bukan hanya Dynamic, anak buahnya juga terlihat keluar dari tempat persembunyian, dan ikut berdiri di samping kiri-kanan Dynamic.


Putra keluar, berjalan menghampiri Dynamic sedang menahan wanita tersebut. Sambil menodongkan senjata api ke kening wanita itu, Putra bertanya. “Katakan dimana pria tua tak tahu diri itu berada?”


“Kalau aku beritahu, apakah kau mau membebaskanku?” sahut wanita itu kembali bertanya.


“Tentu saja,” sahut Putra.


“Beruntunglah kau wanita jalan*g. Kalau bos muda tidak memberi perintah untuk menyakiti wanita, mungkin kepala sama leher mu sudah aku buat terbang ke angkasa,” celetuk Dynamic geram, tangannya masih menahan tubuh wanita itu agar tidak lari.


“Berisik!” cetus wanita itu.


“Cepat, katakan kemana pria tua itu berpindah tempat?” desak Putra kembali bertanya, karena ia sudah mendapat kabar jika musuhnya itu berpindah tempat.


“Baiklah, aku akan mengatakan jika pria itu sudah kemba—”


Ucapan wanita itu terhenti saat salah satu anak buah Dynamic menghujani tubuh wanita itu dengan peluru.


Putra, Dynamic dan anak buah lainnya terkejut bukan main. Dengan spontan Dynamic mengarahkan senjatanya kepada anak buahnya sedang melarikan diri, menghujaninya dengan peluru miliknya sehingga tubuh anak buahnya kini tersungkur di tanah.


“Cepat bereskan pengkhianat itu!” tegas Dynamic memberi perintah.


Seluruh anak buahnya langsung berlari, membawa jasad anak buahnya itu masuk ke dalam mobil mereka.


Menyadari jika nyawanya sudah tidak lama lagi. Wanita sandera meraih tengkuk Dynamic, membisikan sesuatu di telinga dengan mulut sesekali menyemburkan darah. Selesai membisikan hal penting kepada Dynamic, wanita itu terkulai lemas, menutup kedua matanya.


“Apa yang dibisikkannya kepada kamu?” tanya Putra penasaran.


Dynamic tidak menjawab, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa jasad wanita itu, dan kuburkan dengan layak bersama dengan anak buahnya. Selesai memberi perintah baru kepada anak buahnya, barulah Dynamic membisikan hal dibisikkan wanita itu kepada Putra.

__ADS_1


Setelah mendengar bisikan Dynamic, Putra langsung berlari diikuti Dynamic langsung masuk ke mobil milik Putra.


“Benar-benar pria tua satu itu!” gumam Putra terlihat kesal.


Putra dengan cepat melajukan mobil miliknya menuju jalan kompleks rumahnya. Dengan wajah suram dan penuh amarah, Putra melibas jalan sedikit ramai tanpa memperdulikan teriakan dan makian dari beberapa pengendara sepeda motor.


.


.


Sementara itu di kediaman Imelda.


Imelda masih menonton tv bersama dengan Aluna telah tidur pulas di atas pangkuannya, menunggu kepulangan Putra.


“Sudah jam segini, kenapa Putra belum pulang, ya?” gumam Imelda melirik ke jarum jam panjang menunjuk ke angka 11.


Entah kapan datangnya, dari belakang Imelda telah berdiri seorang pria.


“Imelda,” panggil pria tersebut sembari membungkam hidung Imelda dengan sapu tangan telah diberi bius tidur.


Belum sempat mengeluarkan suaranya, Imelda langsung tertidur.


.


.


Putra dan Dynamic sampai di depan gerbang rumah Imelda. Melihat pintu rumah terbuka, dan ada boneka tedy tergeletak di depan pintu rumah, Putra langsung berlari menuju ruang tv.


“IMELDA! ALUNA!” teriak Putra.


Langkah kaki Putra terhenti di belakang sofa panjang, di sandaran sofa ditemukan sapu tangan berbau cairan bius tidur, lalu di atas sofa terdapat sepucuk surat bertuliskan.


...{Aku telah membawa gadis impianku ke dalam istana baruku bersama dengan seorang anak yang harus aku habisi malam ini juga. Kalau kamu ingin menyelamatkan Imelda, maka ceraikan dia malam ini juga. Aku tunggu kamu di rumah tua jalan Anggrek 30. Salam hangat DONI!}...


Putra meremas kertas berisi surat dari Doni. “Ternyata dugaanku selama ini benar. Kau lah dalang di baling ini semua. Sebagai Om, kau tega melakukan ini kepada keponakanmu sendiri. Awas saja kamu, Doni,” gumam Putra penuh dengan kebencian.


“Mau kemana lagi kita?” tanya Dynamic setelah ia berdiri di samping Putra.


“Ke Tembung, jalan Anggrek,” sahut Putra sambil melangkah pergi.


“Siap!” sahut Dynamic, tangannya tak lupa mengirimkan pesan kepada anak buahnya untuk bersiap di tempat lokasi Doni tinggal.


Baru saja keluar dari gerbang rumah. Putra bertemu dengan Darwin baru saja turun dari mobilnya.


“Apa kau sedang berantem dengan Imelda?” tanya Darwin dengan santai seolah tak mengetahui kejadian buruk di buat oleh Papanya.


Dengan wajah kesal dan penuh amarah Putra mendekati Darwin, mencengkram kerah leher bagian depan Darwin.


“Hei, tenang bro!” ucap Darwin sembari perlahan menurunkan cengkraman tangan Putra dari kerah bajunya.

__ADS_1


“Jangan berlagak polos kamu. Katakan, apakah dalang di balik ini semua adalah rencanamu?” tanya Putra dingin.


“Ma-maksudnya apa?” Darwin balik bertanya dengan wajah bingung.


Kesal melihat wajah bingung Darwin, Dynamic langsung menyambar ucapan Putra.


“Baco*t kau anjin*g. Pura-pura nggak tahu kau kalau orang tuamu menculik Imelda bersama dengan anakmu, Aluna?” celetuk Dynamic langsung melemparkan surat usang ke wajah Darwin.


Darwin menangkap surat tersebut, kemudian membaca surat tersebut. 5 menit setelah membaca surat tersebut wajah Darwin berubah menjadi suram. Rasa kasihan dan iba tadinya tidak ada untuk Aluna, tiba-tiba menghilang, menjadi rasa penuh penyesalan.


“Brengsek! Berani sekali pria tua itu ingin membunuh putriku,” geram Darwin, kedua kakinya pun bergerak menuju ke dalam mobil sembari berkata. “Aku ku buat kau menyesal!”


“Ayo, kita juga harus bergerak!” ucap Putra kepada Dynamic.


Mobil Putra dan Darwin melaju secara bersamaan menuju lokasi tempat Doni menyandera Imelda dan Aluna.


.


.


Di dalam mobil Darwin.


Darwin mengirim pesan singkat kepada sang Mama, kemudian mematikan ponselnya, menambah laju kecepatan mobilnya menuju tempat tersebut.


.


.


Di dalam mobil Putra.


“Hei, bukannya itu pria bajinga*n tak bertanggung jawab atas kehamilan seorang gadis polos yang telah meninggal dunia, kan?” tanya Dynamic, pandangan lurus ke jalan.


“Tahu darimana kamu?” Putra balik bertanya karena penasaran.


“Bos muda ini sepertinya pikun. Apakah bos muda ini melupakan siapa diriku,” gumam Dynamic dengan santai.


“Iya, terserah kau aja lah,” ucap Putra pasrah. Kemudian melanjutkan ucapannya. “Iya, Darwin adalah Papi kandung dari Aluna.”


“Sepertinya dia sangat marah,” cetus Dynamic kembali.


“Entahlah, aku sedang malas memikirkan hal lain,” hela Putra.


Dynamic mengangguk, dan diam tampan melontarkan pertanyaan apa pun lagi.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2