Kompleks Janda

Kompleks Janda
59. Tertangkap


__ADS_3

Mobil milik Putra dan Darwin telah sampai di alamat diberikan oleh Doni dari sepucuk surat ditinggalkannya di sofa rumah Imelda.


Darwin, Putra bersama dengan Dynamic langsung keluar dari dalam mobil. Mereka segera berlari masuk ke dalam gerbang rumah.


“PAPA! IMELDA! ALUNA!” teriak Putra dan Darwin secara bersamaan setelah memasuki rumah tersebut.


Terdengar suara tepuk tangan dari anak tangga. Putra, Darwin dan Dynamic langsung menoleh ke asal suara tepuk tangan tersebut. Terlihatlah Doni turun bersama dengan Imelda dalam dekapan tangannya, sedangkan Aluna di gendong dengan cara kasar oleh anak buahnya.


“Wah, wah, wah! Apa aku tidak salah lihat ini?” tanya Doni setelah menghentikan langkahnya di hadapan Dynamic, Darwin dan Putra.


Dalam bibir tertutup kain, dan dekapan Doni. Imelda menggelengkan kepalanya, sorot mata mengarah ke Aluna. Memberi isyarat kepada Putra untuk segera menolong Aluna dan membawanya pergi dari tempat tersebut.


Dynamic mengerti isyarat dari Imelda langsung berbisik kepada Putra.


“Sepertinya istri bos muda ingin mengatakan jika putri tercintanya harus diselamatkan dan segera pergi dari tempat ini.”


“Aku tahu! Tentang Aluna, aku ingin kamu yang menanganinya,” sahut Putra memberi perintah.


“Kalau soal itu kecil bagiku. Lagian orang-orang ku telah menunggu di luar,” ucap Dynamic memberitahu.


Saat Dynamic dan Putra sedang asik berbisik. Darwin malah mencoba menyerang Doni dan anak buahnya.


“Hiaaakh!” teriak Darwin sambil mengayunkan pisau.


Dynamic hanya melihat. “Dasar pria bodoh!” umpat Dynamic saat melihat kebodohan Darwin.


Anak buah Doni sigap melindungi Doni, masing-masing tangan mengarahkan senjata mereka ke arah Darwin, Dynamic dan Putra.


“Pa, serahkan Aluna kepadaku!” teriak Darwin meminta putrinya.


“Siapa kau rupanya gadis ini?” tanya Doni penasaran.


“Dia…dia adalah putriku!” sahut Darwin mengejutkan Aluna, Imelda, dan Dynamic.


“Papi,” gumam Aluna dengan mulut masih di bungkam.


“Omong kosong macam apa ini, Darwin. Kenapa kau tidak memberitahu Papa jika kau dan Imelda telah memiliki putri secantik ini?” tanya Doni semakin penasaran.


“Dia bukanlah anak kandungku dengan Imelda. Aluna adalah anak kandungku dengan seorang wanita polos yang telah aku nodai. Wanita baik itu juga telah meninggal dunia!” sahut Darwin memberitahu. Mengejutkan Aluna, dan Imelda.


Mendengar jika Imelda bukanlah ibu kandungnya, Aluna spontan menggigit tangan anak buah Doni dan menjerit, menangis sekuat-kuatnya.


“Aluna adalah anak Mami Imelda. ALUNA ADALAH ANAK MAMI IMELDA!” teriak Aluna sambil menggoyangkan tubuhnya sehingga anak buahnya kesulitan menggendongnya.


Bug!


Anak buah Doni menjadi jengkel, langsung melemparkan tubuh Aluna dengan kuat ke lantai. Sehingga kepala Aluna terbentur lantai, darah keluar dari mulut dan hidung.


“ALUNA!” teriak Putra, Darwin.


Imelda hanya bisa teriak dalam hati sembari menangis.


Sedangkan Dynamic dengan cepat mengarahkan senjata api dan memberikan 3 kali tembakan ke bagian kepala anak buah Doni sedang tertawa puas.


“Bukan manusia kau, anjin*g!” umpat Dynamic kepada anak buah Doni telah tergeletak di atas lantai dengan kepala bersimbah darah.

__ADS_1


Doni dan beberapa anak buahnya sejenak tercengang melihat aksi Dynamic, tanpa ba bi bu dan seperti sambaran angin telah membuat anak buah Doni tergeletak tak bernyawa bersimbah darah.


“BAJINGA*N! HABISI MEREKA SEMUA!” teriak Doni memberi perintah, lalu ia berlari membawa Imelda pergi bersamanya keluar dari rumah itu.


Melihat Doni melarikan diri membawa Imelda bersamanya. Putra langsung mengejarnya bersama dengan Dynamic. Sedangkan Darwin di bantu oleh anak buah Dynamic untuk menghabisi anak buah Doni.


Begitu sampai di teras rumah, mobil Doni telah pergi keluar gerbang.


“Ayo, cepat!” desak Putra sambil memutar arah mobilnya sehingga bekas mobilnya tercetak di tanah.


“Go, go, go!” teriak Dynamic setelah masuk ke dalam mobil, dan memukul pelan dashboard mobil.


Putra langsung melajukan kendaraannya, menyusul mobil Doni.


“Lumayan juga kecepatan lelaki tua itu, ya!” puji Dynamic membuat Putra bertambah marah.


Putra menginjak gas, melajukan dengan kecepatan tinggi mobil miliknya.


.


.


Di dalam mobil Doni.


Sambil melajukan mobil miliknya, Doni terus mencolek dagu Imelda.


“Aku akan membawamu pergi bersamaku, sayang!” ucap Doni di selingi tawa mesum.


Imelda menggeliat, dahinya mengernyit tanda tak suka.


“Apa yang ingin…” ucapan Doni terhenti karen Imelda meludahi wajahnya.


“Kalau sampai Aluna meninggal dunia, maka habislah Om, aku buat!” ancam Imelda, kedua bola matanya telah dipenuhi cairan bening, perlahan menetes ke kedua pipinya.


Dengan sabar Doni membersihkan bekas saliva Imelda di wajahnya, dan menghirupnya.


“Saliva nya saja sewangi ini, apa lagi yang lain,” celetuk Doni dengan pikiran mesumnya tanpa memperdulikan ancaman Imelda.


“Aku masih tidak menyangka jika Om melakukan hal buruk ini kepadaku,” cetus Imelda masih tidak menyangka dengan perlakuan Doni padanya.


“Makanya, jadi orang itu tidak perlu terlalu berpikir positif kepada orang lain. Kita memang saudara, tapi tidak hati dan nafsunya,” ucap Doni, tangannya perlahan meraba paha Imelda. Namun Imelda langsung memukul tangan Doni.


“Om sudah keterlaluan!”


Braak!


Di tengah teriakan Imelda memaki Doni, belakang mobil Doni di tabrak oleh Putra. Sedangkan Dynamic memberikan satu anak peluru ke samping badan mobil Doni.


“Akh! Bedeba*h satu ini!” umpat Doni ingin menambah kecepatan laju mobilnya.


Baru saja hendak menambah kecepatan, kedua ban mobil bagian belakang telah dihujani anak peluru oleh Dynamic.


Cciiit ciiit!


Suara ban bocor berjalan di atas aspal sehingga mengeluarkan percikan api.

__ADS_1


Mau tidak mau, Doni akhirnya menghentikan laju mobilnya, setelah itu ia kabur tunggang-langgang, takut terkena amukan Putra.


Bukan Dynamic sang pembunuh bayaran professional namanya kalau anak peluru miliknya tidak mengenai sasaran musuhnya.


Dor dor dor!


3 anak peluru mendarat di punggung Doni, membuat Doni tersungkur ke depan.


Putra langsung mengeluarkan Imelda dari mobil.


“Apakah pria itu melukai kamu?” tanya Putra setelah mengeluarkan Imelda dari dalam mobil.


“Tidak. Tapi, aku sangat kuatir dengan Aluna,” sahut Imelda mencemaskan Aluna.


“Mohon maaf nyonya muda. Gadis kecil kesayangan Anda telah meninggal dunia,” ucap Dynamic tiba-tiba berdiri di samping Putra.


Mendengar kabar dari Dynamic, sekujur tubuh Imelda melemah. Tubuhnya hampir pingsan.


“Aluna!” gumam Imelda antara sedih dan marah.


“Sebaiknya kita masuk ke dalam,” usul Putra membantu Imelda masuk ke dalam mobil.


“Kalian pergilah, karena aku sedang menunggu pihak berwajib untuk datang!” teriak Dynamic memberitahu.


“Kami pergi dulu!” pamit Putra berdiri di samping pintu kemudi.


“Hati-hati dan jaga nyonya muda kita, bos!” sahut Dynamic.


Putra hanya memberikan kedua jempol tangannya, masuk ke dalam mobil dan melajukan nya menuju kediaman mereka.


Di dalam mobil, Imelda masih terus menangis tersedu-sedu memikirkan Aluna telah meninggal dunia. Masih teringat jelas di kedua pelupuk matanya saat membesarkan Aluna seorang diri.


.


.


Keesokan paginya.


Pukul 08:30 pagi, di TPU.


Imelda, Putra, Darwin, Maya, Rihana, dan 7 janda kompleks. Telah berdiri di depan gundukan tanah, nisan bertulisan “ALUNA”.


Suara isak-tangis terus terdengar memenuhi pemakan di sana. Imelda masih memeluk erat batu nisan milik Aluna. Darwin berdiri, menatap batu nisan milik Aluna.


“Aku benar-benar lelaki yang buruk,” gumam Darwin penuh penyesalan.


Putra mendekat, menepuk sebelah bahu Darwin, dan berkata. “Penyesalan memang selalu datang terlambat. Mulai dari saat ini, aku harap kamu benar-benar akan bertaubat.”


“Kalau gitu aku titip Imelda, jaga dan lindungi dirinya dari orang-orang yang ingin mencelakainya,” pesan Darwin, lalu melangkah pergi meninggalkan pemakaman.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2