
Rihana dan Maya terus mengetuk daun pintu rumah Putra. Namun tak ada jawaban. Rihana dan Maya saling pandang, alis mereka juga menaik seolah mengisyaratkan sesuatu.
“Jalang muda itu sudah berani membuat Putra kita tidak menjawab salam dari kita,” gumam Maya menggeram karena tak dapat sahutan dari Putra.
“Benar,” Rihana melirik ke kanan-kiri nya. “Eh, kemana janda hiper itu? Apa dia masih terjongkok lemah di bawah pohon?” tambah Rihana menyadari Imelda tidak ada.
Maya melirik lurus ke pohon di atas trotoar jalan.
“Jeng, lihatlah di sana. Bukannya sibuk melabrak sih pelakor muda. Janda hiper itu malah sibuk mengambil makanan dan minuman yang ia jatuhkan sendiri tadi. Mana sambil menangis macam anak tk,” ucap Maya mengarahkan telunjuknya lurus ke arah jalan.
“Kau tangani Putra bersama ****** muda itu. Sedangkan aku akan menangani janda hiper yang bodoh itu,” ucap Rihana membagi tugas.
“Go!” sahut Maya mengangguk.
Maya masuk ke dalam rumah, Rihana kembali keluar menjumpai Imelda.
“Kenapa tidak ikut kami?” tanya Rihana setelah ia berdiri di hadapan Imelda.
Imelda menoleh dengan kedua mata di penuhi cairan bening.
“Nangis?” tanya Rihana.
“E-enggak, cuman kelilipan aja,” sahut Imelda berbohong, tangannya menyeka air mata belum tumpah ke kedua pipinya.
Rihana menggenggam pergelangan tangan Imelda, menarik paksa Imelda sampai ia berdiri berhadapan dengannya.
“Ke-kenapa jeng Rihana menarik ku seperti itu?” tanya Imelda lirih.
“Sudah pernah merasakan sakitnya bagaimana di tinggali dan di khianati, kan?” tanya Rihana mengernyitkan dahinya menandakan dia sedang serius.
“Aku sadar diri kok. Aku pantas di khianati seperti ini,” ucap Imelda terdengar pasrah dan itu sangat membuat Rihana ingin menampar dan memakinya.
Rihana berulang kali menarik nafas panjang, lalu ia menatap lekat nanar kedua mata Imelda.
“Ucapan pasrah ini menandakan jika kamu memang sangat lemah. Ingat! Pengorbanan kamu untuk bisa membuat Putra seperti ini selama 1 tahun tidaklah mudah. Masa hanya karena pelacur muda kamu mau menyerah? Janda hiper macam apa kamu? nggak berbobot!” celetuk Rihana .
“Mungkin Putra sedang jenuh di sini sendirian tanpa seorang teman. Jadi, hal seperti itu bukannya wajar-wajar saja,” ucap Imelda masih membela Putra.
“Haih! Sudahlah, mari ikut aku masuk ke dalam,” hela Rihana pasrah.
__ADS_1
Kalah debat dengan sikap dan sifat baik Imelda, Rihana lebih memilih mengakhiri percakapan, membawa Imelda masuk ke dalam rumah Putra. Namun, begitu sampai di ruang tamu, Imelda dan Rihana mendengar suara tawa Maya dan suara tawa Salsabila.
Penasaran, Rihana menarik Imelda untuk ikut masuk menuju ke asal suara tawa tersebut. Langkah kaki Imelda dan Rihana terhenti di ruang dapur sekaligus ruang makan, pandangan mereka lurus ke depan, melihat Maya dan Salsabila berdiri di belakang kursi makan tempat Putra duduk. Masing-masing tangan Maya dan Salsabila memegang piring berisi makanan spaghetti.
“Apa-apaan kalian berdua ini?!” omel Rihana begitu melihat raut wajah Putra tertekan, sembari melangkah mendekati Maya.
Menyadari Imelda berdiri di depan pintu ruang makan, Putra langsung beranjak dari duduknya menghampiri Imelda. Namun, Imelda malah pergi meninggalkan ruangan itu.
Putra terus mengejar Imelda sembari memanggil namanya.
“Imelda, Imelda tolong berhenti. A-aku bisa jelaskan tentang ini semua!”
“Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Aku tadi sudah melihat secara langsung dengan kedua mataku jika kamu menyapu dengan gadis itu begitu mesra. Aku juga tadi melihat gadis itu mencium pipi kamu, dan kamu terlihat tidak menolaknya,” ucap Imelda terus berjalan melewati ruang tv dan ruang tamu.
Putra semakin melangkahkan kedua kakinya dengan cepat, tangannya ia ulurkan panjang agar bisa menarik tangan Imelda untuk menghentikan langkah kaki Imelda.
“Kamu salah paham!” tepis Putra berhasil menahan Imelda.
Imelda dan Putra berdiri saling berhadapan, kedua nanar mata mereka saling bertemu walau jaraknya terlampau jauh.
“Aku rasa aku tidak salah paham. Kalau kamu mau bilang aku salah paham, seharusnya kamu harus menjauh dengan gadis itu jika dia memaksamu. Tapi…kelihatannya semuanya tidak dilakukan dengan terpaksa melainkan suka sama suka,” ucap Imelda menahan sesak di dadanya.
Bukannya menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Imelda. Salsabila malah mengambil tas miliknya terletak di atas sofa tamu, kemudian pergi dengan wajah kecewa seolah merasa Putra benar-benar bersalah.
“Salsabila!” panggil Putra, wajahnya menoleh ke arah pintu rumah, memandangi Salsabila terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Putra.
“Oh, jadi nama gadis itu Salsabila?” celetuk Imelda ikut mengarahkan pandangannya ke Salsabila telah memasuki mobil.
“Iya, dia adalah teman sekelas di kampus,” sahut Putra tenang.
Kecemburuan dan rasa amarah Imelda semakin meningkat. Namun ia harus menahannya demi mendapatkan informasi lengkap hubungan Putra dan Salsabila.
Rihana dan Maya mendekat. Rihana berdiri di samping Imelda, sedangkan Maya berdiri di samping Putra.
“Kamu sungguh tega. Kalau memang hanya untuk mengajari seorang gadis untuk bisa menata rumah, seharusnya kamu tidak perlu melakukan pendekatan sedekat itu. Sampai kamu rela di cium gadis tersebut. Putra, tante tanyalah sama kamu. Apa kurang uang bulanan yang di kirimkan Imelda kepada kamu sehingga kamu mencari sampingan seperti ini?” tanya Maya di kalimat terakhir ambigu.
Imelda semakin membulatkan kedua bola matanya. Pikiran kotor mengenai pekerjaan sampingan Putra membuat Imelda tidak habis pikir jika Putra nekad melakukan hal kotor di saat ia tak ada di sini.
Tanpa menunggu kelanjutan percakapan Maya dan Putra. Imelda melangkah goyah, cairan bening hampir memenuhi pelupuk matanya, membuat pandangannya berkabut.
__ADS_1
Plaaakk!!!! Plaaak!!
Tamparan keras mendarat di kedua pipi Putra. Maya dan Rihana tercengang, tak percaya jika Imelda terkenal begitu lembut dan pemaaf bisa melakukan hal seperti ini.
“Semoga kamu sukses di sini. Aku akan tetap mengirim biaya uang kuliah dan bulanan kamu sampai kamu tamat. Aku permisi pulang!” ucap Imelda dengan suara gemetar menahan tangis begitu sesak di dadanya.
Imelda pun melangkah pergi, membawa kembali koper dan tas miliknya.
“Imelda, Imelda. Aku bisa jelaskan yang sesungguhnya!” teriak Putra.
Imelda tidak kunjung menoleh ke belakang. Imelda terus berjalan dengan tangisan perlahan pecah dari bibirnya, begitu sampai di pinggir jalan, Imelda langsung menstop taksi, ia pun naik, menuju ke bandara.
Putra tidak bisa berkata apa pun lagi, kali ini ia hanya bisa berlutut menatap punggung taksi perlahan menjauh dari pandangannya.
“Imelda…” gumam Putra putus asa.
“Yang sabar, ya!” ucap Rihana mengelus bahu kiri Putra dari belakang.
“Tante tidak menyalahkan kamu mengambil job tambahan sebagai guru yang mengajarkan tata cara membersihkan rumah. Tante juga tidak menyalahkan Imelda cemburu kepada kamu. Kalau tante jadi Imelda, sudah pasti semua kebutuhan materi setiap bulannya akan tante stop. Berbeda dengan Imelda, dia begitu lembut dan mampu memaafkan orang lain meski orang itu banyak membuat hatinya sakit. Kemesraan saat kamu berdiri di belakang Salsabila sambil memegang kedua tangannya saja sudah membuat tante dan jeng Rihana cukup salah paham. Apalagi saat kau mendapatkan ciuman dan bukannya marah tapi malah mengejar gadis itu. Sungguh-sungguh pemandangan yang membuat semua orang sakit hati!” celoteh Maya panjang lebar.
“Maaf, aku hanya syok saja tadi. Tentang mengajari cara menyapu dengan baik, aku hanya meniru tutorial yang ada di salah satu aplikasi, sebab aku belum pernah berinteraksi atau mengajarkan hal seperti itu kepada orang lain sebelumnya,” ucap Putra menjelaskan dengan polosnya.
Rihana dan Maya meraup kasar wajah mereka.
“Ya, ampun! Kalau memang tidak pandai di dalam bidang seperti ini. Kenapa kau harus mengambil job yang akan membuat kamu merugi Putra?” gumam Rihana geram.
“Habisnya upah dari pekerjaan menjadi guru private itu lebih besar. Aku bisa menabung uang itu untuk bisa membantu membesarkan bisnis milik Imelda setelah aku tamat nanti,” sahut Putra jujur.
“Baiklah, kami akan mengajarkan kamu satu hal!”
Maya dan Rihana membawa paksa Putra ke dalam rumah. Kemudian mengunci pintu rumah.
“APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN, TANTE?!” teriak Putra.
.
.
Bersambung
__ADS_1