Kompleks Janda

Kompleks Janda
38. Putra Menghentikan Ciuman


__ADS_3

Sedang asik berciuman, Maya malah menghentikan sepeda motor matic nya di samping Imelda dan Putra.


“Ouw! Pro banget, ya?”


Putra langsung melepas ciumannya, Imelda sendiri memalingkan wajahnya tersipu malu.


“Ta-tante,” sapa Putra dengan wajah datar menahan malu.


“Kapan kamu sampai?” tanya Maya mengalihkan pembicaraan utama, tanpa turun dari sepeda matic nya.


“Baru saja,” sahut Putra singkat.


“Selamat ya, pulang-pulang dapat kado dari sih, janda hiper. Mana anaknya cakep lagi,” ucap Maya mengarahkan pandangannya lurus ke depan gerbang rumah Imelda, melihat Aluna bermain boneka barbie.


“Berarti aku harus menikahi Imelda?” tanya Putra mengejutkan Imelda dan Maya.


“Ouw! Apakah sudah bisa berdiri tegak dengan sempurna belalaimu? Dan umurmu sudah berapa tahun ini?” Maya balik bertanya, Imelda menundukkan wajahnya menahan malu.


“Kalau itu sudah tegak lurus dari lama, tante. Umurku tahun ini 22 tahun,” sahut Putra tanpa rasa malu.


“Hem, lumayanlah kalau gitu. Wajah kamu juga terlihat sudah dewasa, tidak seperti awal pertama kali kamu datang ke sini,” gumam Maya mengangguk sejenak.


“Ka-kalau aku sudah tua, hehe! Mana mungkin kami bisa menikah dengan pasangan berumur sangat jauh di bawahku,” tambah Imelda cengengesan.


“Alah, banyak kali kincitmu itu. Bilang aja sekarang kau sedang senang mendengar umur Putra sudah 22 tahun. Lagian dia sudah lulus dengan nilai yang baik, dia juga cukup pintar. Dan…apa kau tidak tahu selama 4 tahun di sana ia giat ngumpulin uang untuk bisa hidup bersama kamu!” ceplos Maya sengaja.


Imelda melirik dengan wajah bingung ke Putra.


“Be-benarkah itu?” tanya Imelda kikuk.


“Benar. Aku juga nanti akan membicarakan sesuatu kepada kamu. Tapi nanti, aku pulang dulu. Mau istirahat, mandi dan membereskan rumah,” sahut Putra.


“Kalau soal kontrakan rumah, kamu tenang saja Putra. Imelda selalu membersihkannya tepat pada waktunya, jadi rumah kontrakan kamu itu selalu bersih dan wangi,” sambung Maya memberitahu.


“Kalian juga membantu kok, bukan aku sendiri saja yang membereskannya,” elak Imelda memberitahu.


“Oh, itu sudah seharusnya. Karena Putra adalah kecintaan kami di kompleks ini. Tentu saja saat Putra pulang ke kontrakan kami tidak ingin melihat tubuhnya di hinggapi tengu dan kecoak. Makanya kami dengan senang hati membantu kamu,” ucap Maya bangga.


“Kalau aku menikah dengan Imelda, apakah tante dan ibu-ibu di kompleks ini mengizinkan?” tanya Putra.


Sejenak Maya melirik Imelda. Lalu ke Putra.


“Hem, gimana ya?”


“Haha, tidak perlu di pikirkan pertanyaan Putra—” ucap Imelda terjeda.

__ADS_1


“Heh janda hiper, apa kau benar-benar tidak mau menikah dengan Putra?” sela Maya ketus.


“Ma-mau..”


“Jadi, kenapa kau berkata seperti itu. Kami para janda di sini sudah berusaha mencoba ikhlas. Kok kamu pula yang ingin menolaknya. Apa kau mau kami menyuruh Putra juga menikahi kami semua! Mau kau di madu dengan 10 janda di kompleks ini?” tanya Maya ketus.


“Kalau aku mau-mau aja, tapi—” Putra menjeda ucapannya, melirik ke Imelda dengan raut wajah berubah menjadi lesu. “Tapi, aku sudah merasa lebih dari cukup jika memiliki Imelda,” lanjut Putra membuat hati Imelda berbunga-bunga.


“Haih! Jadi ingat masa muda dulu,” hela Maya sembari menghidupkan kembali mesin sepeda motor maticnya. “Kalau gitu, tante pulang dulu ya, berondong. Sebelum tante pulang, tante ingin mengatakan jika kamu harus menyayangi Aluna, karena Aluna tidak memiliki kedua orang tua,” lanjut Maya memberitahu.


“Iya,” angguk Putra.


“Daaa!! Berondongku sayang! Tante pulang dulu!” teriak Maya mulai melajukan sepeda motornya.


Tinggallah di sana Imelda dan Putra. Sejenak mereka saling diam satu sama lain mengingat ucapan Putra. Jantung Imelda terus berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya. Semua itu karena mengingat ucapan Putra akan melamar dirinya.


Benarkah itu? Apakah ada anak muda yang mau menikah dengan janda, apalagi janda itu sudahlah tua?


“A-aku permisi balik ke rumah dulu. Nanti malam aku akan berkunjung ke rumah,” pamit Putra gugup.


“I-iya, aku juga mau mengurus Aluna,” sahut Imelda ikutan gugup.


Putra dan Imelda akhirnya berpisah, mereka melangkah menuju rumah mereka masing-masing. Sesekali mereka menolehkan wajahnya ke belakang. Bibir senyum-senyum sendiri.


“Mami kenapa?” tanya Aluna menengadahkan kepalanya ke atas, melihat Imelda tersipu malu dengan wajah memerah.


Puas sudah mengkhayal, Imelda jongkok, tangannya menyingkirkan rambut masuk ke dalam mulut Aluna.


“Aluna, apakah kamu senang setelah berjumpa dengan lelaki tadi?” tanya Imelda sembari membelai puncak kepala Aluna.


“Apakah lelaki tadi adalah Papi Aluna?” tanya Aluna penasaran, karena selama ini dia tidak pernah melihat wajah asli sang Papi.


“Hem, Aluna! Kamu, kan tahu kalau sebenarnya Papi telah meninggal dunia akibat kecelakaan saat kamu masih di dalam kandungan. Jadi, lelaki tadi bukanlah Papi kamu!” ucap Imelda berbohong.


“Oh iya, Aluna lupa!” sahut Aluna menepuk dahinya.


“Kamu memang menggemaskan, Aluna!” geram Imelda mencubit kedua pipi tembem Aluna.


“Sakit, sakit, Mi!” rengek Aluna.


“Habisnya kamu sudah buat aku geram. Anak siapa sih kamu?” geram Imelda kembali.


“Anak Mami lah, masa anak tante Rihana dan Maya,” sahut Aluna.


“Iiiihh, pinter banget sih, kamu!” geram Imelda kembali.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Imelda, Putra diam-diam memantau Imelda dari jendela kamarnya. Segaris senyum tercetak di wajah tampannya itu. Kemudian senyumannya hilang mengingat Darwin tega melakukan hal ini kepada seorang wanita sudah meninggal dunia dan anak begitu cantik.


“Akan aku beri pelajaran jika bertemu denganmu suatu hari nanti,” geram Putra penuh kebencian.


Putra beranjak pergi dari jendela kamarnya. Memutuskan untuk membersihkan tubuhnya sebelum mengistirahatkannya.


1 jam berlalu.


Karena tidak bisa tidur, dan masih merindukan wajah serta harum tubuh Imelda. Putra memutuskan untuk pergi ke rumah Imelda. Memilih untuk beristirahat di rumah sang kekasih agar hati dan pikiran bisa tenang.


Begitu sampai di rumah Imelda, Putra mengernyitkan dahinya melihat Imelda tertidur pulas di ruang tv bersama dengan Aluna di dalam pelukan.


“Kamu pasti lelah merawat anak ini sendirian,” gumam Putra membelai puncak kepala Imelda.


Putra pun menggendong Imelda bersama dengan Aluna masih dalam gendongan menuju kamar Imelda. Ia pun meletakkan perlahan tubuh Imelda di atas ranjang, kemudian mengambil Aluna secara perlahan, meletakkannya di samping Imelda.


Sungguh Putra adalah lelaki kuat!


“Istirahat yang cukup, ya!” gumam Putra setelah mengecup sekilas dahi Imelda.


Baru saja hendak berbalik, Imelda memanggil namanya.


“Putra!”


Putra menoleh, “Iya,” sahut Putra lembut.


“Kamu beneran Putra, kan?” tanya Imelda seolah tak percaya jika di dalam kamarnya ada sosok pria begitu ia cintai.


“Iya, aku tadi membawa kamu ke sini. Sekarang tidurlah. Aku mau masak makan malam untuk kita,” sahut Putra.


“Aku tidak mengantuk kok. A-aku akan membuatkan makanan untuk kamu,” ucap Imelda ingin turun dari ranjang.


Putra menahan Imelda, membuatnya kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Sekarang aku sudah ada di dekatmu. Patuhilah semua permintaanku sebelum aku marah padamu!” tegas Putra.


“Tapi—”


Putra tidak berkata atau menjawab apa pun. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Imelda di dalam kamar.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2