
2 Bulan kemudian.
Putra telah resmi menjadi suami Imelda.
Setiap malam, semenjak Putra tinggal bersama dengan Imelda. Beberapa janda di kompleks sering lewat dan berhenti untuk sekedar ingin mengetahui gimana Putra dan Imelda melakukan hubungan suami-istri saat malam hari. Namun, semua usaha para janda di sana sia-sia karena setiap malam mereka tidak bisa mendengarkan suara rintihan Imelda dari balik tembok gerbang rumah.
Bagaimana mau mendengarkan suara rintihan dari Imelda. Putra saja belum melakukan kewajiban layaknya suami kepada istrinya, karena bingung harus memulainya dari mana dulu.
Malam itu di dalam kamar Imelda.
Aluna telah tertidur lelap di kamarnya terletak di lantai dasar. Imelda dan Putra masih terjaga dengan tubuh tegang dan masing-masing mata mereka saling melihat ke atas langit-langit kamar.
‘Sudah 2 bulan berlalu, masa Putra tidak melakukan hal apa pun kepadaku. Masa Putra hanya sekedar cium bibir saja. Iisss, sebenarnya Putra mencintaiku atau dia sudah memiliki wanita lain di luar sana yang sudah memuaskan dia?’ gerutu Imelda dalam hatinya berprasangka buruk kepada Putra.
Lain halnya dengan pikiran Putra.
‘Aduh, gugup banget sih! Karena terlalu memikirkan Imelda pernah menikah. Aku jadi takut sendiri tidak bisa memberikan kepuasan di ranjang padanya. Walau aku sudah berulang kali membaca cara menggauli istri dari aplikasi. Tapi, tetap saja aku gugup,’ batin Putra.
Bosan dalam kediaman dan rasa canggung selama 2 bulan lamanya seperti itu-itu saja. Kali ini Imelda mengambil tindakan untuk melakukan hal seperti itu duluan. Meski sedikit malu akan di nilai agreasif oleh Putra. Tapi, mau tidak mau Imelda harus melakukannya demi memastikan apakah Putra benar mencintainya dan tak memiliki wanita lain di luar sana.
Imelda bergerak duduk di atas pangkuan Putra, memegang kedua pergelangan tangan Putra dan meletakkannya ke atas puncak kepala Putra.
“Ka-kamu kenapa?” tanya Putra gugup.
“Galian sumurku telah kering cukup lama. Apa kamu tidak berniat untuk membasahinya?”
“Ga-galian sumur yang mana? Setahuku di rumah ini tidak memiliki sumur,” sahut Putra dengan polosnya.
“Sumur ini, yang di bawah. Masa kamu enggak peka sih!” cetus Imelda mengarahkan pandangannya ke titik pusat.
“Se-sebenarnya aku tidak tahu cara melakukan hal yang benar. A-aku takut membuat kamu kecewa,” sahut Putra jujur.
“Ya ampun. Kalau kamu tidak tahu aku akan mengajari kamu. Dan…aku sangat yakin kamu pun bisa melakukannya tanpa di ajarin,” ucap Imelda.
“Baiklah, aku akan berusaha menjadi suami yang baik,” hela Putra.
Imelda turun dari pangkuan Putra, duduk di samping titik pusat Putra, lalu perlahan tangan itu ingin menurunkan celana piyama Putra.
“Ka-kamu mau ngapain?” tanya Putra gugup, tangannya menahan tangan Imelda.
“Kita akan melakukan pemanasan,” sahut Imelda kembali menurunkan celana piyama Putra. Namun, Putra kembali menahannya dengan cara memutar posisi tidur mereka.
Putra menindih Imelda.
__ADS_1
Deg deg deg!
Ritme debaran jantung satu sama lain terdengar cukup kuat di kedua telinga masing-masing.
“Tidak baik jika membiarkan sang istri memulai duluan,” ucap Putra.
Putra mencium bibir merah muda Imelda. Pelan tapi pasti, ciuman itu semakin panas dan menjalar ke seluruh bagian-bagian tertentu sehingga suara ******* terdengar dari bibir Imelda. Hal itu semakin membuat adrenalin Putra memanas. Mereka saling melucuti baju, sehingga tubuh berlumur cairan asin itu terlihat polos dan mengkilap. Walau pendingin ruangan telah dinyalakan, mereka merasakan panas cukup membara di seluruh tubuh.
“Aku akan memasukkannya,” bisik Putra karena miliknya telah mengeras.
“Milikmu cukup besar, dan aku minta kamu memasukkannya secara perlahan. Ka-karena milikku sudah lama tidak di sentuh, pa-pasti rasanya akan sakit,” sahut Imelda malu-malu.
Putra mengangguk, perlahan tapi pasti ia memasukkan miliknya ke gua sudah tidak tersegel.
Meski tidak perawan lagi, milik Imelda terasa sangat sempit dan hal itu membuat Putra berjuang ekstra untuk bisa masuk.
Imelda menahan rasa sakit agar benda keras besar itu masuk ke dalam miliknya. Setelah berjuang 10 menit lamanya, akhirnya benda itu masuk dan perlahan bergerak di dalamnya.
1 jam berlalu. Putra telah berhasil menyemburkan benih cintanya ke dalam rahim sang istri. Kini tubuh polos dipenuhi cairan asin kedua insan itu tertutup selimut tebal.
“Terima kasih,” ucap Putra setelah berhasil mengatur nafasnya, lalu mencium dahi Imelda.
“Apa kamu puas melakukan hal itu kepada seorang janda?” tanya Imelda memastikan.
“Puas, aku berpikir milik kamu sama halnya seperti milik gadis perawan,” sahut Putra jujur.
Putra memeluk dan mencium sang istri. Kemudian menarik tubuh Imelda, membuatnya tertidur di atas lengan kekar miliknya.
“Tentu saja. Ketika aku sudah siap memberi keputusan untuk menikahimu, maka aku juga harus siap untuk menerima segala hal apa pun yang ada pada dirimu,” sahut Putra menenangkan hati Imelda.
Baru saja siap melakukan hubungan suami-istri, dan masih ingin sayang-sayangan. Pintu kamar di ketuk kuat dari luar dan terdengar suara Aluna.
“Mami!” panggil Aluna dari luar dengan sedikit rengekan.
“A-Aluna, sebaiknya aku pakai celana dulu,” ucap Putra segera turun dari ranjang untuk mengambil celana piyama miliknya. Kemudian memakaikan Imelda baju piyama agar tidak terlalu polos.
“A-aku yang akan membuka pintu untuk Aluna. Ka-kamu jangan bergerak agar cairan itu bisa menjadi dedek bayi,” tambah Putra memberi perintah tanpa malu.
Imelda mengangguk, dan merebahkan tubuhnya kembali.
“Aluna kenapa menangis?” tanya Putra setelah membuka pintu kamar.
“Tadi Aluna mimpi bertemu dengan wanita cantik. Katanya wanita itu adalah Mama kandung Aluna. Wanita cantik itu ingin memeluk Aluna karena kangen,” adu Aluna tentang mimpi buruknya.
__ADS_1
Sejenak Putra mengalihkan pandangannya ke Imelda. Imelda memberikan kode untuk menggendong Aluna dan membawanya ke ranjang. Putra menuruti perintah Imelda, menggendong Aluna dan meletakkannya di samping ranjang kosong sebelah Imelda.
“Jangan menangis ya, sayang. Itu hanya mimpi saja, lain kali kalau Aluna bertemu dengan wanita cantik yang ingin memeluk Aluna. Maka Aluna peluk saja, siapa tahu dia merindukan anaknya,” ucap Imelda paham dengan arti mimpi Aluna.
Aluna berhenti menangis, dan menatap Imelda.
“Tapi, Aluna takut. Gimana kalau wanita cantik itu adalah hantu?”
“Kalau wanita cantik itu adalah hantu. Mana mungkin ia minta pelukan dari Aluna. Mungkin wanita cantik itu adalah bidadari di dalam mimpi Aluna,” sahut Imelda menjelaskan dengan cara mengarang.
“Benar juga kata Mami. Lain kali kalau wanita cantik itu datang ke dalam mimpi Aluna, maka Aluna akan memberikan pelukan hangat seperti Aluna memeluk Mami!”
“Apakah Aluna masih takut?” tanya Imelda memastikan.
“Tidak. Aluna sudah tidak takut dan menangis lagi,” sahut Aluna menggeleng.
“Aluna mau tidur di sini atau di kamar?” tanya Putra masih berdiri di samping ranjang.
“Aluna, kan sudah besar. Jadi, Aluna mau kembali ke kamar Aluna saja,” sahut Aluna sembari ingin merangkak turun. Namun langsung di gendong oleh Putra.
“Coba Om lihat wajah gadis yang sudah besar itu?” tanya Putra menatap wajah Aluna.
“Ini!” sahut Aluna menunjukkan wajah tersenyum lebarnya kepada Putra.
“Kalau gitu lambaikan tangan kepada Mami dulu, sebelum Om antar kamu ke kamar,” ucap Putra memberi perintah.
“Daaa! Mami, selamat malam. muaaaach!”
“Selamat malam sayang. Jangan lupa baca doa sebelum tidur,” sahut Imelda memberi pesan.
“Siap, Mami!”
“Kalau gitu kami turun dulu Mami. Daaa!” pamit Putra ikutan bilang Mami.
Setelah pintu kamar tertutup. Muncul wanita dengan berpakaian gaun putih bersih dengan rambut dihiasi bando bunga-bunga. Wanita itu adalah almarhum ibunya Aluna, ia berdiri tepat di samping ranjang Imelda.
“Terima kasih telah membesarkan putriku sampai secantik ini. Terima kasih telah memberikan kasih sayang yang tulus untuknya. Kali ini aku benar-benar bisa tenang di alam sana, suatu saat kamu bisa menceritakan siapa kamu sebenarnya. Dan, ajaklah putriku untuk menjenguk ku ke makam. Beritahu dia jika aku adalah ibu kandungnya. Sekali lagi terima kasih Imelda. Aku pamit pergi dulu!”
Wanita itu pun menghilang sebelum Imelda menjawab semua ucapannya.
"Iya, suatu saat aku akan memberitahu Aluna!" gumam Imelda pelan.
.
__ADS_1
.
Bersambung...