Kompleks Janda

Kompleks Janda
28. Perjodohan itu sebenarnya tidak ada


__ADS_3

Tidak tahu harus berkata apa kepada Imelda, Putra membiarkannya pergi. Melihat Imelda masuk ke dalam gerbang rumahnya, Putra menolehkan pandangannya ke Fuji masih berdiri di teras rumah Putra.


“Katakan padaku, apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Putra setelah ia berdiri di samping Fuji.


Fuji menundukkan kepalanya, kedua tangannya di kepal dengan sangat erat. Perlahan bulir air matanya menetes ke lantai, ia pun menyeka air mata itu, lalu kembali menengadah, menatap wajah datar Putra masih menunggu jawaban darinya.


“Maafkan aku, sebenarnya perjodohan kita tidak ada. Sebenarnya, sebenarnya aku dijodohkan dengan seorang pria dari desa sebelah. Aku datang ke sini hanya untuk memastikan apakah kamu memiliki rasa padaku. Ternyata tidak. Melihat kamu mengatakan jika janda itu adalah kekasihmu, membuat hatiku menjadi sakit. Rasanya aku tidak rela mendengar kamu memilih wanita lain sebagai kekasihmu dari pada aku, teman masa kecil kamu,” jelas Fuji jujur, nada suaranya terdengar lirih.


Putra menghela nafas pendek, tangannya membelai puncak kepala Fuji seperti biasa ia lakukan saat bertemu Fuji.


Merasakan belaian hangat dari Putra, Fuji membesarkan kedua matanya, lalu menepis tangan Putra dari rambutnya.


“Jangan berikan aku sentuhan lembut seperti ini!” tegas Fuji tidak ingin membuat dirinya salah paham kembali atas perlakuan lembut Putra padanya.


“Maafkan aku karena tidak bisa membalas perasaanmu. Aku begini karena aku hanya menganggap mu sebagai adik, tidak lebih,” ucap Putra menjelaskan tentang perasaannya.


Fuji mengepalkan kedua tangannya, dadanya serasa sesak mendengar kejujuran Putra. Benar-benar sebuah perasaan tak pernah berubah dari dulu. Menganggap Fuji hanya sebagai adiknya.


Berulang kali Fuji menarik nafas panjang untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Setelah merasa cukup tenang, Fuji memberikan senyum terakhirnya kepada Putra.


“Kalau gitu terima kasih karena kamu sudah menganggap ku sebagai adik. Terima kasih juga selalu memberikan aku kasih sayang yang lebih waktu kamu berada di Desa. Karena waktuku tidak banyak, aku pamit pulang. Jika kamu sempat datang bulan depan di minggu pertama saat acara pernikahanku, maka datanglah bersama janda itu,” pamit Fuji mengucapkan salam perpisahan, tak lupa mengundang Putra untuk datang ke acara pernikahannya akan diadakan bulan depan.


“Iya, kamu hati-hati pulang ke Desa. Sebab seseorang yang akan menikah katanya darahnya manis,” sahut Putra diselingi candaan agar Fuji tidak terlalu sedih.


“Iya,” gumam Fuji mengangguk, Fuji pun memberikan ciuman perpisahan di sebelah pipi Putra. “Aku pergi dulu,” tambah Fuji setelah memberikan ciuman di pipi Putra.


“Hati-hati,” sahut Putra melambaikan tangannya.


Mobil dikendarai Fuji perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah Putra.


Di dalam mobil terus melaju, sorot mata Fuji masih fokus menatap kaca sebelah kanan mobilnya, menatap pantulan Putra masih berdiri di teras rumah.

__ADS_1


“Hiks, hiks! Andai kau tahu betapa besarnya cintaku padamu. Kedatanganku sebenarnya ingin mendengar sebuah penahan agar aku tidak menikah dengan orang lain. Nyatanya, akulah yang dikejutkan dengan kejujuranmu, Putra. Mulai sekarang aku harus merelakan kamu, membiarkan kamu hidup bahagia dengan pilihanmu sendiri,” gumam Fuji lirih, ditemani derai air mata menetes di pipinya. Pandangan berkabut di penuhi air mata masih fokus menatap lurus ke jalan raya sunyi malam itu.


.


Di sisi lain.


Putra menoleh ke rumah Imelda, melihat lampu kamar Imelda padam, Putra memilih untuk masuk ke dalam rumah, memutuskan untuk menjelaskan kekacauan dibuat oleh Fuji besok pagi.


.


Keesokan paginya.


Tok tok!


Putra mengetuk pintu rumah Imelda. 5 menit menunggu pintu rumah terbuka, Imelda berdiri masih dengan piyama tidurnya, kedua mata sembab habis menangis semalaman.


‘Melihat kedua mata sembab Imelda membuat aku mendadak gemas. Ternyata seperti ini rasanya memiliki seorang kekasih, ada rasa asam manis, dan pingin melahap…,’ gumaman dalam hati Putra terhenti saat sorot mata mulai turun ke bagian dua gunung kembar dengan 2 chery terekspos jelas di mata polosnya.


Tanpa pikir panjang Putra membuka jaketnya, dan menutupi tubuh bagian depan Imelda.


“Apa kamu keluar tidak memakai batok kelapa?” tanya Putra berbisik.


“Batok? Emang buat apa samaku batok kelapa?” Imelda balik bertanya karena bingung.


“Lihat, itu kamu. Itu, benda kenyal seperti bola itu loh!” ucap Putra mengarahkan pandangannya ke bagian dada.


“Oh, apa kamu melihatnya?” celetuk Imelda spontan membelakangi Putra.


“Tentu saja. Ta-tapi nggak banyak kok, hanya benda kecil yang menonjol,” sahut Putra malu-malu.


“Kalau gitu aku pergi mandi dulu!” pamit Imelda, kedua kakinya melangkah cepat menuju kamar miliknya di lantai 2.

__ADS_1


Putra menghela nafas lega, tangannya terus mengusap dadanya untuk menetralkan ritme debaran jantungnya tak karuan. Merasa sudah cukup tenang, Putra memutuskan untuk pergi ke dapur, membuat sarapan dan teh untuk mereka berdua sebelum berangkat kerja.


30 menit kemudian.


Putra sudah selesai masak, Imelda juga sudah selesai mandi dan duduk bersama Putra di kursi makan. Sejenak rasa bahagia menyelimuti hatinya masih berkabut. Detik selanjutnya kejadian tadi malam membuat hati Imelda kembali berkabut hingga kabut tersebut memenuhi dadanya. Terasa sesak menahan tangisnya, akhirnya Imelda menumpahkannya dihadapan Putra tanpa rasa malu.


“Hiks, hiks, hiks!” tangis Imelda menundukkan kepalanya, kedua tangannya terus mengusap air mata dan ingus keluar bersamaan.


“Kamu kenapa?” tanya Putra kaget.


Putra spontan berpindah duduk di sebelah Imelda, memutar kursi Imelda menghadap dirinya. Tangan tegap itu menaikkan dagu Imelda, hingga terlihatlah wajah cantik itu menangis tersedu-sedu.


“Kamu kenapa menangis?” tanya Putra, tangannya mengusap air mata di kedua pipi mulus dan kenyal Imelda.


“Ke-kenapa takdir tidak pernah memberikan aku sebuah kebaikan. Baru saja aku merasakan indahnya dicintai kembali. Eh, Allah malah mengambil mu dan memberikanmu kepada orang lain. Apa aku dilahirkan di dunia tidak boleh merasakan kebahagian?” sahut Imelda di sela isakan nya.


Putra tidak menjawab, ia menarik tubuh Imelda jatuh pada pelukannya, membiarkan wajah itu menempel di bidang dadanya.


“JAWAB AKU! Apa kamu beneran akan meninggalkan aku dan menikah dengan gadis itu?” tanya Imelda mendorong bidang dada Putra sampai pelukan terlepas.


“Melihat aku berada di rumah kamu, sepertinya kamu tidak perlu mendengar jawabanku,” sahut Putra tenang, tangannya masih mengusap air mata di kedua pipi Imelda.


“Apa kamu menolak perjodohan itu?” tanya Imelda, tangisnya mulai redah, sesekali hanya terdengar isakan keluar dari bibirnya.


“Perjodohan itu sebenarnya tidak ada. Fuji mengatakan hal itu karena ia berpikir jika aku memiliki rasanya padanya. Fuji sebenarnya sudah dijodohkan dengan pria lain, ia ke sini hanya ingin mengucapkan salam perpisahan, dan mengundang kita untuk datang ke acara pernikahannya minggu pertama di bulan depan,” sahut Putra menjelaskan.


“Benarkah itu?” tanya Imelda memastikan.


“Tentu saja. Kamu harus ingat, wanita yang akan aku nikahi itu adalah kamu. Bukan wanita lain,” sahut Putra membuat rasa sakit di hati menghilang.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2