
Suami-istri tersebut telah di tahan di kantor pihak berwajib atas pembunuhan berencana dan kasus penipuan karena berpura-pura mengaku sebagai kedua orang tua Putra.
Karena cepat menuju rumah sakit, Putra jadi mendapatkan penanganan dan perawatan dengan cepat tanpa harus mengeluarkan banyak darah.
.
.
Di ruangan rawat inap VIP.
Imelda terduduk lemah di samping ranjang rawat inap Putra. Tangannya terus menggenggam erat tangan Putra, seolah tak ingin melepaskannya.
“Siapa yang sudah berani melakukan hal ini kepada kamu?” tanya Imelda dengan sorot mata sendunya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu siapa yang melakukan hal ini. Semuanya aku serahkan kepada pihak berwajib,” sahut Putra lirih.
“Aku harap pelakunya bisa segera di tangkap,” gumam Imelda, air matanya terlihat menetes, membasahi kedua pipinya.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Putra sembari menghapus jejak air mata di kedua pipi mulus sang istri.
“Bagaimana aku tidak menangis saat melihat peluru sempat bersarang di perut sang suami,” sahut Imelda dengan suara serak menahan tangis.
“Yang penting sekarang aku baik-baik saja, pelurunya juga telah di ambil dari perut ini,” ucap Putra, tangannya mengelus puncak kepala Imelda. “Jangan nangis lagi dong, sayang. Kalau kamu menangis seperti ini. Wajah kamu terlihat lucu,” tambah Putra membujuk Imelda agar tidak menangis lagi.
Imelda tertawa, kemudian ia menghapus jejak air mata di kedua pipinya.
“Kamu sedang menggombal?” tanya Imelda mulai ceria.
“Tidak menggombal. Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya kepada jandaku ini,” sahut Putra jujur.
“Untung di sini tidak ada Aluna. Kalau Aluna sempat mendengarnya, pasti dia cemburu. Ingin di puji juga,” celetuk Imelda mulai sedikit bercanda.
“Oh iya, Aluna dimana?” tanya Putra baru menyadari jika anak perempuan kesayangannya itu tidak ada di dalam ruangan.
“Kebetulan, saat aku mendapatkan kabar buruk dari kamu. Maya dan Rihana masih di rumah. Jadi mereka yang menjaga Aluna. Malam nanti Maya dan Rihana akan membawa Aluna ke sini,” sahut Imelda menjelaskan.
“Mereka berdua baik, ya. Walau sedikit genit dan centil,” gumam Putra menyadari kebaikan Maya dan Rihana.
“Sebenarnya semua janda-janda di kompleks itu baik. Tapi, karena alasan masa lalu membuat mereka semua menjadi seperti itu. Sedikit nakal dan genit. Padahal aslinya tidak seperti itu,” jelas Imelda singkat.
__ADS_1
“Iya, aku mengerti,” angguk Putra. Tangannya kembali membelai puncak kepala Imelda, lalu berkata. “Sudah jam 2, sebaiknya kamu pulang saja. Istirahat dan makan di rumah. Balik ke sini malam atau sore tidak masalah,” tambah Putra menyuruh Imelda pulang ke rumah karena merasa kasihan melihat Imelda harus menemaninya di rumah sakit seorang diri.
“Sudah tugas seorang istri menemani suami saat sang suami sedang sakit. Kamu tenang saja, ya!”
“Karena kamu tidak ingin pulang, maka aku akan menghukum kamu dengan cara temani aku tidur di sini,” ucap Putra, tangannya menepuk ranjang rawat inap kosong di sebelahnya.
“Itu ranjang hanya sisa 1 meter dari kamu. Ini juga rumah sakit, ramai orang lalu lalang. Gimana bisa kamu dengan santainya menyuruh aku untuk tidur di sebelah kamu,” protes Imelda.
“Kalau kamu tidak mau, maka kamu harus pulang!” tegas Putra mengancam.
Dengan terpaksa, Imelda beranjak dari duduknya, naik ke atas ranjang rawat inap, merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Putra.
“Sudah puas?” tanya Imelda menatap wajah gagah tersebut di penuhi bulu halus.
“Belum,” sahut Putra mulai menjahili Imelda.
“Belum! A-apa lagi yang kamu inginkan?” tanya Imelda mulai curiga.
“Kamar ini seperti hotel, ya. Tenang gimana gitu,” gumam Putra mulai aneh.
“Terus?”
“Ke-kenapa kamu menutupi tubuhku juga?” tanya Imelda panik.
“Aku ingin minta peluk dan sedikit menyelamkan wajah ini di dua gunung kembar kamu,” bisik Putra mengejutkan Imelda.
“Ka-kamu kenapa bisa berpikir mesum seperti itu di tempat ini? Ka-kamu itu masih sakit, loh!” cetus Imelda mulai gugup.
“Yang sakit itu hanya perutku, bukan lainnya. Gimana, mau, ya? Kalau di rumah nanti kita di ganggu Aluna. Aku bukan ingin melakukan hal itu, aku hanya ingin bermanja-manja saja untuk meningkatkan imun di dalam tubuh ini,” rayu Putra mulai genit.
“Baiklah, demi kamu bisa segera sembuh aku akan membuka kancing baju gaun ini,” ucap Imelda pasrah.
Tangan Imelda mulai bergerak membuka kancing baju gaunnya, terlihatlah sedikit demi sedikit kulit kenyal bagian atas. Namun, Putra segera menahan tangan Imelda, mengancing kembali baju gaunnya dan memilih memeluk Imelda dengan sangat erat.
Lagi dan lagi, perbuatan aneh Putra membuat Imelda terkejut.
“Ke-kenapa?” tanya Imelda dalam pelukan hangat Putra.
“Aku tidak menyangka kamu akan menuruti semua permintaanku. Sekarang cukup jelas bagiku jika kamu benar-benar wanita yang sangat baik yang telah Allah kirimkan kepadaku setelah aku kehilangan kedua orang tuaku,” ucap Putra, ia pun memberikan ciuman di dahi Imelda, kemudian kembali memeluk tubuh Imelda dengan sangat erat.
__ADS_1
“Kamu juga lelaki terbaik yang pernah aku miliki. Putra, berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkanku jika suatu saat aku membuat kesalahan kecil,” cetus Imelda membuat janji.
“Maaf, aku tidak bisa berjanji akan hal itu. Aku adalah manusia yang memiliki perasaan labil. Tapi, aku akan berusaha membuat diriku menjadi pria sekaligus suami yang pantas kamu dan anak-anak kita nanti banggakan suatu hari nanti,” sahut Putra menolak janji dan membuat sebuah alasan.
“Terima kasih,” terima kasih Imelda sambil membalas pelukan Putra.
“Kenapa tiba-tiba aku ingin segera pulang ke rumah. Rasanya aku ingin melahap kamu dari atas sampai bawah tanpa membiarkan kamu bernafas sedetikpun,” ucap Putra mulai menggoda sang istri.
“Jangan seperti itu dong. Gimana kalau nanti aku tidak bisa berjalan?” protes Imelda dengan polosnya.
“Aku gendong,” sahut Putra santai.
“Terus, Aluna gimana?” tanya Imelda mengkuatirkan Aluna.
“Kita titip sama tante Maya dan Rihana,” sahut Putra sekali lagi dengan santai.
“Ish! Kamu ini adalah Papa sambung yang jahat!”
Putra hanya tertawa sambil terus menciumi seluruh wajah Imelda.
Di tengah-tengah kemesraan mereka, ada seorang pria memakai masker hitam telah berdiri cukup lama memandang dari celah kecil pintu ruangan. Pria itu juga terlihat memainkan pisau lipat.
“Awas saja kamu!” gumam pria berkumis tipis itu dari balik masker miliknya, lalu melangkah pergi dari depan ruangan rawat inap Putra.
Menyadari ada seseorang baru saja pergi dari depan ruangannya. Putra segera menutup seluruh tubuh Imelda dengan selimut. Kemudian ia duduk, menatap tajam ke pintu bagian atas transparan itu.
“Kenapa kamu menutup ku seperti ini?” protes Imelda mengeluarkan sedikit kepalanya dari dalam selimut.
“Tidak apa,” sahut Putra berbohong. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya, dan memeluk Imelda dengan sangat erat lalu memberikan sebuah bantal di bagian punggung Imelda.
“Kenapa kamu menaruh bantal di punggungku?” tanya Imelda penasaran.
“Aku hanya ingin kita lebih lengket lagi. biar seperti pakai lem!” sahut Putra kembali.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung