
Malam berlalu begitu cepat.
Pagi itu, setelah sarapan bersama dengan Imelda dan Aluna. Putra meminta izin untuk berangkat ke kantornya pagi-pagi sekali dengan alasan ada klien mau datang berkunjung.
Mobil telah melaju dengan kencang menuju kantor kecil miliknya. Karena Putra pergi pagi-pagi sekali, jalan tidak terlalu ramai sehingga membuatnya bisa menempuh kurang lebih 1 jam.
Terparkir rapih sudah mobil Putra di sebelah mobil jeep berwarna merah maroon.
“Rupanya pria ini tepat waktu juga,” gumam Putra sambil membuka seatbelt dan turun dari mobilnya.
“Selamat pagi Pak,” sapa kedua satpam penjaga pintu utama.
“Pagi,” sahut Putra sambil melangkah cepat.
Saat melewati meja resepsionis, Lina berkata. “Pak, tuan bernama Dynamic telah menunggu di dalam.”
“Terima kasih Lina. Lanjutkan pekerjaan kamu dengan benar, jangan biarkan orang lain masuk tanpa meminta izin. Dan katakan kepada semua penjaga untuk berjaga dengan ketat,” sahut Putra sambil berjalan dan memberi perintah.
“SIAP!”
Lina langsung menekan tombol perintah. Seluruh penjaga terlihat langsung sigap memantau sekeliling ruangan.
Sesampainya di ruang pertemuan.
Putra masuk, mengunci pintu dan berjalan menuju sofa dimana seorang pria suruhan atau sebut saja Dynamic telah duduk santai di sana.
“Pagi Bos muda yang sangat tampan,” sapa Dynamic dengan bibir tersenyum manis.
“Pagi juga tuan Dynamic,” sahut Putra sambil mendudukkan dirinya di sofa single tepat di depan Dynamic.
Dynamic membuka laptop miliknya, dan menyambungkan alat perekam ke laptop. Tangannya juga mengulurkan sebuah airpods kepada Putra.
“Untuk apa?” tanya Putra penasaran.
“Tempelkan saja dulu di salah satu telinga Bos,” sahut Dynamic.
Putra mengambil dan menempelkannya di lubang telinga.
Dynamic menghidupkan laptop miliknya, kemudian menekan sebuah video rekaman miliknya tadi malam saat di hotel.
“Vidio apa itu? Kenapa kamar itu terlihat sagat gelap dan hanya terlihat 6 pasang sepatu di dalamnya,” tanya Putra penasaran.
“Kamar itu memang sangat gelap karena lampu tidak di nyalakan. Tapi, kerja dari kamera video ku sangat canggih. Lihat dan tonton saja dulu,” sahut Dynamic.
Rekaman video tersebut telah di putar, terlihat dari awal video, Dynamic sengaja menjatuhkan tubuhnya di hadapan Mimi. Namun, saat perekam video di arahkan ke dalam kamar. Terlihatlah wajah dari sang pelaku.
“Hentikan saat sorotan ke seorang pria sedang duduk tadi. Lalu zoom, kan video tersebut,” perintah Putra.
“Baik bos!” sahut Dynamic menuruti, menghentikan rekaman dan zoom gambar pria itu.
Putra mengernyitkan dahinya ketika mengetahui dalang di balik ini semua benar-benar orang terdekat Imelda.
“Benar dugaanku. Ternyata pria itu adalah—” gumam Putra terhenti saat Dynamic menggoyangkan ponsel miliknya.
“Tunggu dulu. Bos harus mendengarkan rekaman suara yang satu ini,” sela Dynamic.
“Rekaman apa lagi itu?” tanya Putra penasaran.
“Sebelum menekannya aku sarankan debaran jantung Bos harus stabil. Karena pembukaan suara akan terdengar cukup menggairahkan,” pesan Dynamic.
“Di kedua telingaku hanya suara Imelda yang membuatku gairah sampai ke tingkat dewa,” tepis Putra dengan wajah datarnya.
“Iya, ia. Siapa sih, yang tidak mengenal istri bos Putra. Seorang janda aduhai!” ucap Dynamic membenarkan.
__ADS_1
“Jangan berpikir yang macam-macam kamu!”
“Tidak, bagaimana mungkin aku berpikir macam-macam saat membahas istri Bos,” sahut Dynamic cari aman.
“Ya sudah, kalau gitu aku ingin mendengarkan rekaman suara tersebut,” ucap Putra mengalihkan pembicaraan.
“Baik,” sahut Dynamic menekan tombol di tengah rekaman suara, sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Isi rekaman suara dari kamar hotel Mimi:
“AAA…AAA..” teriak Mimi.
“Apa kau suka dengan cara aku memainkan lidahku?” tanya pria dengan suara begitu familiar itu.
“Su..ka. A…aku mau lagi,” sahut Mimi dengan terlihat susah berbicara.
Selama hampir 1 jam rekaman suara itu hanya terdengar mesum dan terdengar suara olah raga begitu familiar. Membuat Putra terus mengerutkan dahi dan sesekali melepaskan airpods dari lubang telinganya.
Setelah selesai melakukan hubungan intim, terdengarlah suara Mimi dan pria itu berkata.
“Bagaimana dengan tugasmu?” tanya pria itu.
“Sangat sulit. Semua janda-janda di sana benar-benar mengagumi Putra, bahkan mereka terlihat seperti sedang melindunginya. Bukan menyukainya,” sahut Mimi.
“Tentang Imelda, bagaimana reaksinya saat melihat kamu?”
“Wanita itu terlihat lemah, padahal dia sangat teliti dan pintar. Bahkan aku saja terlihat begitu sulit untuk mengelabuinya. Wanita itu benar-benar licik,” sahut Mimi.
“Kamu benar. Maka nya aku menyukai wanita itu daripada istriku sendiri.”
“Dasar tua, tidak suka dengan istri. Kamu malah bermain gila dan ingin menculik keponakanmu sendiri. Tidak waras!” umpat Mimi.
“Aku peringatkan kepada kamu untuk tidak berkata seperti itu lagi. Kalau tidak, maka aku akan membunuhmu di sini!” ancam pria itu.
“Kalau gitu buat Putra segera tidur dengan kau. Biarkan Imelda mengalami kesedihan dan patah hati atas pengkhianatan untuk yang kedua kalinya!”
Merasa sudah cukup mendengar semua celoteh Mimi dan pria itu. Putra segera melepaskan airpods dari telinganya, melemparkannya ke Dynamic.
Dynamic menangkapnya dengan cepat, ia pun duduk, menatap wajah suram Putra.
“Gimana, awal pembukaan yang nikmat bukan?” tanya Dynamic bergurau.
“Suara wanita yang berpura-pura menikmatinya,” sahut Putra cepat.
“Ternyata bos paham juga,” gumam Dynamic mengangguk.
“Wanita itu sungguh-sungguh liar dan licik. Aku harus hati-hati saat berdekatan dengannya,” gumam Putra cemas.
“Wajah bos terlihat cemas. Apakah bos terlihat sedang mengkuatirkan sesuatu?” tanya Dynamic menyadari perubahan mimic wajah Putra.
“Aku tidak mencemaskan diriku. Aku hanya mencemaskan Imelda. Pria tua itu dan anaknya sama saja!” gerutu Putra.
Dynamic mengangguk.
“Bagaimana dengan keadaan sekitar kompleks gudang tak terpakai itu?” tanya Putra mengingatkan.
“Awalnya orang-orang dari pria tersebut ingin meletakkan jebakan di sekitar kompleks gudang itu. Tapi sekarang sudah aman, karena aku sudah menyuruh anak buahku untuk selalu datang tepat waktu dan berjaga ketat di sana,” sahut Dynamic.
“Syukurlah, tidak sia-sia aku membayar kamu dengan nilai tinggi,” gumam Putra tenang.
“Aku dengar dari salah satu anak buahku, kalau sepasang suami-istri yang berpura-pura menjadi orang tua kandung bos sudah meninggal dunia di dalam sel tahanan akibat memakan makanan di beri racun,” ucap Dynamic mengejutkan Putra.
“Ke-kenapa kabar itu tidak sampai ke telingaku? Dan, dari siapa kamu mendengarkan kabar itu?” tanya Putra penasaran.
__ADS_1
“Bos lupa siapa aku,” sahut Dynamic sombong.
“Aku serius, cepat katakan!” desak Putra.
“Tentu saja dari anak buahku yang berpura-pura masuk di sana untuk memantau keadaan sepasang suami-istri tersebut seusai dengan permintaan bos,” sahut Dynamic menggantung.
“Kamu memang hebat. Tapi, aku butuh kronologis yang jelas!”
“Oh! Begini ceritanya. Satu jam setelah bos memberikan perintah, aku mengerahkan salah satu anak buahku untuk berpura-pura membuat masalah, dan akhirnya di jebloskan di dalam sel yang sama. 1 hari setelah mereka masuk ke dalam sel tahanan yang sama. Sepasang suami-istri tersebut mendapatkan kunjungan dari seseorang yang mengaku kerabat dekat. Bertemulah mereka di sana. Kerabat tersebut membawakan makanan untuk sepasang suami-istri tersebut. Memaksa sepasang suami-istri tersebut untuk makan di tempat. Selesai sudah sepasang suami-istri ini makan, kerabatnya itu pergi dengan membawa kembali kotak bekal mereka bawa. 30 menit berlalu, suami-istri tersebut kembali masuk ke dalam sel tahanan, sejenak mereka berbincang-bincang dengan anak buahku. Menceritakan semuanya di sana, menit ke 45, tubuh suami-istri tersebut mengalami kejang hebat, hingga mengeluarkan buih. Dan lebih parahnya lagi, semua perbuatan jahat itu adalah tuan mereka sendiri,” jelas Dynamic panjang lebar mengingat penjelasan dari anak buahnya.
“Sungguh manusia yang buruk,” gumam Putra kesal.
“Kalau tentang bos yang tidak di beri kabar berita kematian suami-istri tersebut, aku rasa ada campur tangan dari pria itu. Bos tahu, kan gimana kalau uang sudah berjalan dan sampai ke tangan orang yang salah. Maka semuanya akan terasa indah,” tambah Dynamic kembali.
“Kamu benar,” angguk Putra.
Dynamic berdiri, tangan kanannya menggenggam laptop.
“Karena semua urusan aku telah selesai, maka aku permisi dulu. Sampai jumpa nanti malam, bos!” pamit Dynamic.
“Terima kasih. Semoga semuanya lancer sampai nanti malam,” ucap Putra sembari berdiri.
“Tentu saja,” sahut Dynamic dengan wajah sombong.
Putra mengantar kepergian Dynamic. Namun, langkah kaki Putra dihentikan oleh salah satu satpam.
“Ada apa?” tanya Putra berhenti di depan meja resepsionis.
“Sebaiknya Bapak harus kembali ke ruangan,” sahut satpam menggantung.
“Kenapa, ada apa ini?” tanya Putra semakin penasaran.
“Paling ada seseorang yang sedang mengintai Kantor mini kamu ini,” cetus Dynamic santai.
“Benar, ada sebuah mobil Kijang berwarna hijau tua di luar sana. Kami tidak bisa melihat jelas siapa orang di dalam mobil tersebut. Tapi kami sangat yakin jika orang-orang di dalam adalah orang yang akan berbuat jahat kepada Bapak,” ucap satpam membenarkan ucapan Dynamic.
Dynamic berbalik, ia juga mengajak Putra untuk berbalik badan.
“Apa boleh buat. Kalau memang suruhan pria itu ada di luar, kita harus kembali masuk ke dalam ruangan kamu. Bukannya aku takut, tapi aku hanya ingin cari aman dan wajah aku tidak diketahui banyak orang nanti,” cetus Dynamic.
“Tapi, buat apa mereka terus memantau kantor kecil ku ini?” tanya Putra serius.
“Aku pikir bos tajir yang tampan dan bapak mencuri hati wanita ini adalah lelaki yang pintar. Ternyata bos muda ini adalah lelaki yang bodoh!” umpat Dynamic, tangannya menggenggam pergelangan tangan kiri Putra. “Daripada terus berdiri di sini, lebih baik kita masuk dulu. Jangan lupa suguhkan aku kopi dan makanan ringan di dalam,” tambah Dynamic menarik Putra untuk kembali ke ruangannya.
Dengan terpaksa Putra mengikuti langkah kaki Dynamic menuju ruangan pertemuannya kembali.
.
.
Di dalam mobil Kijang.
Di dalam mobil Kijang tersebut terdapat 6 orang lelaki bertubuh kurus, besar, dan gemuk dengan wajah tidak terurus.
“Sepertinya kondisi di sini masih stabil. Tidak ada tanda-tanda dari seorang ketua yang telah membunuh beberapa teman kita di sini,” cetus pengemudi Kijang.
“Aku rasa pria ini tidak akan mampu membayar pembunuh bayaran itu. Karena pembunuh bayaran cukup terkenal memiliki tarif cukup mahal,” ucap seorang pria duduk di kursi penumpang samping kemudi.
“Kamu benar. Daripada membuang waktu menunggu di sini, lebih baik kita bersenang-senang dulu,” sahut pengemudi Kijang.
Pria tersebut menghidupkan mesin mobilnya, dan melaju meninggalkan lingkungan kantor mini milik Putra.
bersambung
__ADS_1