Kompleks Janda

Kompleks Janda
53. Di Buntuti


__ADS_3

Keesokan siang


Pukul 01:20 siang, karena telah meminta izin ke pihak rumah sakit untuk segera pulang karena ada urusan harus segera di selesaikan. Akhirnya Putra di izinkan pulang. Selesai sudah membereskan barang dan membayar semua biaya selama masa perawatan di rumah sakit. Akhirnya Imelda dan Putra pulang menuju rumah mereka.


Mulai keluar dari rumah sakit, sampai mobil masuk ke dalam gang kompleks. Mobil Avanza berwarna hitam terus mengikuti mereka dari belakang. Hal itu di sadari oleh Putra.


Selesai menurunkan Imelda ke depan gerbang rumah, Putra meminta izin kepada Imelda untuk pergi sebentar keluar, karena ingin membeli sesuatu untuknya dan juga untuk Aluna.


Mobil milik Putra kini keluar dari gang kompleks. Mobil Avanza berwarna hitam tersebut mengikuti mobil milik Putra dari belakang.


Putra mengambil ponsel miliknya, memberi pesan singkat kepada seseorang. Kemudian memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


“Siapa yang dari tadi mengikuti kami?” gumam Putra.


Putra menambah kecepatan laju mobilnya di jalan tidak terlalu ramai. Mobil Avanza tersebut juga mempercepat laju kendaraannya, mengikuti arah jalan di lalui Putra dari belakang.


1 jam berkendara, akhirnya mobil Putra sampai di sebuah gudang komplek. Mobil Avanza tersebut tetap mengikuti Putra, berhenti dengan jarak mobil 10 meter dari mobil Putra.


Putra keluar dari mobilnya, mengalihkan perhatian dengan berpura-pura menelepon seseorang.


Benar saja, mobil Avanza tersebut perlahan mendekati mobil Putra. Dengan jarak 5 meter, keluar 3 orang pria memakai pakaian serba hitam, di masing-masing tangan memegang senjata tajam.


“Siapa kalian?” tanya Putra menyadari kedatangan mereka.


“Siapa kami tidak penting bagimu. Kami di sini hanya di tugaskan untuk menghabisi kamu!” sahut pria berdiri di tengah.


“Apa alasannya?” tanya Putra kembali.


“Karena kau telah menikah dengan wanita yang di sukai oleh tuan kami!” sahut lainnya. Lalu tangannya melambai, memberi kode kepada 2 pria lainnya. “CEPAT! KITA HABISI PRIA INI!” lanjut pria tersebut memberi perintah.


“HIAK!” teriak seorang pria berdiri di sisi kirinya.


Bug! Bam!


Swiissh!


Sraaakk!

__ADS_1


3 pria misterius melayangkan tendangan, pukulan, dan mengayunkan pisau ke tubuh Putra. Namun, Putra dengan siap mengelak serangan ke-3 pria tersebut dengan cara mengambil pisau dari salah satu tangan pelaku.


30 menit bertarung, akhirnya ke-3 pelaku mendapatkan luka parah. Sedangkan Putra mendapatkan beberapa goresan di lengan kirinya.


3 pria misterius berdiri dengan saling menumpu satu sama lain, karena tubuh mereka di penuhi luka di buat oleh Putra.


“Kurang ajar! Masih bisa kamu membalas serangan kami. Maka dari ini bersiaplah untuk menerima kehancuran besar dari tuan kami!” ancam salah satu pria misterius tersebut.


“Katakan kepada tuan kalian jika aku menunggunya besok malam di komplek gedung ini. Bilang padanya, tidak perlu bersembunyi terlalu lama di tempat lembab dan jorok seperti itu. Karena aku telah mengetahui siapa tuan kalian!” tegas Putra memberitahu. Membuat ketiga pria misterius terkejut.


“Ka-kamu…” ketiga pria misterius itu berlari tunggang-langgang masuk ke dalam mobil Avanza, dan melajukan nya dengan kecepatan tinggi.


Selesai sudah membereskan ke-3 pria misterius itu. Putra masuk ke dalam mobil, ia melihat lengannya terluka.


“Pasti Imelda cemas nanti,” gumam Putra. Ia menghidupkan mobilnya, melajukan mobil tersebut ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu agar Imelda dan Aluna tidak terlalu curiga padanya.


1 jam setelah selesai berbelanja.


Mobil Putra masuk ke dalam gerbang otomatis, dan memarkirkannya dengan rapih di garasi.


“Om Putra!” teriak Aluna tiba-tiba, berlari dari dalam rumah dengan kedua tangan di rentangkan. Lalu memeluk kedua kaki Putra karena hanya itu bisa di gapai oleh Aluna. “Kata Mami, Om Putra pergi membelikan makanan untuk Aluna. Apakah itu benar Om?” tambah Aluna kembali bertanya.


Aluna menggeliat dalam gendongan. “Om turunkan Aluna. Aluna mau menunjukkan ini kepada Mami,” pinta Aluna ingin turun.


“Jangan lari-lari, ya,” ucap Putra setelah ia menurunkan Aluna.


Aluna mengangguk, ia berjalan sambil sesekali menaikkan satu persatu kakinya dengan riang.


“Gemes banget sih, Aluna. Aku jadi tidak sabar ingin membuat anak dengan Imelda,” gumam Putra sambil melangkah membawa semua belanjaan masuk ke dalam rumah.


Baru saja memasuki ruang tamu, langkah kaki Putra harus terhenti karena Imelda menghadang jalannya dengan berkacak pinggang.


“Kamu kenapa?” tanya Putra heran.


“Bisa kamu jelaskan kenapa baju yang Aluna pakai tadi di penuhi darah?” tanya Imelda menjinjing baju Aluna.


Sejenak Putra terkejut, ia lupa jika saat menggendong Aluna kedua lengannya terluka dan darah masih mengalir. Tidak ingin membuat Imelda cemas. Putra dengan cepat menurunkan plastik belanjaan miliknya, mengeluarkan satu persatu barang belanjaannya.

__ADS_1


“Lihat, tadi aku membelikan ini karena ada discoun besar-besaran,” celetuk Putra mengeluarkan bungkusan nugget.


“Aku juga tadi membeli pembersih ini karena benar-benar sangat murah!” tambah Putra mengeluarkan banded pembersih ruangan.


Bukannya senang dibelanjai kebutuhan rumah tangga begitu banyaknya. Imelda malah berbalik arah, melangkah pergi dengan raut wajah kecewa meninggalkan Putra.


Putra segera mengambil bungkusan barang belanjaannya, mengejar Imelda telah berlari menuju kamar mereka.


“Imelda, tunggu!” teriak Putra menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar, menurunkan plastik barang belanjaannya dan masuk ke dalam kamar tidur mereka.


Terlihat Imelda sedang duduk dengan raut wajah sedih di tepian ranjang. Sesekali jari-jari mungil itu terlihat menghapus sisa air mata di kedua pipinya.


“Maafkan aku, ya!” maaf Putra setelah ia menundukkan dirinya di samping Imelda.


“Kamu kenapa bisa mendapat luka baru seperti itu?” tanya Imelda di sela tangisannya.


“Orang itu masih terus mengintai ku,” sahut Putra singkat.


“Siapa orang itu, dan apa alasannya ingin membuat kamu terluka?” tanya Imelda lirih.


“Alasannya tidak logis dan itu tidak perlu di bahas,” sahut Putra lagi dan lagi tidak ingin memberitahu sebenarnya kepada Imelda.


“Aku ini istri kamu. Aku tidak ingin kamu terus-menerus terluka seperti ini. Katakan padaku siapa orang itu?” desak Imelda di sela tangisannya.


“Kamu cukup mengenalnya. Dan kamu juga pasti tidak akan percaya setelah aku menyebutkan nama tersebut.”


“Siapa, siapa orangnya, katakan padaku. Putra!” desak Imelda kembali.


“Maaf, aku tidak bisa mengatakannya sebelum aku berhasil menangkap orang tersebut,” sahut Putra tenang.


“Kamu kejam! Kamu tega merahasiakan ini kepadaku!” protes Imelda sambil memukul pelan bidang dada Putra,


Putra tidak menjawab, ia hanya menari tubuh Imelda dan memeluknya.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2