Kompleks Janda

Kompleks Janda
45.


__ADS_3

Sesampainya di rumah.


Maya, Rihana dan Imelda duduk bersama di kamar mereka. Sementara Putra sedang mengajak Aluna jalan-jalan keliling kota Y karena Aluna terus merengek minta pergi jalan-jalan sore.


“Janda hiper, kenapa tadi kamu bilang ‘pergilah, aku tidak keberatan’ dengan wajah tersenyum seperti monster?” tanya Maya menyesali jawaban Imelda saat Putra bertanya apakah boleh ia menemani Linda pergi ke acara pesta pernikahan mantan suami Linda.


“Selagi masih positif, aku rasa itu tidak masalah. Aku juga yakin Linda dan Putra tidak akan melakukan hal mesum yang seperti kalian pikirkan,” sahut Imelda santai, meski dalam hatinya ia pun sebenarnya sedang memikirkan hal buruk.


“Adoh! Kenapa kau polos kali, janda hiper. Apa yang kau pikir janda bohay tadi itu tidak akan melakukan hal mesum kepada Putra? Apa kau tidak pernah mendengar obat perangsang? Kau juga tidak pernah mendengar jika seorang pria akan mudah tergoda saat wanita terus menggesekkan tubuhnya? Haih!” celetuk Rihana berulang kali ia mendengus kesal.


“Tenang saja, aku sangat yakin dengan Putra. Aku yakin Putra tidak akan melakukan hal gila yang tidak kita inginkan,” sahut Imelda kembali menenangkan Maya dan Rihana.


“Oh, nggak bisa. Sampai kapan pun aku tidak akan rela melepaskan Putra untuk pergi berduaan dengan janda lain!” cetus Rihana. Lirikan tajam mengarah ke Imelda. “Sama kau saja sebenarnya aku belum rela, apalagi sama janda baru. Betumbuk pun aku mau!” tambah Rihana menggeram.


Di tengah-tengah perdebatan Rihana, Imelda, dan Maya. Suara langkah dari sepatu bersuara milik Aluna terdengar memasuki ruang tamu. Di susul suara imutnya.


“MAMI…MAMI!” teriak Aluna berlari mendekati Imelda.


“Iya, ada apa sayang?” tanya Imelda sembari membenarkan poni menutupi bagian wajah Aluna.


“Saat Om Putra menemani Aluna beli es krim di warung. Kakak-kakak cantik ikut membelikan Aluna es krim dan jajanan lainnya. Jadi, jajan dan es krim Aluna banyaaak sekali,” curhat Aluna membuat hati Rihana dan Maya memanas.


“Wah, berarti Aluna tidak usah beli jajan dan es krim lagi dong!” sahut Imelda.


Benar saja kata Aluna, Putra masuk ke ruang tamu dengan beberapa bungkusan plastik berisi makanan dan es krim. Putra meletakkannya di atas meja, lalu ia tersenyum kepada Imelda.


Aluna dengan cepat mendekati Putra, dan berdiri di sampingnya.


“Om, om! Tadi kakak-kakak itu juga minta foto sama Om, kan? Terus tadi ada juga yang mencium pipi Om karena katanya sedang hamil,” celetuk Aluna polos.


Raut wajah Imelda berubah menjadi suram. Ritme jantung Maya dan Rihana berdebar cepat tak karuan. Rasanya mereka berdua ingin berlari menjumpai wanita-wanita centil telah mengganggu berondong mereka.

__ADS_1


Masih penasaran dengan kelanjutan cerita Aluna, Maya dan Rihana mulai mengajukan pertanyaan.


“Aluna sayang, kalau boleh tahu gimana cara mereka meminta foto kepada Om Putra?” tanya Maya sambil menahan amarahnya.


Aluna bergerak sedikit menjauh dari Putra, dan mulai mempraktekkan gaya wanita-wanita tersebut.


“Gini tante, ‘Aduh! Gemes kali anak yang sedang di gendong. Kalau boleh tahu siapa namanya?’. Gitu kata kakak-kakak itu, tante,” sahut Aluna menjelaskan detail layaknya wanita dewasa.


Imelda melirik sinis.


Putra terdiam dengan raut wajah pucat. ‘Gawat! Imelda bisa salahpaham kalau begini ceritanya. Mana Aluna menceritakannya dengan baik dan sempurna seperti yang terjadi tadi,’ batin Putra sembari meraup kasar wajahnya.


Tidak ingin membuat Aluna ketularan tukang gossip karena ulah Maya dan Rihana. Imelda memilih untuk mendekati Aluna, duduk di lantai sambil membuka satu-persatu bungkusan makanan.


“Kenapa hanya dilihati saja. Mari kita makan bersama! Percuma sudah capek-capek merelakan diri di pegang-pegang banyak wanita demi mendapatkan ini, masak kalian tidak makan. Mari, ayo-ayo di makan!” celetuk Imelda menyindir. Tangannya menarik tangan Putra. “Kamu juga harus di makan. Jangan nggak dimakan, sayang loh hasil pipi kamu yang di cium tidak di makan,” tambah Imelda sengaja.


Maya dan Rihana mendengus kesal. Kecewa dengan sikap Putra terkesan tidak pernah menolak atas ajakan wanita dengan alasan ‘tidak ingin membuat kecewa’, Rihana dan Maya pergi meninggalkan Putra.


Putra mengunci pintu rumah agar Aluna tidak keluar, lalu ia berpamitan kepada Aluna untuk melihat Imelda ke kamar.


Tok tok tok!


Putra mengetuk pintu kamar setengah terbuka milik Imelda.


“Apa aku boleh masuk?” tanya Putra mentap Imelda membelakangi dirinya.


“Masuk saja,” sahut Imelda ketus.


Putra masuk ke dalam kamar dengan perasaan bersalah. Baru saja ingin ikut mendudukkan dirinya di tepi ranjang, Imelda sudah menegurnya terlebih dahulu sehingga membuat bokong Putra menggantung.


“Aku tidak menyuruhmu untuk duduk!”

__ADS_1


Akhirnya Putra berdiri di samping Imelda.


“Kamu pasti marah—”


“Ya ialah aku marah sama kamu. Masa ada seorang wanita membiarkan lelakinya di sentuh oleh banyak wanita. Wanita mana, coba katakana sama aku! Wanita mana yang rela kekasihnya di sentuh wanita lain? bukan sekali, tapi berulang kali. Kalau hanya untuk mementingkan perasaan orang lain, gimana dengan perasaanku? Apa menurutmu perasaanku tidak penting?” sela Imelda hanya sekali tarikan nafas.


“Aku akan berubah,” ucap Putra merendahkan nada suaranya.


“Alah! Yakin bisa berubah? Pria seperti kamu bisa berubah itu mustahil!” celetuk Imelda sepertinya emosinya semakin menjadi.


“Kenapa kamu jadi sangat marah padaku? Aku akui aku salah, tapi beri aku kesempatan untuk tidak melakukan hal salah seperti ini lagi,” Putra mengambil tangan Imelda, berlutut di hadapan Imelda sambil berucap janji. “Aku janji, kasih aku kesempatan sekali ini saja!” lanjut Putra tulus.


“Maaf Putra, aku tidak bisa menerima janji kamu selain kamu sendiri yang menunjukkan padaku dengan bukti perbuatanmu,” tolak Imelda perlahan melepaskan genggaman tangan Putra.


Sebuah bayangan kecil di depan pintu kamar membuat Putra dan Imelda menghentikan percakapan mereka. Sama-sama Imelda menolehkan pandangannya ke arah bayangan mungil semakin dekat ke ranjang.


“Aluna sudah selesai makan jajan dan es krimnya?” tanya Putra sedikit membungkukkan tubuhnya.


Bukan jawaban dari suara lembut Aluna di dengar oleh Putra. Aluna malah menatap Putra dengan seluruh kulit wajahnya di tekuk, dan ada dengusan kecil keluar dari bibirnya seolah dirinya marah kepada Putra.


“Om jahat!” cetus Aluna menekuk wajahnya memandang Putra.


“Ja-jahat kenapa?” tanya Putra bingung.


“Nggak tahu, pokoknya Om jahat karena sudah membuat Mami bersedih!” Aluna memenjat ranjang, memeluk Imelda dari belakang. “Cup cup, Mami jangan nangis, ya!” lanjut Aluna menghujani wajah Imelda dengan ciuman, bekas es krim menepel di seluruh wajah Imelda.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2