Kompleks Janda

Kompleks Janda
49. Janda Baru


__ADS_3

Keesokan paginya.


Ding dong ding dong!


Bel pintu rumah berbunyi kuat.


Imelda baru saja selesai mandi, dan rambut setengah kering berjalan cepat menuju pintu rumah.


“Siapa, ya?” tanya Imelda sedikit berteriak saat mendekati pintu.


“Assalamualaikum. Pagi, Aluna! Ini tante Rihana dan ada tante Maya juga. Kami datang membawakan sedikit makanan untuk sarapan kamu!” teriak Maya mewakili.


Pintu rumah terbuka.


“Wa’alaikumsallam. Eh, ada jeng Maya dan jeng Rihana,” sambut Imelda dari depan pintu rumah.


Maya dan Rihana memandangi Imelda dari atas sampai bawah.


‘Sepertinya janda hiper ini baru selesai mandi wajib,’ batin Rihana melihat ujung rambut Imelda setengah kering.


Maya sendiri terus memantau sekitar jenjang leher Imelda, dan mendapati ada jejak merah di bagian leher sampingnya.


‘Buset, ganas juga ternyata Putra, ya. Iisss, iri kali aku lihat mereka berdua jadinya. Rasanya ingin aja ku culik Putra dan menelanjanginya di dalam kamar,’ batin Maya.


Risih karena di tatap terus oleh Maya dan Rihana. Imelda melambaikan tangannya, membuyarkan tatapan mereka kepadanya.


“Ekhem! Jeng,” panggil Imelda mengejutkan Maya dan Rihana.


“Eh, A-Aluna mana?” tanya Maya pura-pura mengalihkan pandangannya ke pintu.


“Iya, kami rindu sama dia loh!” tambah Rihana mengulurkan kepalanya ke dalam pintu.


Mengerti dengan gerak-gerik Maya dan Rihana. Imelda membuka penuh pintu rumahnya, tangannya juga mengulur ke dalam.


“Gimana sebelum pergi bekerja kita sarapan bareng. Kebetulan Putra sudah memasak makanan cukup banyak untuk pagi ini,” ajak Imelda membuat raut wajah Rihana dan Maya langsung berbinar.


“Serius? Apa kamu nggak cemburu kami makan bersama di dalam?” tanya Maya.

__ADS_1


“Kenapa aku harus cemburu. Bukannya kita di kompleks ini sudah seperti saudara,” sahut Imelda tanpa ragu.


“Kalau gitu aku tidak akan menolak kesempatan ini,” ucap Rihana sembari melangkah masuk ke dalam rumah Imelda, di susul dengan Maya.


Imelda menghela nafas panjang, menutup pintu rumah dan ikutan masuk menuju ruang makan.


Bukannya Imelda tidak cemburu kepada Maya, Rihana atau wanita lainnya. Tapi, Imelda berusaha yakin dan menyerahkan semua keputusan kepada Putra. Imelda juga yakin, kalau Putra bukanlah type seorang suami suka selingkuh, dan bermain gila di belakangnya.


Kalau banyak wanita mengagumi atau menyukai Putra, bagi Imelda itu adalah hal wajar. Karena Imelda tahu jika suaminya itu adalah type pria banyak ingin di miliki oleh wanita.


Di meja makan.


Putra terlihat sedang menyuapi Aluna. Hal itu membuat Maya dan Rihana kembali berdecak kagum kepada Putra.


“Aluna maem apa sayang?” tanya Maya setelah berdiri di samping kursi Putra.


“Makan sop sosis di campur bakso sama daging sapi, tante Maya,” sahut Aluna dengan mulut penuh makanan.


“Kalau tante hari ini membawakan kamu pencuci mulut bubur kacang hijau,” ucap Maya menunjukkan rantang berisi bubur kacang hijau.


“Enak tuh, tante. Kesukaan Aluna,” sahut Aluna memuji.


“Oh!” angguk Aluna karena tidak mengerti.


Rihana jadi terdiam, hatinya sedih karena tidak mendapatkan pujian dari Aluna.


“Sebaiknya tante Maya dan tante Rihana ikut makan bersama dengan kami,” ajak Putra mengarahkan tangannya ke kursi kosong di sisi kiri.


“Iya, tadi Imelda juga sudah mengajak kami,” sahut Maya mendudukkan dirinya di kursi, di susul Rihana.


Setelah selesai membaca doa, Putra, Imelda, Maya, dan Rihana menikmati santap sarapan pagi mereka. Sedangkan Aluna selesai makan langsung pergi ke ruang tamu, bermain di sana sambil menunggu pencuci mulut di bawakan Maya dan Imelda tadi untuknya.


1 jam kemudian.


Putra, Imelda, Maya dan Rihana telah selesai menikmati santap makan pagi. Mereka kini duduk di ruang tamu sambil menikmati makanan di bawa oleh Maya dan Rihana. Saat menikmati santap pencuci mulut, terdengar suara mobil box, dan suara ramai orang di luar rumah Imelda.


Maya dan Rihana penasaran langsung keluar dari rumah, berdiri di depan pagar Imelda. Begitu juga dengan Imelda. Mereka menatap lurus ke mobil box berisi barang-barang perabotan rumah tangga. Di samping itu ada Mama Inces, dan seorang wanita berusia 35 tahun.

__ADS_1


“Sepertinya ada tetangga baru,” ucap Maya memberitahu.


“Terlihat dari raut wajahnya, wanita itu sepertinya seorang janda baru. Wah! Nambah satu lagi saingan kita di sini,” cetus Rihana.


“Kelihatannya lebih genit dari kalian, jeng,” gumam Imelda di dengar oleh Maya dan Rihana.


“Apa? Apa tadi kamu bilang?” tanya Rihana mendekatkan wajahnya ke pipi Imelda.


“Tidak ada, lupakan saja ucapanku yang barusan,” sahut Imelda di sela helaan nya.


“Aku peringatkan samamu. Kali ini kau harus hati-hati. Pernikahan kalian baru seumur ujung kuku. Jangan sampai Putra kepincut sama janda yang satu itu!” tegas Maya memberitahu.


“Tanpa kalian beritahu, aku juga pasti akan berhati-hati dan selalu mengingatkan Putra. Tapi, kita tidak tahu hati, pikiran, dan apa yang diinginkan Putra, kan. Sekeras apa pun kita menjaga pasangan kita untuk tidak selingkuh. Kalau pasangan kita diam-diam main di belakang. Aku bisa apa? Aku hanya bisa menyerahkan Putra kepada Allah,” sahut Imelda santai. Padahal dalam hatinya ia sangat takut Putra melirik wanita lain.


Ingin pindah, tapi rumah di tempati Imelda adalah bekas mendiang kedua orang tuanya. Jadi, mau tidak mau dan apa pun yang terjadi. Imelda tetap tinggal dan menjaga peninggalan sekaligus kenang-kenangan dari mendiang kedua orang tuanya.


Saat fokus memperhatikan tetangga baru. Mama Inces menarik wanita tersebut mendekati Imelda, Maya dan Rihana.


“Eh, ada janda baru saja menikah 2 bulan lalu. Dan ada 2 janda yang belum nikah hingga miliknya lumutan!” sapa Mama Inces dengan ciri khas kipas kecil di tangannya.


“Lemes kali mulut janda satu ini,” gumam Maya.


“Macam kau nggak janda aja, gendut!” celetuk Rihana tanpa rasa takut. Wanita di sebelahnya tertawa.


“Eh, mulut-mulut ember, cocor beber kayak kalian itu seharusnya di jaga. Walaupun aku ini janda. Tapi, aku selalu mendapatkan colokan bagus di setiap malamnya. Nggak macam kalian-kalian di sini. Janda-janda genit yang masih berharap Putra ingin memilih kalian sebagai istrinya!” ejek Mama Inces.


“Alah! Bayar pria semalam hanya 100 ribu dan 50 ribu aja bangga, kau. Macam kami lah. Beli alat untuk coblos-coblos. Ada geriginya, ada yang besar, ada yang…akh! Pokoknya enaklah, nggak takut ketularan penyakit lagi,” cetus Rihana tak mau kalah.


“Oh ya, tapi kamu tidak bisa merasakan semprotan gratis, kan?” ejek Mama Inces kembali membuat Maya dan Rihana semakin memanas.


“Mau semprotan seperti itu? Kecil, ada, semua ada di jual! Makanya jadi janda kalau merasakan hal itu kamu itu harus—” ucapan Rihana terhenti saat mendengar deheman Putra dari belakang.


“Ekhem! Apa tante-tante sekalian tidak sadar kalau Aluna ada di belakang?” tegur Putra berdiri di belakang Aluna, sedang berdiri sambil menengadahkan wajah polosnya tercengang menatap Rihana, Mama Inces dan Maya.


Melihat ketampanan Putra, jantung tetangga baru langsung berdebar kuat, kedua matanya pun memancarkan bunga-bunga kasmaran.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2