Kompleks Janda

Kompleks Janda
57. Sandera Bohongan


__ADS_3

Malam harinya.


Selesai makan malam dan melaksanakan sholat Isya bersama. Putra dan Imelda duduk sejenak di ruang tv bersama dengan Aluna, menonton siaran kartun kesayangan Aluna.


“Sayang,” panggil Putra merendahkan nada suaranya agar tidak kedengaran oleh Aluna.


“Hem, tumben kamu memanggil aku dengan sebutan seperti itu. Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?” tanya Imelda sedikit merayu dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Putra hingga kedua mata mereka saling bertemu.


“Tahu aja. Sebenarnya aku ingin minta izin pergi keluar, sebentar….aja!” sahut Putra meminta izin.


“Aku akan mengizinkan kamu keluar, asal…”


“Asal?”


“Asal kamu pulang dalam keadaan tubuh seperti ini, tanpa luka baru,” lanjut Imelda serius.


Tidak ingin membuat Imelda cemas, Putra mencubit hidung bangir Imelda dan berkata. “Aku janji!”


“Sakit! Jangan cubit lagi kenapa,” protes Imelda mengusap lembut hidung bangir bekas cubitan Putra.


Putra tidak menjawab, ia menghujani Imelda dengan ciuman. Membuat Aluna sedang asik nonton di bawah langsung beranjak dari duduknya dan ikutan mau di cium oleh Putra juga.


10 menit saling gelut memberi ciuman kepada Imelda dan Aluna, akhirnya Putra menghentikan perbuatannya. Beranjak dari duduknya, mengecup dahi Imelda dan Aluna secara berganti, lalu berpamitan.


“Aku pergi, ya!” pamit Putra kepada Imelda dan Aluna.


“Daaa! Hati-hati ya, Om,” sahut Aluna membalas pamitan Putra.


Putra tersenyum, kemudian melangkah pergi meninggalkan Aluna dan Imelda.


Dengan memakai baju kaos dan celana jeans pendek dan jaket kulit, Putra melangkah besar keluar dari dalam rumah menuju mobil miliknya telah terparkir di halaman rumah.


Sambil menelepon Dynamic, Putra melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah.


📲 [“Aku sudah keluar. Kalian bersiaplah!”] perintah Putra sorot mata memandang lurus ke jalan raya terlihat tidak terlalu ramai malam itu.


📲 [“Anak buah dari target sudah datang. Tapi, kami belum bisa melihat dimana pria tua itu.”] sahut Dynamic sembari terus melihat semua gerak-gerik musuh dari teropong miliknya.


📲 [“Baiklah! Kalian harus hati-hati, dalam waktu 30 menit aku akan sampai ke sana.”] ucap Putra lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


Putra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai ke tempat tujuan sebelum 30 menit.

__ADS_1


Sementara itu di salah satu gudang tak terpakai, dari jarak 100 meter Dynamic terus memantau melalui teropong semua gerak-gerik anak buah dari pria itu.


“Bos, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres,” ucap salah satu anak buah Dynamic.


“Maksud kau apa?” tanya Dynamic berhenti melihat dari teropong miliknya, menoleh ke anak buahnya berdiri di belakangnya.


“Sepertinya yang datang itu hanya anak buahnya,” sahut anak buah Dynamic sembari mendekatkan dirinya ke Dynamic mengulurkan teropong kecil dengan infra merah. “Coba bos lihat di dalam mobil seperti ada gadis dan seluruh tubuhnya di pasang bom,” lanjut anak buahnya memberitahu.


Dengan wajah kesal Dynamic merampas teropong dari tangan anak buahnya, melihat dengan jelas ke mobil Kijang berjendela hitam.


“Brengse*k!” umpat Dynamic sembari beranjak dari duduknya, kedua tangannya mengepal erat teropong kecil milik anggotanya.


“Sebaiknya kita harus memberitahu bos Putra untuk berhati-hati karena sepertinya mereka telah mengetahui kita,” usul anak buah itu lagi.


Dynamic menatap satu persatu wajah panik anak buahnya.


“Katakan siapa dari kalian yang menjadi pengkhianat di dalam PEKERJAANKU!” teriak Dynamic sekuat-kuatnya sampai saliva nya menyembur keluar.


Semua anak buah menunduk, wajah mereka terlihat ketakutan.


Dynamic perlahan mendekati anak buahnya, berdiri berhadapan dengan wajah suram.


“Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Mungkin aku saja yang telah lalai dalam menjalankan misi ku saat ini,” cetus Dynamic sengaja.


“Aku akan menghubungi Putra, dan kalian segera bersiap. Jangan lupa untuk beritahu tim penjinak bom segera datang dalam waktu 30 menit, kalau tidak. Katakana pada mereka aku akan memenggal leher mereka semua!” perintah Dynamic tegas.


“Baik bos!” sahut anak buahnya serentak.


Dynamic pun keluar dari dalam gudang tersebut. Menghubungi Putra. Namun, Putra tak kunjung mengangkat panggilan teleponnya, dan ternyata mobil Putra telah terhenti di depan mobil musuh.


“Bodoh kali lah memang sih, Putra ini. Bukannya di angkatnya teleponku. Ah! Coba aku telepon sekali lagi,” gerutu Dynamic kembali menelepon Putra, sembari bersembunyi di gudang lainnya.


5 menit menunggu, setelah Putra terlihat keluar dari dalam mobil. Putra terlihat mengangkat panggilan teleponnya.


📲 [“Ada apa? Aku sudah sampai ini.”] ucap Putra sedikit berbisik.


📲 [“Tahu aku tahu. Yang terpenting saat ini aku ingin mengatakan jika di dalam mobil Kijang itu ada seorang sandera, kamu harus hati-hati karena pria ini sudah merencanakan sesuatu untuk kau.”]


📲 [“Aku mengerti.”] sahut Putra langsung mematikan panggilan telepon Dynamic.


“Iiiss…bodoh kali memang sih, Putra ini!” gerutu Dynamic setelah Putra mematikan panggilan telepon darinya.

__ADS_1


Putra melangkah perlahan, dan terhenti di depan mobil miliknya.


“EKHEM!” dehem Putra sengaja.


Semua musuh berjaga di sekeliling mobil Kijang langsung memutar arah berdirinya mengikuti arah suara Putra.


“Sudah datang?” tanya salah musuh memakai masker scuba loreng.


“Dimana Bos kalian?” Putra balik bertanya.


Bukannya menjawab, mereka semua malah tertawa terbahak-bahak. Puas sudah tertawa, salah satu dari mereka mengeluarkan seorang wanita dari dalam mobil Kijang.


“Kenapa kalian harus membawa sandera?” tanya Putra dengan wajah datarnya.


“Banyak tanya!” teriak salah satu dari mereka sembari memeluk wanita itu dan menodongkan senjata.


Putra tidak mengeluarkan sepatah kata apa pun lagi, ia hanya melihat bom berada di bagian depan wanita itu.


‘Ternyata hanya bom mainan,’ batin Putra setelah menyadari jika bom melekat pada tubuh wanita itu adalah sebuah mainan.


Putra berbalik badan. “Maaf, aku tidak tertarik dengan yang kalian lakukan. Aku datang ke sini hanya untuk—” ucapan Putra terhenti saat wanita sebagai sandera tiba-tiba telah berdiri di belakang Putra, menodongkan senjatanya ke bagian tubuh Putra.


“Kami sudah cukup lama menunggu anak kecil sepertimu di sini,” celetuk wanita itu sambil menarik pelatuknya.


Putra memutar posisi berdirinya, menghadap wanita tersebut, membiarkan ujung senjata wanita itu menempel di dahinya.


“Seharusnya kau membiarkan aku untuk merasa kasihan padamu karena aku berpikir jika kamu adalah sandera mereka. Jika kau sudah melayangkan senjata seperti ini. Jadi, rasa kasihanku kepadamu seketika menghilang,” cetus Putra dengan kedua nanar bola mata mereka saling bertemu.


“Oh ya. Sebelum aku mengeluarkan peluru ini dari tempatnya. Sebaiknya kau dengarkan dulu syarat yang harus aku berikan padamu, agar kau bisa selamat dari peluru ini,” ucap wanita itu.


“Katakan saja,” sahut Putra dengan wajah datarnya.


“Kau harus meninggalkan Imelda, dan bunuh gadis kecil itu!”


Bukannya takut, Putra malah tertawa terbahak-bahak, membuat semua musuh, Dynamic, dan anak buahnya terkejut.


“Benar-benar sudah gila ku rasa bos muda ini,” gumam Dynamic masih menatap gerak-gerik Putra dari teropong mini miliknya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2