
Aku menjadi yatim piatu sejak Ayah dan Ibuku meninggal karena kecelakaan saat aku masih berumur 6 tahun. Saat itu, aku dan kedua orangtuaku sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah setelah habis makan malam di luar. Ayah mengemudikan mobil dan Ibu duduk di sebelahnya. Aku duduk sendirian di belakang, menikmati luasnya jok mobil. Tiba-tiba saja, saat jalanan sepi di perempatan, sebuah mobil menabrak mobilku dari samping. Aku berteriak kencang sambil memejamkan mata dan menutup telinga. Ayah tidak sempat menghindar sehingga kecelakaan pun tidak terhindarkan. Akibatnya, Ayah dan Ibu meninggal sedangkan aku hanya luka ringan karena terkena beling kaca mobil.
Setelah lukaku membaik, aku dibawa ke panti asuhan. Ayah maupun Ibu tidak punya saudara yang berada satu pulau, semuanya berjauh-jauhan. Jadilah aku dibawa ke panti asuhan, dirawat dan tumbuh besar di sana dengan teman-teman senasib. Namun, bukan berarti hidupku menjadi sama saja. Tentu saja tidak. Selama berbulan-bulan, aku selalu bermimpi tentang kecelakaan itu setiap aku tertidur. Selalu terbangun tengah malam dengan keringat dingin yang mengucur deras. Itu benar-benar hari terburuk.
Seiring waktu berlalu, mimpi itu perlahan menghilang, hanya sesekali muncul saat aku kelelahan atau sedang emosional. Aku mulai bisa berbaur dengan teman-teman di sana. Menganggap mereka sebagai keluarga. Namun, semuanya tetap saja berbeda. Hingga aku berumur 21 tahun, rasa gelap itu masih ada. Kegelapan yang mungkin tak pernah terang terus membayangi. Trauma yang kukira lenyap ternyata masih bersarang dalam hati dan pikiran.
Rasa kasih sayang yang kudapat selama bertahun-tahun di sana ternyata tak pernah bisa mengisi kegelapan itu. Kecelakaan yang masih bisa kuingat jelas terus membekas. Semakin hari membuatku semakin sesak dengan kegelapan itu yang kian lama bertumbuh besar. Kegelapan yang tak pernah mau pergi, ingin membawaku kembali pada masa kelam itu. Sungguh menyiksa. Aku butuh cahaya yang bisa menerangi jiwaku, hatiku, pikiranku.
Hidup gelap tanpa cahaya
Pencari sinar sedang berkelana
Mencari jejak yang akan dipilihnya
Dalam remang gelap yang ada
Entah itu bulan atau matahari
Ia akan selalu menyinari
Dalam siang maupun malam hari
Kecuali gerhana menghampiri
__ADS_1
Namun, semua tak berguna
Walaupun dunia penuh cahaya
Yang tampak hanya kegelapan
Tanpa jejak yang bisa menjadi teladan
Sendiri dan berusaha mandiri
Memerangi kegelapan itu sendiri
Dengan peluh membanjiri
Menyesakkan sanubari
Gelap 'kan sirna sendirian
Tak ikut membawamu pergi
Kau temukan ia yang kembali lagi
Bayanganmu pekat terpantulkan
__ADS_1
Badanmu t'lah dibasuh cahaya
Menghangatkan jiwa dan raga
Menuntunmu kembali pada harapan
Kau kembali percaya diri
Kembali kepada awal mulamu
Kau pun akhirnya menyadari
Kegelapan 'kan selalu berlalu
Gelap atau terang tak ada beda
Jati diri selalu melekat pada jiwa
Tak peduli kondisi yang menimpa
Terus melangkah tenang dan percaya
Ternyata aku salah, salah besar. Bukan 'dia' yang tidak pernah ingin pergi. Akulah penyebabnya. Akulah yang menginginkan 'dia' terus menetap yang tanpa kusadari akan bertumbuh besar. Akulah yang belum bisa menerima kenangan itu. Akulah yang tidak rela melepas kedua orangtuaku.
__ADS_1
Namun, sekarang aku sadar. Kegelapan tidak akan hinggap jika kita tidak pernah memintanya. Akhirnya, tanpa kita sadari, kita terlalu nyaman dengan kegelapan yang kita ciptakan sendiri hingga tak menerima keberadaan cahaya sedikit pun.
Maka dari itu, yakinlah! Yakin kalau kegelapan itu akan pergi tanpa perlu kita lawan, kita bantah, kita sangkal. 'Ia' akan pergi dengan sendirinya jika kita mau menerima, mau melepas tanpa beban. Lalu, biarkan cahaya itu datang, biarkan dia menunjukkan hal selanjutnya.