
Semua sudah kulakukan sesuai keinginan mereka. Aku menyukainya atau tidak, aku tetap melakukannya. Namun, apa pun yang kulakukan, semuanya sia-sia. Segala kesempurnaan yang kuraih akan selalu berujung makian untuk perkara kecil. Sekali saja aku tak berhasil, semua akan mencibir dan menjadi yang paling tahu tentang segala hal yang sudah kulakukan. Seolah-olah mereka melihat langsung perjuanganku. Tak ada yang pernah menghargai usahaku. Semua orang selalu fokus pada hasilnya.
Aku muak. Ini kehidupanku, bukan? Harusnya aku pemeran utama dalam hidupku, bukan? Tapi kenapa aku justru merasa sebagai robot yang selalu dikontrol. Sampai kapan pun tak akan bisa melawan. Sekali saja. Cukup sekali saja agar mereka bisa memberiku kesempatan memilih, kesempatan membuktikan keinginanku. Jujur, aku lelah menjalaninya.
Terlalu sulitkah permintaanku untuk diwujudkan? Apa salahku selama ini? Bukankah segala hal yang terjadi dalam hidupku sudah sesuai dengan keinginan mereka? Apa lagi yang kurang? Tidakkah mereka puas? Tidakkah mereka sadar aku lelah menuruti semua permintaan mereka? Tidakkan mereka sadar aku pun berhak meminta sesuatu pada mereka?
Orang-orang memang benar. Keluarga adalah pedang bermata dua. Ia bisa mendukungmu, juga bisa menjatuhkanmu. Untukku, pedang mereka mengarah kepadaku. Menusuk jantung kehidupanku agar mereka puas mengendalikan hidup matiku. Mungkin mereka lupa, aku masih memiliki hati yang tak rusak sedikit pun.
Hati inilah yang akhirnya berani mengambil langkah. Satu-satunya cara untuk bebas adalah dengan lepas. Lepas dari belenggu dan tuntutan keluarga. Dari sekian banyak cara untuk lepas, aku memilih lari. Iya, meninggalkan rumah. Pergi tanpa membawa apa-apa, selain pakaian yang melekat pada tubuhku.
Silakan katakan aku pengecut! Aku memang pengecut. Ketika tak bisa menyelesaikan masalah, satu-satunya solusi adalah lari dari masalah itu. Tindakan pengecut itu yang sedang kulakukan dan aku bertaruh tak akan pernah kusesali. Lalu, apa masalahmu? Ini hidupku. Aku berhak menentukan segala keputusan untuk diriku.
Aku memang pengecut
Selalu menggigil takut
Menghadapi segala karut-marut
__ADS_1
kehidupan yang tak pernah surut
Aku pandai berlari
Menghindari segala masalah
Aku pandai menangisi
diri sendiri yang selalu kalah
Menggorogoti kewarasan jiwa
Rehat tak cukup menghalaunya
Lari yang selalu menjadi jawabnya
Mungkin sekarang aku berlari
__ADS_1
Namun, bukan berarti pergi
Aku pasti tetap akan kembali
Karena hidupku selalu di sini
Aku tahu, belum waktunya kumati
Asal kalian tahu, sejauh apa pun aku berlari dari masalah, aku pasti akan selalu menghadapinya. Mungkin tidak saat itu juga, tapi aku akan kembali dengan kekuatan baru. Bagaimanapun juga, warasku adalah caraku bertahan. Kalau memang belum siap menghadapinya, untuk apa kupaksa. Bukankah sudah banyak orang yang memaksaku? Jadi, berbaiklah pada dirimu sendiri. Hanya ia yang tahu dan paham arti jatuh bangunmu
Kadang, lari mungkin jawaban yang diperlukan. Menjadi pengecut bukanlah masalah. Untuk menjadi berani, memang harus takut dulu, kan? Untuk menghadapi masalah, kau membutuhkan keseluruhan dirimu. Dirimu yang utuh.
Hello! Untuk kalian yang sedang tidak baik-baik saja, jangan lupa istirahat. Segala hal yang berlebihan itu tidak baik. Di hidup ini, kalian cuma punya satu orang untuk bertahan. Iya, diri kalian sendiri. Kalau kalian tidak mau membantu diri sendiri, orang lain juga tidak bisa. Jadi, ambisinya diturunin sebentar, ya? Istirahat itu juga penting.
Sehat dan bahagia selalu
with love, Aisy Delia.
__ADS_1