
Kantin sekolah senantiasa ramai setiap kali memasuki jam istirahat. Yohan harus berdesak-desakan bersama puluhan orang lainnya hanya untuk membeli sebuah lolipop dengan perpaduan rasa coklat dan susu, setiap harinya. Bukan untuk ia makan sendiri, melainkan untuk diberikan pada orang lain. Dita namanya. Perempuan cantik nan anggun dengan kacamata bertengger di wajahnya yang Yohan sukai sejak kelas 10. Setelah satu setengah tahun berlalu pun, hatinya masih berlabuh pada sosok perempuan manis itu.
Setelah selesai berkutat dengan banyak orang di kantin, akhirnya sebungkus lolipop sudah berada di tangannya. Ia pun segera menuju kelas Dita yang berada bersebelahan dengan kelasnya.
"Ta, ada yang nyariin, tuh!" ucap Tiara lugas ketika netranya menangkap sosok Yohan yang berdiri di depan pintu kelasnya. Ia dan teman-teman kelasnya sudah hapal dengan kebiasaan Yohan yang selalu mencari Dita di jam istirahat kedua.
Dita yang duduk membelakangi pintu pun membalikkan badannya. Wajahnya seketika terlihat masam melihat sosok orang yang mencarinya. Meski begitu, ia tetap berdiri dan menghampiri pria itu yang sudah cengar-cengir tidak jelas.
"Hai, Ta! Ini lolipop lagi buat kamu. Kali ini jangan dibuang lagi, ya?" kata Yohan sambil menyerahkan lolipop itu padanya. Matanya terfokus pada wajah Dita yang memberengut melihat lolipop di tangannya. Lucu, batin Yohan.
"Yo, ngapain, sih, ngasih lolipop tiap hari? Lama-lama gue diabetes tau, gak? Udah buat lo aja," gerutu Dita yang kemudian hendak berbalik badan, siap meninggalkan Yohan. Sebelum ia benar-benar pergi, cepat-cepat lelaki itu mencekal tangan Dita dan memaksa telapak tangannya menerima lolipop tersebut.
"Kan, aku udah pernah bilang? Aku bakal berhenti ngasih kamu lolipop kalau kita udah pacaran. Tapi, kalau kamu takut diabetes, aku bisa ngasih yang lain. Kamu mau apa?" kata Yohan dengan senyum manis. Tangan mungil Dita yang kini telah menggenggam lolipop masih berada di genggamannya.
Sayang, genggaman itu segera dilepas olehnya sebelum akhirnya berkata, "Dan gue juga udah pernah bilang kalau gue gak mau pacaran sama lo." Ia menjeda kalimatnya dengan menghela napas sebelum kembali melanjutkan, "Ini pemberian terakhir yang gue terima. Kalau lo masih nekat, jangan harap gue masih mau ngomong sama lo lagi!" Dita kemudian kembali ke tempat duduknya, langsung membelakangi posisi berdiri Yohan. Melihat hal itu, ia hanya bisa terkekeh gemas. Begini, ya, rasanya jatuh cinta?
Setelah dari kelas gebetannya, Yohan kembali ke kelasnya sendiri dan menghampiri teman-temannya yang sedang asik bermain game.
"Habis dari kelasnya Dita?" tanya Roni dengan pandangan yang masih fokus pada layar ponsel dengan tangan bergerak lincah di atasnya.
"Yoi, biasa. Tapi dia gak mau gue kasih lolipop lagi, nanti diabetes katanya. Kira-kira kasih apa, ya?" curhat Yohan sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Bukannya menjawab, Roni justru lebih dulu mengumpat karena kalah dalam permainan. Sedangkan di saat yang bersamaan, Hesa bersorak senang dan bertepuk tangan untuk merayakan kemenangannya.
"Aduh, Yo! Gak capek lo ditolak mulu?" tanya Hesa heran. Wajar saja, sudah setahun lebih sahabatnya itu mendekati perempuan yang sama tanpa adanya kemajuan. Kalau boleh jujur, Hesa agak lelah melihat tingkah sahabatnya.
Kini, mereka masuk pada perbincangan serius. Ponsel yang tadinya berada di genggaman tangan mereka sudah tergeletak begitu saja di atas meja. Baik Roni maupun Hesa sama-sama menatap lekat Yohan yang tersenyum tipis. Sejujurnya, ia juga lelah kok. Segala cara sudah ia lakukan hanya untuk dilirik oleh gebetannya. Ketika sudah dilirik, ia justru merasa seperti ada dan tiada. Penolakan berulang kali juga menyakitkan hatinya, meski sekarang sudah terbiasa. Namun, sekalipun ia lelah, ia tidak mau menyerah.
Terdengar suara menghela napas dari Roni sebelum ia berkata, "Mau sampai kapan lo kayak gini? Buang-buang waktu banget, Yo."
"Terus, masa gue harus nyerah? Confess aja belum, udah nyerah aja," ucap Yohan tidak terima. Lagipula, ia tidak masalah kalau harus 'membuang waktu' untuk perempuan seperti Dita.
Hening. Mereka bertiga sama-sama tahu bahwa hal ini tidak akan ada ujungnya. Menasihati Yohan untuk berhenti sama saja seperti mencincang air, tidak akan ada gunanya alias sia-sia.
"Gue tau," seru Hesa tiba-tiba sambil menggebrak meja keras membuat seluruh pandangan mata menuju ke arahnya. "Lo berhenti dulu, deh, ngejer si Dita-Dita itu. Bentar, gue belum selesai ngomong. Lo tau sistem tarik ulur? Selama ini, kan, udah lo tarik, sekarang ulur dulu. Cara begini biasanya berhasil, sih. Kalau gak berhasil juga, kata gue mending nyerah aja, deh, Yo," jelas Hesa panjang lebar. Ia tidak membiarkan Yohan menyela penjelasannya.
Yohan yang mendengar saran temannya itu hanya terdiam. Ia beralih melihat Roni yang kini mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju, sebelum kembali melihat Hesa yang tersenyum bangga dengan idenya sendiri. Kalau saja situasi tidak seserius ini, Yohan pasti akan menjitak kepala pria itu karena ekspresi tengilnya.
Haruskah ia mencoba cara itu? Tapi bagaimana jika Dita justru semakin menjauh darinya? Apakah ia harus menyerah kalau hal itu terjadi? Daripada itu, bisakah ia mengabaikan keberadaan Dita?
Setelah menimbang-nimbang semalaman, Yohan akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran Hesa. Setidaknya dengan cara seperti ini, ia bisa tahu bagaimana perasaan Dita yang sebenarnya terhadap dirinya. Anggap saja ini langkah terakhirnya sebelum benar-benar memilih untuk merelakan Dita.
__ADS_1
"Ta, tumben cowok lo gak nyamperin ke sini. Lagi marahan, ya?" tanya Tiara pada Dita. Pandangannya beralih pada pintu kelas yang kosong. Biasanya di jam ini akan selalu ada seorang lelaki berdiri di sana dengan cengiran khasnya.
"Apaan, sih, Ti? Gue gak ada cowok. Kalau maksud lo Yohan, udah gue larang ngasih begituan," jawab Dita dengan malas tanpa mengangkat pandangan dari novelnya.
"Hah? Serius? Dia nurut lo larang-larang gitu? Gak mungkin, ah! Atau dia gak masuk kali, ya? Sakit?" ucap Tiara lebih pada dirinya sendiri.
Dita yang mendengar asumsi Tiara seketika berhenti membaca. Benar juga. Yohan bukan tipe orang yang mudah menurut. Sebelum-sebelumnya, Dita sudah pernah melarang Yohan memberinya permen, tapi ia tetap saja melakukannya. Apa benar Yohan sakit? Tiba-tiba saja, Dita merasa khawatir.
Pulang sekolah, Dita segera melangkahkan kakinya menuju ruang seni. Hari ini, ia ada kegiatan ekstrakurikuler. Kalau benar Yohan sakit, maka harusnya ia absen hari ini—Yohan dan Dita bergabung di ekstrakurikuler yang sama.
Ketika memasuki ruang seni, netranya segera menelisik ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan seseorang. Pandangan matanya kemudian terkunci pada sosok lelaki yang sedang mengobrol dengan seorang teman di sebelahnya. Ada sedikit perasaan terkejut ketika melihat pria itu baik-baik saja. Meski begitu tanpa Dita sadari, ia menghela napas lega sebelum duduk di bangku kosong yang agak jauh dari pria tadi.
Semua kegiatan ekstra berjalan baik seperti biasanya, tetapi tidak untuk Dita yang merasa terusik karena suatu hal. Yohan, pria yang senantiasa mengejar-ngejarnya berubah 180 derajat hari ini. Saat jam istirahat tadi, ia tak datang ke kelasnya untuk membawakan lolipop atau apapun itu. Lalu sekarang, lelaki itu terlihat seperti sengaja menghindarinya dan bersikap tidak peduli. Lengkap sudah kekecewaan yang Dita rasakan.
Tunggu, kenapa sekarang dirinya justru kecewa karena tingkah laku Yohan yang berbeda? Bukankah harusnya ia senang karena sudah tidak ada lagi yang akan mengganggu hari-hari tenangnya? Namun, kenapa yang terjadi justru sebaliknya? Dita tidak bisa menyembunyikan perasaannya sehingga tercetak jelas raut masam di wajahnya.
Di saat yang bersamaan, Yohan sesekali terus melirik ke arah Dita mulai dari saat pertama kali gadis itu memasuki ruangan hingga saat ini. Ia dapat melihat dengan jelas bahwa Dita sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Ingin sekali rasanya Yohan mendekat dan bertanya alasan di balik wajah cemberutnya, tetapi ia tidak mungkin melakukannya sekarang. Bukankah ada misi penting yang harus ia lakukan? Tidak lucu kalau semuanya harus berakhir hanya karena ia tidak bisa menahan diri untuk terus cuek pada pujaan hatinya itu.
Ribuan hari terlewati
Segala cara sudah aku lalui
Demi mengambil hatimu
Tapi ternyata tak semudah itu
Hadiah tak pernah menyenangkanmu
Hadirku tak melengkungkan senyum di bibirmu
Meski begitu, aku masih mengejarmu
Menaruh harap agar kau menjadi milikku
Suatu hari nanti
Tetapi kini lelah menggerogoti hati
Haruskah aku berhenti dan mengakui?
Bukan aku yang kau ingini
__ADS_1
Aku mundur perlahan
Berusaha memupuskan harapan
Menenggelamkan segala kenangan
Mengubur dalam-dalam sebuah perasaan
^^^Kapankah itu?^^^
^^^Rasa kecewa tak terelakkan^^^
^^^Akibat harapan yang selalu dipatahkan^^^
^^^Ada rasa kehilangan, juga rindu^^^
^^^Sukakah dirinya?^^^
^^^Nyamankah dirinya?^^^
^^^Cintakah dirinya?^^^
^^^Pada seseorang itu^^^
Iya, Dita tahu bahwa kini ia menyukai pria itu. Sudah seminggu lebih Yohan abai padanya. Seminggu lebih pula Dita merasakan kehilangan yang selalu menyedihkan hatinya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Rasanya sungguh frustrasi karena tak ada cara yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa sakit dalam hatinya.
Namun, tiba-tiba saja, genap di hari ke-14, Yohan tiba-tiba muncul di depan pintu kelasnya ketika jam istirahat kedua. Ia datang lagi setelah cukup lama sambil tetap membawa sebuah lolipop di tangannya. Dalam hati, Dita bersorak senang dan ingin sekali tersenyum. Namun, demi gengsinya sendiri, ia berusaha mati-matian menahan senyum dan tetap mempertahankan wajah datarnya.
Dita menghampiri Yohan dengan langkah gontai. Sebenarnya, ia ingin sekali berjingkrak-jingkrak dan memeluk erat lelaki itu, tapi lagi-lagi gengsinya terlalu tinggi untuk menunjukkan itu semua.
"Hai? Udah lama, ya? Kangen gak?" tanya Yohan dengan cengiran khas yang sudah lama tak Dita lihat.
"Gak kangen, tuh. Ngapain ke sini lagi?" ucap Dita berusaha tidak peduli.
Tanpa aba-aba, Dita segera didekap erat oleh pria di depannya membuat Dita mematung. "Gak usah pura-pura gitu. Kemarin aku denger sendiri kamu bilang kangen sama aku. Udah mulai suka, ya, sama aku?" kata Yohan, masih dengan memeluk gadis yang lebih pendek darinya itu.
Wajah Dita seketika memanas. Apa Yohan mendengar curhatannya pada Tiara di perpustakaan kemarin?
"Iya, kemarin pulang sekolah aku mampir ke perpus dulu, terus denger curhatan kamu," lanjut Yohan seolah tahu apa yang Dita pikirkan.
Mendengar itu, Dita merasa wajahnya semakin panas. Ia malu sekali sehingga tanpa sadar ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang lelaki yang masih memeluknya saat ini. Sayangnya, Yohan justru segera melepaskan pelukannya. Kedua tangannya beralih memegang kedua bahu Dita yang enggan menatap wajah Yohan.
__ADS_1
"Berarti aku masih ada kesempatan, kan?" tanya Yohan memastikan.
Samar, ia melihat Dita menganggukkan kepala. Yohan merasa seperti diterangi oleh lampu hijau hingga nyaris silau. Ia kembali mendekap erat pujaan hatinya itu sambil memejamkan mata karena perasaan senang yang meledak-ledak. Rasanya Yohan bisa menangis sekarang juga. Sedangkan, yang dipeluk hanya bisa menahan malu dengan tangan yang masih ragu-ragu apakah akan membalas pelukan itu atau tidak.