
Cita-cita ini sudah ada dalam pikiranku sejak aku kecil dan tak pernah berubah hingga sekarang. Kebetulan juga, cita-citaku terinspirasi dari bakatku, menyanyi. Tidak ada hari di mana aku tidak bernyanyi. Mulai dari menyanyi lagu anak-anak, entah yang berbahasa Indonesia ataupun bahasa asing. Kemudian, seiring aku tumbuh remaja, mulai menyanyikan lagu-lagu yang hits pada masanya.
Sekarang aku akan lulus SMA, tinggal mengikuti ujian akhir. Aku berdiskusi dengan orang tuaku tentang jurusan kuliah yang akan kuambil nanti setelah lulus. Aku menjelaskan juga mengapa aku memilih jurusan itu dan segala hal yang berkaitan. Namun, entah kenapa mereka tidak menyetujuinya. Mereka ingin aku mengikuti jejak mereka menjadi seorang PNS, lebih terjamin mereka bilang. Aku menolak mentah-mentah karena sedari dulu aku tidak pernah menyukai hal itu. Mereka tetap keras kepala, begitu juga dengan diriku. Aku ingin menjadi seorang penyanyi, menempuh jalan yang memang benar-benar kuinginkan. Bukan jalan yang merupakan paksaan.
Masih belum putus asa, aku kembali bicara kepada mereka. Namun, sama saja. Mereka bilang aku tidak akan bisa menjadi penyanyi yang terkenal karena aku berasal dari kampung. Aku menjadi lepas kendali hingga aku membentak mereka, mengatakan segala hal yang ada dalam kepalaku saat itu. Iya, aku tahu itu salah. Karena hal itu juga, aku tidak berbicara sepatah katapun dengan mereka selama berhari-hari.
Setiap sehabis makan malam bersama, aku langsung mengurung diri di kamar. Aku memikirkan jalan terbaiknya. Aku tidak mau menjadi durhaka kepada orang tuaku untuk menjadi seorang penyanyi. Setiap malam, aku merenungkan segala hal, mencari berbagai info tentang dunia kuliah. Hingga ujian akhir selesai pun aku belum menemukan jawaban yang tepat atas jalan hidupku sendiri.
Haruskah aku memilihmu atau memilih ia
Bisakah memilih di antara kalian berdua
Lalu, apa yang kudapatkan setelahnya
Rasa sedih ataukah bahagia
Apakah seperti ini bimbangnya
__ADS_1
Mengikuti jejak atau menjejak sendirian
Menjadi durhaka atau lupa akan impian
Patuh perintah atau selalu melawan
Kapan siklus ini habis tak bersisa
Pilihan manapun tak ada beda
Diam pun tidak akan bisa
Sediakah diri ini ditelan dunia
Biarlah pilihan tetap pilihan
Ingin pergi, tak perlu berkeputusan
__ADS_1
Biarlah semua berakhir tanpa jawaban
Namun, semuanya percuma
Mau tak mau, harus ada jawabannya
Dan kubuatlah opsi ketiga
Takkan menyerah atas keduanya
Pada hari Minggu, aku mencoba bicara kembali dengan mereka. Menjelaskan segala hal yang aku bisa hingga mereka bisa menyetujuinya. Aku bahkan sampai membuat janji jika mereka mengizinkan aku menjejak jalanku sendiri. Segala cara yang sudah kuperhitungkan kemarin malam sudah kuterangkan. Sekarang, tinggal menunggu keputusan orang tuaku. Jikalau mereka tetap menolak, baiklah. Aku akan mengikuti jejak mereka menjadi seorang PNS, tanpa melupakan impianku. Maksudku, pekerjaan penyanyi ini akan menjadi pekerjaan sambilan. Jikalau mereka menerima dengan setulus hati, maka aku akan menepati seluruh janji yang sudah kusebut tadi.
"Nak, Mamak sama Bapak ini ndak mau ngehalangin kamu sama impian kamu. Untuk jadi penyanyi dari nol itu susah, Nak. Mamak ndak mau kamu kenapa-napa. Kalau kamu jadi guru kan gampang. Banyak sini ada kerjaan. Jadi, kamu ndak susah susah cari kerja lagi. Mamak sih terserah kamu sekarang. Mamak mau anak Mamak sepenuh hati ngejalaninnya." kata Mamakku lembut lalu mengerling ke arah Bapak.
"Pokoknya kamu harus jadi guru kayak Bapak sama Mamak. Ndak ada jadi penyanyi-penyanyi." kata Bapak tegas.
"Kalau Riri kerja sambilan jadi penyanyi, ndak apa apa kan, Pak?" tanyaku.
__ADS_1
"Ndak boleh. Jadi guru, guru aja. Emang ndak bisa kamu jadi guru nyanyi buat anak-anak?"
Eh? Benar juga. Aku bisa menjadi guru bernyanyi. Hal yang tidak pernah terpikirkan olehku. Lantas aku mengangguk cepat, lalu spontan memeluk Mamak dan Bapakku. "Riri ndak akan ngecewain Mamak sama Bapak."