
Suara alarm yang berdering pada ponsel berhasil membuatku terganggu dan membuka mata. Aku segera mematikan alarm tersebut, lalu mengecek semua notifikasi yang masuk. Dari sekian banyaknya notifikasi, tidak ada satu pun balasan darinya. Sudah tiga hari berlalu, tetapi ia masih enggan membalasnya. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Semua cara sudah aku coba agar bisa berbicara dengannya, tapi satu pun tidak ada yang berhasil. Panggilan telepon atau mengunjungi rumahnya sama sekali tak ada artinya. Ia selalu menolak untuk bertemu dan bicara padaku.
"Kamu bohong lagi sama aku," katanya dingin tanpa melihat ke wajahku saat kami bertemu di sebuah kafe yang sudah sepi. Hanya ada kami berdua di sini, mungkin karena sebentar lagi tempat ini akan tutup.
"Maksud kamu? Bohong apa?" tanyaku dengan nada malas. Kami pasti bertengkar lagi setelah ini.
"Bohong apa lagi? Katanya Risa cuma temen, tapi apa? Kemarin kalian jalan berdua lagi, kan? Kamu engga mau nemenin aku kemarin karena udah janjian sama Risa, kan? Bukan karena lagi sibuk sama kerjaan kamu. Iya, kan?" Ia meninggikan suaranya dan menatapku tajam bercampur kecewa.
Aku menghela napas kasar. "Kalau iya, kenapa? Kamu mau aku batalin janji aku sama Risa?" jawabku datar, malas bertengkar dengannya.
"Sa, aku engga pernah larang kamu mau pergi sama siapapun itu, termasuk sama cewek sekali pun. Ini bukan yang pertama kalinya kamu kayak gini. Kamu anggep hubungan kita ini apa, sih? Aku masih pacar kamu bukan, sih? Kalau ada yang salah, bilang aja." Nada frustrasi terdengar jelas dari suaranya.
"Kita putus aja kalau gitu," kataku singkat dengan pandangan lurus menatapnya.
Ia nampak terkejut. Mulutnya terbuka, lalu kembali mengatup, tak jadi bicara. Kami sama-sama diam menyebabkan suasana hening. Aku sendiri sudah lelah dengan semua ini. Beberapa minggu terakhir selalu saja ada pertengkaran di antara kami. Hal-hal sepele berubah menjadi kesalahan besar yang harus diributkan. Mungkin kami memang sudah tidak cocok lagi. Kalau benar begitu, maka putus adalah jalan tengah terbaik untuk kami berdua.
"Oke. Kalau kamu mau putus, ya udah kita putus," katanya setelah beberapa saat terdiam.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan dan rasakan saat itu. Yang pasti adalah tidak ada air mata yang mengalir pada hari itu. Setelahnya, ia hanya langsung pergi meninggalkanku dan hot latte favoritnya yang sama sekali tak ia minum. Sejak hari itu, kami tidak pernah bertemu ataupun berbicara lagi. Dan, hal itu membuatku tersadar akan satu hal. Bahwa, keputusan berpisah dengannya adalah keputusan terbodoh yang pernah aku buat.
Hari-hariku berikutnya terasa hampa. Tidak ada lagi seseorang yang selalu menanyakan kabarku. Tidak ada lagi yang selalu mengomeliku karena belum makan, padahal matahari sudah berada di puncaknya. Tidak ada lagi ucapan selamat tidur yang mengantarku tidur. Tidak ada lagi notif berisik yang berdenting dari ponselku.
Memang benar kata orang-orang. Kita baru bisa menghargai keberadaan seseorang ketika kita telah kehilangannya. Sekarang, apa pun yang kulakukan tidak akan bisa mengubah segalanya menjadi seperti semula. Merenungi dan menyesali kesalahanku di masa lalu sama sekali tidak bisa memperbaiki keadaan. Aku kembali sendiri karena keegoisanku sendiri. Benar-benar sempurna seperti orang bodoh.
Ilusi bayangmu
Senyum di bibirmu
Mata indahmu
__ADS_1
Aroma khas tubuhmu
Hadirnya dirimu
Masih selalu terbayang di benakku
Masih selalu terasa dalam imajiku
Panggil aku gila
Semua tentangmu selalu menyiksa
Cermin terasa memaki
Tiap kali diri ini berdiri
Di hadapannya
Atau sekadar mendengarku lagi?
Kalau tahu ini akan terjadi
Tentu tak kubiarkan kau pergi
Maukah kau kembali?
Puluhan nada sambung
Ratusan pesan yang tak pernah terhubung
__ADS_1
Hujan atau kemarau
Mendung atau berawan
Pintu rumahmu selalu tertutup
Hanya untukku
Maaf
Beribu maaf
Hendak kusampaikan padamu
Menyampaikan rasa sesalku
Memohonmu untuk kembali padaku
Hanya pada mimpi, aku tahu
Kau berhak bahagia tanpaku
Aku harus tersiksa tanpamu
Inilah karmaku
Akibat mengkhianatimu
Aku berusaha mengingat lagi hal-hal yang selalu kulakukan sebelum dirinya masuk ke dalam hidupku. Menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang bisa membuatku berhenti memikirkannya. Namun, sepertinya semesta sengaja ingin membalaskan dendamnya kepadaku karena telah menyakiti wanita kesayangannya. Aku bertemu dengannya sore ini, setelah lewat berbulan-bulan kami tidak pernah bertemu atau saling menghubungi.
__ADS_1
Dari banyaknya restoran di kota ini, bisa-bisanya aku menghadiri tempat yang sama dengan mantan kekasihku. Bagian yang paling menyakitkan adalah ketika aku melihat seorang pria juga bersamanya dan mereka berdua terlihat bahagia. Ada sedikit perasaan tidak terima ketika melihat gadis yang dulunya milikku menyunggingkan senyum kepada pria lain. Namun, lagi-lagi aku menyadarkan diriku sendiri sembari merutuk. Semua adalah salahku. Perpisahan itu adalah kesalahanku. Dan, semua yang kurasakan saat ini memang pantas untuk kudapatkan.