Kumpulan Puisi Pendek

Kumpulan Puisi Pendek
Berani Beda


__ADS_3

Diarla Maharani, nama lengkapku. Kalian cukup panggil aku Diar. Aku sudah berumur 13 tahun, baru minggu lalu ulang tahunku. Seperti anak-anak lainnya yang seumuran denganku, aku menempuh jenjang SMP. Dan, di umur-umur seginilah, para remaja perempuan mulai tahu kehidupan yang sebenarnya, mulai memperhatikan penampilan mereka, berusaha menjadi cantik. Ada yang merasakan jatuh cinta, pacaran, sakit hati, dan juga rasa insecure.


Aku Diar, seorang remaja perempuan kelas 8 yang sama sekali tidak paham fashion, tidak paham arti cinta, tidak tahu caranya menggunakan skincare, dan perawatan-perawatan kulit lainnya. Sementara, semua teman-temanku mengerti betul tentang semua itu. Mereka mengatakan aku kuno, dekil, payah, dan kata-kata buruk lainnya. Bahkan, sahabat sendiri pun sama setuju dengan yang lain. Sakit. Sesak. Air mata sudah terbendung, siap menumpahkannya. Namun, tidak. Aku tidak boleh menangis, tidak di sini. Aku berlari ke arah toilet, masuk ke salah satunya dan berusaha menenangkan diri sambil terus berpikir.


Pada awalnya, aku merasa percaya diri saja dengan segala penampilanku dan pemahamanku. Di saat teman-temanku memakai hoodie, jaket denim, dsb. Aku cukup memakai seragam sekolah, tak ada luaran yang kupakai. Di saat mereka berpacaran dengan kakak kelas, adik kelas, atau teman seangkatan. Aku tetap sendiri, menjomblo. Di saat semuanya bertanya jenis skincare yang digunakan. Aku diam, memilih membaca buku yang kubawa dari rumah.


Semua hal yang kulakukan tentu saja ada alasannya. Aku tidak pakai hoodie karena aku tidak punya. Beli? Tidak punya uang. Pakai uang orangtua? Tidak, aku tidak mau. Aku tidak berpacaran karena aku berpegang teguh dengan prinsipku. Tidak ada pacaran-pacaran sebelum selesai sekolah. Aku tidak menggunakan perawatan kulit karena aku tidak tertarik, juga tidak punya uang untuk membelinya. Sebenarnya, aku ingin, hanya saja terlalu malas. Malas mencari tahu tentang ini dan itu karena banyak sekali jenisnya. Untuk kulit berminyak, pakai yang ini. Untuk kulit begini, pakai yang itu. Untuk menghilangkan bekas jerawat, pakai yang ini. Mau kulit lebih cerah, pakai yang ini atau bisa juga yang itu. Arrgghh! Banyak sekali jenisnya, memusingkan.


Tetapi tetap saja. Walaupun aku memiliki alasan tersendiri, aku merasa minder, insecure. Terlebih lagi, perkataan-perkataan mereka tentangku yang ada benarnya. Entahlah, aku tidak tahu harus apa. Meniru mereka agar hanya bisa diterima? Itu artinya aku bukanlah diriku lagi. Benar-benar melanggar prinsip hidupku.


Bagai makan buah simalakama, itulah keadaanku sekarang. Aku ingin bisa diterima oleh mereka, tapi bukan dengan cara harus mengikuti pergaulan mereka. Aku ingin berhenti merasakan insecure, tapi harus bagaimana? Lalu, suatu hari aku melihat kalimat-kalimat di sosial media.


"Jangan bersedih karena dirimu berbeda. Jika, semua hal terlihat sama, di mana letak indahnya? Melihat hal yang monoton setiap hari, bukankah membosankan? Maka dari itu, cintai diri kalian sendiri karena kalian istimewa dengan cara tersendiri"


Sejenak, aku pun termenung, memikirkan kalimat-kalimat itu. Akhirnya, aku pun menyadari bahwa berbeda itu indah. Hidup akan membosankan jika semua hal terlihat sama. Lagipula, apa salahnya menjadi beda? Apa salahnya mencintai diri sendiri? Tidak salah, bukan?


Namun, bukan berarti kita tidak bisa berubah. Bahkan, kita harus berubah. Ciptakan perubahan yang memang diinginkan oleh diri sendiri, bukan hanya karena mengikuti tren. Hal itu hanya membuat kita lupa akan diri kita sebenarnya. Jadi, cintai diri kalian, ya?

__ADS_1


Menjadi remaja tidaklah mudah


Segala rasa tertumpah-ruah


Memilih yang benar dan salah


Menjadi diri sendiri atau mengalah


Rasa malu mulai mengerubungi


Menjatuhkan mental pada hati


Hidup hampa, tak punya hati


Tetaplah percaya dengan diri


Beda bukan sebab untuk melupa

__ADS_1


Melainkan sebab untuk berani


Berani unjuk diri di hadapan semua


Akan kugenggam erat dirimu


Agar engkau tak terjatuh


Saat mereka menatap sinis padamu


Serta hujatan yang tak kau butuh


Tutup rapat kedua telinga


Hilangkah celah yang ada


Tak peduli suara di luar sana

__ADS_1


Cukup hati yang ada dalam raga


__ADS_2