
Sheira sedang duduk dengan tangan kanan memainkan pulpen dan tangan kiri memangku dagunya. Pandangannya fokus pada papan dan guru matematika yang sedang menjelaskan materi sambil sesekali mencoret papan dengan spidol. Aku tidak dapat melihat jelas wajahnya, tapi aku yakin ia sedang mengerutkan dahi karena tidak paham materi. Saat aku sibuk memerhatikannya di sela-sela pelajaran, ia menoleh padaku. Mungkin sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan. Sorot matanya berubah galak, menyuruhku untuk memperhatikan papan. Aku tidak menurut, hanya tersenyum menatapnya. Tiba-tiba, mejaku digebrak dengan sangat keras membuatku terlonjak, nyaris mengumpat. Untungnya, mataku lebih cepat melihat siapa yang menggebrak meja sebelum mulutku mengeluarkan umpatan.
"Liatin siapa di sana? Kamu udah pinter? Gak perlu penjelasan saya? Jawab ke depan soal nomor 2 yang ada di buku!" ketus guru matematika sambil menyerahkan spidolnya kepadaku.
Aku melirik sekitar yang berakhir menatap Sheira. Ia tersenyum mengejek membuatku agak kesal.
"Ayo, ke depan! Malah liat ke sana lagi. Bisa jawab gak?"
Dengan pelan sekali, aku menjawab, "Enggak, bu."
Beliau menarik kembali spidolnya dan berkata, "Makanya, kalau dijelasin perhatiin. Bukan melamun. Sekali lagi saya liat kamu melamun, langsung keluar dari kelas saya." Ibu itu kembali pergi ke depan, melanjutkan penjelasannya.
***
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Jam matematika pun ikut berakhir. Aku dan Sheira jalan beriringan menuju kantin untuk mengisi perut seperti anak-anak yang lain. Dalam perjalanan, Sheira membahas kejadian mengerikan tadi.
"Terus aja tuh ngelamun. Kebiasaan, deh!" omelnya. Ia berjalan tanpa melihatku dan melipat kedua tangan di depan dada.
"Bosen, Shei. Liatin angka terus. Otak gue udah berasap tadi, bentar lagi kebakar," bela diriku.
"Harus banget liatin gue? Untung aja tadi gue nggak kena semprot. Coba kalau kayak waktu jam biologi, lo yang nggak merhatiin, gue juga ikut disemprot." Ia masih enggan menatapku.
"Terus gue harus liatin siapa kalau bukan lo?" tanyaku polos.
"Yang lain kek. Atau liat pohon di luar. Apa untungnya liatin gue? Lo bisa apa kalau liatin gue?"
"Gue bisa senyum kalau liat lo. Otak gue yang udah mau kebakar tadi langsung kesiram air, dingin."
__ADS_1
"Kenapa bisa gitu?" Akhirnya, ia menatapku juga, masih dengan tangan yang terlipat di dada.
Aku menghentikan langkahku, menghadapkan tubuhku kepadanya. Kedua tanganku kumasukkan ke kantong celana. Ia ikut berhenti dan menghadapku. Tangannya masih setia di depan dada. Lalu, aku memajukan kepalaku agar bisa sejajar dengan kepalanya. Kami saling menatap mata satu sama lain. Wajahnya heran, sedangkan aku tersenyum.
"Karena gue suka sama lo," ucapku pelan.
Wajahnya seketika datar, nyaris cemberut. Ia memalingkan wajah dan mendahuluiku. Aku buru-buru mengikuti dan merangkul pundaknya.
Ia tidak keberatan dengan rangkulanku. Kami terus berjalan dalam diam. Sudah jadi kebiasaanku, setelah aku menyatakan perasaanku, lawan bicarakulah yang harus mengatakan sesuatu. Tepat, sebelum memasuki area kantin, ia berhenti dan berkata, "Udah berapa kali gue bilang, gue nggak suka sama lo, Farel. Please, deh! Lo tau kan gue anggap lo apa? Itu nggak akan pernah berubah, Rel. Mau berapa kalipun lo bilang suka sama gue, teman tetap teman. Nggak lebih."
"Gue tau kok, Shei. Gue tau kita cuma temen. Gue tau lo gak akan bisa terima gue jadi pacar lo. Gue juga nggak minta itu kok. Gue cuma mau lo nggak lupa sama perasaan gue. Gak masalah, Shei. Asal lo tetep mau temenan sama gue. Apa yang gue bilang tadi nggak usah dibahas lagi. Yuk, makan!"
Entah sejak kapan
Dirimu terlihat berbeda
Sebuah rasa pun ikut tercipta
Aku tahu ini salah
Hanya teman pun tidak masalah
Aku takkan pernah bisa jadi kekasihmu
Namun, kau selalu memiliki hatiku
Asalkan kita selalu bersama
__ADS_1
Hanya teman pun tidak apa
Aku tak butuh kata "iya" darimu
Cukup tetap bersamaku
Meski, kau sudah tahu perasaanku
Aku hanya ingin dirimu ingat
Bahwa perasaan ini tumbuh lebat
Hadir begitu saja untukmu
Akan selalu untukmu
Dalam status teman ini
Inspired by song : Friendzone - UN1TY
Author's Notes :
Hai, kembali lagi dengan cerita dan puisi baru. Hampir setahun ya? Ada yang menunggu, kah? Semoga bab baru ini bisa mengobati rindu kalian. Maaf karena baru up lagi karena aku mau menyelesaikan cerita lain yang pernah kubuat. Aku tahu ini tidak profesional sama sekali, tapi aku akan usahakan mulai tahun depan bisa up lebih sering lagi.
Terima kasih untuk kalian yang sudah mau menunggu. Aku tidak akan minta kalian untuk terus menunggu dan setia sama cerita ini. Sekali lagi, terima kasih untuk kalian yang masih mau menunggu.
Kalian bisa follow instagram aku di @aisy.deli
__ADS_1
Terima kasih sudah mau membaca catatan panjang ini