Kumpulan Puisi Pendek

Kumpulan Puisi Pendek
Selamat Hari Ibu


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku. Langsung kulirik kalender yang terpajang di sisi kiri dinding kamarku. Mataku sibuk mencari dan mengingat tanggal kemarin. Kemarin tanggal 21 Desember, berarti hari ini 22 Desember. Mataku berpindah ke jam dinding yang ada di sebelah kalender. Masih jam 4 pagi. Masih terlalu pagi. Aku memutuskan untuk kembali tidur.


Meski mataku kembali terpejam, pikiranku tidak berhenti bekerja. Rasanya aku melupakan sesuatu. Ada yang berbeda pada hari ini dibandingkan dengan hari sebelumnya. Ada yang spesial di hari ini, yang tidak dimiliki hari lainnya. Tapi, apa yang berbeda? Apa yang spesial? Pikiranku tidak mau berhenti berpikir hingga membuatku frustasi. Kuputuskan untuk mengambil ponselku di meja sebelah tempat tidurku. Kemudian, aku menyalakannya, memasukkan sandi, dan segera mencari google.


[Ada apa di tanggal 22 Desember]


[loading]


[Hari Ibu Nasional]


Aku langsung terduduk sebab terkejut. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Bukankah ini hari yang sudah kutunggu-tunggu sejak seminggu lalu? Aku juga sudah menyiapkan sebuah puisi spesial beserta kado yang kubeli beberapa hari lalu. Semuanya sudah kubungkus rapi dalam kotak kado bermotif polkadot. Parfum, tas, dan kartu ucapan, serta puisi yang kubuat sendiri sudah kususun seindah mungkin di dalam kotak itu.


Aku segera bangun dari tempat tidur dan mengambil kotak polkadot yang kusembunyikan kemarin. Aku menuju kamar orangtuaku diam-diam dan menaruh kotak itu di sebelah Ibuku yang masih tertidur. Lalu, aku cepat-cepat keluar dan kembali meringkuk di tempat tidur. Rasanya jantungku mau copot seiring cepatnya detak jantungku. Tanpa sadar, aku juga terengah-engah, namun juga lega. Tidak terbayang kalau Ibu tiba-tiba bangun saat aku meletakkan kado itu.


Sekitar 40 minggu


Engkau mengandungku


Bertaruh nyawa, menahan sakitnya


Hingga aku pun lahir ke dunia


Namun, itu belumlah usai


Dan tak akan pernah selesai


Kehadiranku mengubah hidupmu

__ADS_1


Memberatkan tanggung jawabmu


Menguji semua kesabaranmu


Engkau berhasil melewatinya


Dengan sempurna


Padahal engkau juga manusia


Engkau berhasil merawatku


Mengasihiku tanpa peduli waktu


Memberiku dasar dari ilmu


Dirimu masih seperti dahulu


Menghangatkan serta menenangkanku


Itulah engkau, Ibu...


Wanita super nan lembut


Tak akan pernah surut


Meski waktu menelanmu hidup

__ADS_1


Kasih sayangmu 'kan selalu hidup


Demi anakmu yang kini hidup


Kudoakan engkau sehat selalu


Aku akan selalu menyayangimu


Sama seperti dirimu itu


Biarlah aku memberimu


Sebuah hadiah kecil dariku


Sebagai ucapan terima kasihku


Untukmu, Ibu...


Aku menggumamkan puisi itu di tempat tidurku. Aku tidak menyangka bahwa aku masih mengingatnya. Mungkin ini yang disebut dengan melakukan sepenuh hati. Selalu diingat dan terkenang dalam sanubari. Mungkin hadiahku tak akan bisa sebanding dengan segala hal yang telah engkau berikan kepadaku. Meski begitu, ini tetap hadiah spesial dariku karena berasal dari hati. Semoga Ibu suka sama hadiahnya, ya?


Aku berangan tentang reaksi Ibu nanti saat melihat hadiah yang sudah kubeli dan kubungkus secantik mungkin. Apakah Ibu akan terharu dan bahagia? Lagipula, hadiah saja tidak cukup untuk sehari yang terdapat 24 jam. Aku juga akan membantu Ibu dalam pekerjaan rumahnya. Aku akan membantu sebisa mungkin dan menuruti kata-kata Ibu. Saatnya kembali tidur dan bangun beberapa jam lagi.


-----


Selamat Hari Ibu untuk semua Ibu dalam hidup ini. Terima kasih karena sudah merawat dan membesarkan anak-anakmu dengan sepenuh hati. Semoga para Ibu di luar sana sehat selalu dan panjang umur ^_^


Salam Sayang, Aisy♥

__ADS_1


__ADS_2