
Aku terbangun dari tidurku. Langsung kulirik kalender yang terpajang di sisi kiri dinding kamarku. Mataku sibuk mencari dan mengingat tanggal kemarin. Kemarin tanggal 21 Desember, berarti hari ini 22 Desember. Mataku berpindah ke jam dinding yang ada di sebelah kalender. Masih jam 4 pagi. Masih terlalu pagi. Aku memutuskan untuk kembali tidur.
Meski mataku kembali terpejam, pikiranku tidak berhenti bekerja. Rasanya aku melupakan sesuatu. Ada yang berbeda pada hari ini dibandingkan dengan hari sebelumnya. Ada yang spesial di hari ini, yang tidak dimiliki hari lainnya. Tapi, apa yang berbeda? Apa yang spesial? Pikiranku tidak mau berhenti berpikir hingga membuatku frustasi. Kuputuskan untuk mengambil ponselku di meja sebelah tempat tidurku. Kemudian, aku menyalakannya, memasukkan sandi, dan segera mencari google.
[Ada apa di tanggal 22 Desember]
[loading]
[Hari Ibu Nasional]
Aku langsung terduduk sebab terkejut. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Bukankah ini hari yang sudah kutunggu-tunggu sejak seminggu lalu? Aku juga sudah menyiapkan sebuah puisi spesial beserta kado yang kubeli beberapa hari lalu. Semuanya sudah kubungkus rapi dalam kotak kado bermotif polkadot. Parfum, tas, dan kartu ucapan, serta puisi yang kubuat sendiri sudah kususun seindah mungkin di dalam kotak itu.
Aku segera bangun dari tempat tidur dan mengambil kotak polkadot yang kusembunyikan kemarin. Aku menuju kamar orangtuaku diam-diam dan menaruh kotak itu di sebelah Ibuku yang masih tertidur. Lalu, aku cepat-cepat keluar dan kembali meringkuk di tempat tidur. Rasanya jantungku mau copot seiring cepatnya detak jantungku. Tanpa sadar, aku juga terengah-engah, namun juga lega. Tidak terbayang kalau Ibu tiba-tiba bangun saat aku meletakkan kado itu.
Sekitar 40 minggu
Engkau mengandungku
Bertaruh nyawa, menahan sakitnya
Hingga aku pun lahir ke dunia
Namun, itu belumlah usai
Dan tak akan pernah selesai
Kehadiranku mengubah hidupmu
__ADS_1
Memberatkan tanggung jawabmu
Menguji semua kesabaranmu
Engkau berhasil melewatinya
Dengan sempurna
Padahal engkau juga manusia
Engkau berhasil merawatku
Mengasihiku tanpa peduli waktu
Memberiku dasar dari ilmu
Dirimu masih seperti dahulu
Menghangatkan serta menenangkanku
Itulah engkau, Ibu...
Wanita super nan lembut
Tak akan pernah surut
Meski waktu menelanmu hidup
__ADS_1
Kasih sayangmu 'kan selalu hidup
Demi anakmu yang kini hidup
Kudoakan engkau sehat selalu
Aku akan selalu menyayangimu
Sama seperti dirimu itu
Biarlah aku memberimu
Sebuah hadiah kecil dariku
Sebagai ucapan terima kasihku
Untukmu, Ibu...
Aku menggumamkan puisi itu di tempat tidurku. Aku tidak menyangka bahwa aku masih mengingatnya. Mungkin ini yang disebut dengan melakukan sepenuh hati. Selalu diingat dan terkenang dalam sanubari. Mungkin hadiahku tak akan bisa sebanding dengan segala hal yang telah engkau berikan kepadaku. Meski begitu, ini tetap hadiah spesial dariku karena berasal dari hati. Semoga Ibu suka sama hadiahnya, ya?
Aku berangan tentang reaksi Ibu nanti saat melihat hadiah yang sudah kubeli dan kubungkus secantik mungkin. Apakah Ibu akan terharu dan bahagia? Lagipula, hadiah saja tidak cukup untuk sehari yang terdapat 24 jam. Aku juga akan membantu Ibu dalam pekerjaan rumahnya. Aku akan membantu sebisa mungkin dan menuruti kata-kata Ibu. Saatnya kembali tidur dan bangun beberapa jam lagi.
-----
Selamat Hari Ibu untuk semua Ibu dalam hidup ini. Terima kasih karena sudah merawat dan membesarkan anak-anakmu dengan sepenuh hati. Semoga para Ibu di luar sana sehat selalu dan panjang umur ^_^
Salam Sayang, Aisy♥
__ADS_1