
Kalau mendengar kata anak tengah, kira-kira apa yang kalian pikirkan? Selalu disalahkan? Tidak dianggap? Tidak pernah diutamakan? Mungkin kurang lebih seperti itu yang kalian pikirkan. Dan, dengan berat hati aku harus mengaku bahwa itu benar. Tentu saja ini hanya dari sudut pandang dan pengalamanku sendiri. Tidak semua anak tengah menghadapi realita menyedihkan ini. Ya, semoga saja benar begitu adanya. Kenapa? Karena hidup dengan tekanan untuk tetap memenuhi harapan orang tua tidaklah mudah. Akulah yang harus lebih banyak berkorban, demi kakak dan adikku. Akulah, si anak tengah.
Aku masih duduk di bangku SMA jurusan IPA. Nilaiku cukup bagus, selalu masuk ke dalam jajaran tiga besar di angkatanku. Semua kulakukan demi masuk kedokteran di universitas terbaik se-Indonesia. Demi orang tuaku yang menggantungkan harapan mereka padaku setelah kakakku gagal memenuhinya. Meski aku harus mengubur dalam-dalam mimpi yang sudah sering kuangankan. Tidak apa-apa, aku sudah dari lama menyiapkan diri untuk hal ini.
"Tias, kamu lagi ngapain? Bantuin mama masak!" teriak Mama dari dapur.
Aku menengok jam yang tertera di layar ponselku, sebentar lagi jam makan malam. "Tias masih belajar, Ma," balasku berteriak.
"Nanti aja dilanjutin. Sekarang bantuin mama dulu!" titah Mama dengan suara lantang.
Aku menggenggam pena lebih keras, berusaha menyalurkan rasa kesal. "Iya, Ma," jawabku akhirnya. Kepalan tanganku mengendur hingga pena hitam itu terjatuh dari tanganku.
Aku beranjak membuka pintu kamarku dan turun ke dapur. Ruang tamu terlihat ramai dengan televisi yang menayangkan sebuah drama korea dan adik perempuanku yang duduk di sofa. Aku menghela napas, kemudian bergumam, "Lagi-lagi kayak gini. Aku terus yang disuruh."
"Tias, ngapain bengong di situ? Ayo, bantuin mama masak!" teriak mama kepadaku yang masih berdiri di bawah tangga.
Pandanganku yang semula menatap Tara beralih pada wajah mama yang berpeluh karena sibuk memasak. Aku menghampirinya dan segera membantu, meski ada sedikit perasaan terpaksa. Bukannya aku tidak ikhlas membantu, tetapi kenapa hanya aku? Kenapa selalu aku? Aku yakin Tara sudah sangat mampu untuk membantu Mama memasak. Ketika aku masih seusianya, aku sudah sering membantu mama. Tetapi, rasanya itu tidak akan terjadi padanya juga, bukan? Sebab sudah ada aku di sini yang menggantikan tugasnya. Aku menghela napas pelan sambil memotong sayuran. Tias, berhenti membandingkan dirimu dengan saudaramu, oke? Semua ini sudah adil, dan kamu harus percaya!
***
Aku bangun pagi-pagi sekali hanya untuk mengecek kalender, memastikan sekali lagi bahwa aku tidak salah tanggal. Minggu, 4 Desember. Benar, hari ini benar-benar hari ulang tahunku. Ucapan selamat ulang tahun dari teman-temanku juga semakin memperkuat fakta itu. Aku mulai berangan mengenai hadiah atau kejutan apa pun yang akan keluargaku berikan. Setelah melihat begitu serunya perayaan ulang tahun dari anggota keluargaku yang lain, ekspektasiku kian meninggi. Kebetulan, aku adalah orang terakhir yang berulang tahun di setiap tahunnya di keluargaku. "Semoga tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya," batinku.
__ADS_1
Sayangnya, ada satu hal yang selalu kulupakan. Selalu ada satu hal yang tidak akan bisa terwujud setiap tahunnya atau bahkan di setiap hari. Tidak ada kue ulang tahun tersaji di meja makan. Jangankan kue, seorang pun tak terlihat di lantai bawah. Hanya aku bersama ekspetasiku yang sudah hancur berkeping-keping. Harusnya aku tahu harapanku tidak akan bisa terpenuhi. Harusnya aku tidak perlu bangun pagi-pagi hanya untuk mendapatkan fakta menyakitkan ini. Harusnya aku sudah tahu bahwa kejadian tahun-tahun sebelumnya akan kembali terjadi di tahun ini. Semua orang di keluarga ini spesial, kecuali aku.
Hadirku bagai ada dan tiada
Dibutuhkan, tetapi tak dipedulikan
Diandalkan, tetapi selalu diremehkan
Segala pencapaian seakan tak cukup
Benarkah aku bagian dari mereka?
Sulung mendapat kelegaan
Si Tengah harus menanggung beban
Sendirian . . .
Harapan dicurahkan tanpa bisa melawan
Suaraku sudah terbungkam
__ADS_1
Semua mimpi harus terkubur dalam
Demi gengsi dan kepuasan orang tua
Yang selalu haus penghargaan
Tak ada kata cukup dalam kamusnya
Walau aku sudah mencapai titik darah penghabisan
Ingin lepas dari genggaman tangannya
Namun, terlalu takut dikatai durhaka
Terlalu takut dikutuk oleh-Nya
Pilih kasih tanpa henti
Sampai kapan aku menanggungnya?
Tangis air mata ini
__ADS_1
Sampai kapan akan terus mengalir?