
Aku pernah menyukaimu, sangat menyukaimu hingga akhirnya aku memutuskan untuk merelakanmu. Awalnya aku mengira bahwa aku berhasil melepasmu. Aku kira aku sudah bisa menerima semua keputusanmu. Aku kira cerita itu sudah tertinggal jauh di belakang, tanpa perlu kubuka kembali dan mengobrak-abriknya demi mencari setiap kenangan indah. Setidaknya, itu yang kupikirkan hingga suatu hari aku menemukan bahwa diriku salah. Semua kata-kata itu hanya bentuk untuk meyakinkan diriku sendiri, yang ternyata tidak pernah bisa melupakanmu.
Setahun. Aku perlu waktu setahun untuk sadar. Itu pun karena dirimu, tepat saat hari ulang tahunmu. Hari di mana aku tahu bahwa kau sudah putus dengan perempuan itu. Kau tahu apa pikiranku saat itu? Aku merasa bahwa aku memiliki kesempatan itu lagi. Aku berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk berjuang mendapatkan hatimu lagi. Bahkan aku dengan berani menanyakan kesempatan itu.
Mungkin aku memang menginginkanmu lagi. Tapi, tidak. Semua masa lalu bersamamu itu cukup buatku, atau kupaksa untuk cukup. Kembali menyukaimu adalah bentuk pengingkaran janji pada diriku sendiri. Jadi, aku memilih untuk memendam kembali perasaan yang tiba-tiba muncul begitu saja. Berharap bahwa itu akan terlupakan, entah oleh waktu atau oleh sosok yang baru.
Dulu, semua tentangmu selalu menjadi kabar baik yang kunanti dan mampu menerbitkan senyum di bibir. Sekarang, semua tentangmu menjadi berita buruk yang susah payah kuanggap tak pernah ada. Perasaanku padamu adalah salah satunya. Ia kuanggap tak ada agar aku bisa kembali menguatkan janji saat kau pergi.
Dulu, aku menyukaimu
Kini, aku masih memilihmu
Menjadi tambatan hatiku
Menjadi penghias hari-hariku
__ADS_1
Tapi kutahu
Berpihak padamu artinya mengkhianati diriku
Janji yang kubatinkan dalam hati
Setiap kalimat kucipta untuk meyakinkan diri
Setahun perjalanan tanpa kamu
Sudah cukup menjadi kebiasaan baru
Meski kini, aku sendiri tak mau begitu
Pilihanku hanya dua
__ADS_1
Ingkar janji pada diriku
Atau kembali melupakanmu
Lalu, kucukupkan di sini
Meski kadang masih sering tersirat
Di dalam benakku
Sudah lewat berbulan-bulan sejak aku memutuskan hal itu. Berbulan-bulan pula aku masih tersenyum ketika mendapati namamu di salah satu kolom teratas dalam chat-ku. Aku bahkan masih sering memasukkanmu ke dalam khayalan imajinasiku. Selalu mencari cara untuk berbincang denganmu setiap kali kita bertatap mata. Aku masih ingin dekat denganmu. Lagi-lagi, itu berita buruk untukku.
Aku sudah berusaha untuk menahan diri. Namun, reaksi alami tak bisa kuhindari. Cara terakhir adalah menghilangkan namamu di kolom chat. Pura-pura tak melihat dirimu ketika kita tak sengaja berpapasan atau mungkin memilih jalan memutar hanya untuk menghindar. Sayangnya, menghapuskan segala tentangmu di dunia nyata adalah hal yang sia-sia. Pikiranku sudah merekam dengan baik setiap inci dari tubuhmu. Tak pernah luput sehari, kau tak melintas di berbagai macam skenario imajinasiku. Selalu kamu tokoh utamanya. Sekali lagi, itu adalah berita buruk untukku.
Janji yang susah-payah kutanamkan dalam-dalam di benak dan pikiran bisa dengan mudah kau hancurkan. Melihat atau mendengar namamu seketika membuatku lupa akan semua janji yang pernah kuciptakan. Kemanapun aku pergi, kemanapun aku melangkahkan kaki, dimanapun aku mencoba untuk bersembunyi dari perasaan ini, selalu padamu ujungnya. Kamu juga yang akan menjadi tempat pulangku yang ternyaman. Itu adalah berita buruk bagiku karena akhirnya aku mengaku bahwa aku tak pernah bisa menutup mata tentang kehadiran dirimu dalam hidupku.
__ADS_1
**Hello! Apa kabar? Udah pada libur belum? Atau masih ada yang ujian? Semangat terus ya!
See me on ig @aisy.deli**