
Tidak lagi. Tolong, aku sudah cukup lelah untuk semua patah hati ini. Aku sudah cukup lelah menangisi seseorang yang sama berulang-ulang kali. Jangan lagi. Sudah seharusnya hal-hal itu tidak menggangguku lagi. Sudah seharusnya aku memilih jalanku sendiri, tanpa perlu lagi dibayang-bayangi oleh kenangan manis yang sekarang terasa menyakitkan.
Aku lelah. Terus terombang-ambing dalam perasaan yang tidak jelas, sesuka hatinya hilang dan timbul begitu saja. Perasaan yang terlalu mudah untuk berubah hanya karena hal-hal kecil yang seharusnya tak lagi berarti. Lagi-lagi begitu, lagi-lagi dia, dan lagi-lagi terasa menyesakkan.
Muak. Aku sendiri muak dengan diriku yang tak ada habis-habisnya mengharapkan seseorang yang sudah lama pergi. Kapan ini semua akan berhenti? Kalau begini, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyukai sosok yang baru lagi. Ia berhasil membuatku lupa cara mencintai seseorang lagi. Karena yang kutahu kini, hanyalah dia.
Tahun-tahun berlalu
Bayangmu masih di sini
Selalu menghantui
Enggan untuk pergi
Usaha untuk rela
selalu berujung sia-sia
Setiap kau ada
aku kembali merana dan mendamba
Tak dapat berhenti
Sejauh apa pun aku berlari
Bayanganmu masih mengikuti
Sungguh ironi
__ADS_1
"Kim, lagi liatin siapa?" tanya seorang lelaki yang kukenali yang datang entah dari mana.
Aku yang sedang melamun sedikit tersentak, lalu menoleh. "Engga, engga liatin siapa-siapa. Tadi melamun aja," jawabku sedikit gelagapan.
"Jangan melamun di tengah jalan! Nanti nge-halangin orang," katanya, lalu tangannya meraih tanganku. Tanpa bisa aku cegah, ia sudah lebih dulu menarikku untuk duduk di salah satu bangku kantin.
"Udah makan?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Tadi baru saja aku ingin memesan soto ayam, sebelum akhirnya aku melihat dia bersama perempuan lain sedang bergandengan tangan di warung bakso seberang.
"Kamu mau apa? Aku pesenin."
"Engga usah, aku bisa sendiri kok," tolakku.
"Dua soto ayam segera datang," katanya sambil berlalu pergi begitu saja.
Tunggu! Dari mana ia tahu kalau aku akan makan soto ayam? Sudahlah, biarkan saja. Mungkin hanya tebakan asal yang kebetulan benar.
"Soto ayam sudah datang," serunya antusias.
Aku terkejut melihatnya sudah kembali dengan makanan di tangannya. Warung soto itu pasalnya terlihat sangat ramai dan normalnya ia harus mengantre sedikit lebih lama. Atau mungkinkah ia menyerobot antrean? Aku memutuskan untuk tidak berkomentar apa-apa tentang hal itu dan berkata, "Makasih."
"Sama-sama," balasnya.
Setelahnya, tidak ada perbincangan apa-apa lagi. Sesuatu hal yang sebenarnya di luar dugaanku. Bahkan, ia sama sekali tidak melirik ke arahku lagi. Benar-benar fokus dengan soto ayam di depannya.
Tiba-tiba saja, lelaki itu bersuara, "Kim, kamu masih suka sama Ian?" Pertanyaan mendadak itu berhasil membuatku tersedak hingga terbatuk-batuk.
Ia seketika panik dan segera membeli air mineral untuk diberikan padaku. Kondisiku lebih baik setelah meminumnya, meski begitu pertanyaannya tadi kubiarkan mengambang di udara tanpa jawaban.
__ADS_1
"Iya, kamu masih suka sama Ian. Aku tau kok, tanpa perlu kamu jawab pun aku udah tau. Aku bahkan tau alasan kamu tiba-tiba melamun di tengah jalan tadi," lanjutnya.
Situasi apa ini? Tubuhku terasa kaku. Aku tidak berani untuk menatap dirinya, apalagi membalas perkataannya. Aku hanya bisa menundukkan kepala sambil menerka akan dibawa ke mana pembicaraan ini.
"Aku suka sama kamu. Kalau kamu mau kasih aku kesempatan, aku bakal bantu kamu buat lupain dia. Kamu bisa pake aku buat ngelupain dia. Aku engga akan marah atau keberatan."
Tidak. Sayangnya tidak semudah itu untuk melakukannya. Menjalin hubungan baru tidak akan menyelesaikan permasalahan ini, justru akan ada orang lain yang harus tersakiti.
"Maaf, El. Tapi, aku engga bisa. Aku engga mau ada orang yang harus ngerasa sakit hati karena ini. Itu engga akan adil buat kamu."
Hening di antara kami. Aku hanya bisa menunduk, tidak berani untuk melirik sedikit pun ke arahnya. Hingga akhirnya bunyi bel berdering memecah keheningan itu. Kudengar suara kursi berdecit dari pria di hadapanku dan aku mendongak menatapnya.
"Engga usah ganti soto ayam sama airnya. Aku yang traktir." Ia beranjak pergi setelah mengatakannya. Hanya itu kata-katanya.
Aku terdiam. Perasaan bersalah muncul dalam benakku. Tetapi, bukankah lebih baik begini? Mungkin setelah ini, ia bisa berhenti menyukaiku yang sangat menyedihkan ini.
Kamu alasannya
Penolakan itu ada karenamu
Karena aku masih tak bisa lupa
tentang semua kisah indah kita
Ia baik, sungguh
Lebih baik darimu
Tapi tetap saja
__ADS_1
Masih kamu pemenangnya
Selalu kamu juaranya