Kumpulan Puisi Pendek

Kumpulan Puisi Pendek
Transparan


__ADS_3

Kalau saja aku pergi dari dunia ini, apakah akan ada seseorang yang menangisi kepergian itu? Sering kali pertanyaan itu melintas di kepalaku. Sudah ratusan kali muncul dan ratusan kali pula hilang tanpa jawaban. Sesulit itu untuk menjawabnya, atau mungkin sebenarnya mudah, tetapi aku tidak ingin menerima jawaban itu dan kembali mencari jawaban baru.


Sendiri. Aku sering sekali merasa sendirian di sini, padahal bumi sudah sesak oleh lautan manusia yang terus saja bertambah. Terbiasa ditinggalkan, terbiasa menjadi opsi terakhir bagi orang-orang, terbiasa diabaikan. Mungkin bukan sepenuhnya salah mereka, mungkin salahku juga. Aku terlalu asik diam dan mendengarkan ketika semua orang memilih untuk bercerita. Aku terlalu asik dengan duniaku sendiri ketika semua orang bersenang-senang bersama. Jadi, aku selalu saja sendiri dan mereka beramai-ramai.


Mungkin hal itu bisa membuatku menemukan jawabannya. Kalau saja aku pergi dari dunia ini, apakah akan ada seseorang yang menangisi kepergian itu? Tidak ada. Bukankah aku selalu sendiri? Bagaimana bisa ada yang menangisi kalau tak ada seorang pun yang mengingat diriku? Setiap hari, aku selalu transparan. Tak terlihat dan tak dirasakan. Jadi, tak ada lagi hal yang perlu aku khawatirkan, kan? Aku tidak perlu merasa bersalah kalau aku benar-benar pergi. Mereka juga tidak perlu membuang air mata mereka yang berharga untuk seseorang yang transparan sepertiku.


"Kalau gitu, aku bisa pergi sekarang. Selamat tinggal, dunia! Selanjutnya, semoga kita bisa jadi teman yang baik." Aku menerjunkan diriku sendiri sambil menutup mata, siap menerima takdirku yang baru di bawah sana.


Gelap, sepi, hampa


Berlari tanpa mengejar apa-apa


Berusaha tanpa tahu yang diraihnya


Tak ada lagi hasrat bergelora


Masih hidup, tetapi mati rasa


Ingin rasanya menutup mata


Lupa akan segalanya


Lalu, hilang begitu saja

__ADS_1


Tapi, aku tak mau pergi


Tak mau sendiri lagi


Jadi, kuakhiri cukup sampai di sini


Janjiku tak ada kata sesal


Mungkin kau kira aku bebal


Juga berpikiran dangkal


Lontaran kata-kata itu


Tenanglah


Kepergianku tak akan terasa


Kau bisa hidup seperti biasa


Aku pun juga akan bahagia


Aku lelah dengan dunia

__ADS_1


Sesuatu yang aneh terjadi. Aku menjatuhkan tubuhku ke depan, tetapi aku justru jatuh ke belakang. Apakah gravitasi sedang tidak berfungsi dengan baik? Tak apa, masih bisa kulakukan lagi.


"Kamu lagi mikir apa, sih?" teriak seorang lelaki.


Ia sepertinya dekat denganku sebab suaranya keras sekali. Aku membuka mataku dan menemukan seseorang yang amat kukenal. "Oh, hai! Ternyata kamu yang merusak gravitasi bumi," kataku santai, lalu beranjak bangun dari tubuhnya.


Ia kemudian ikut berdiri dan kami berdiri berhadap-hadapan. Aku tersenyum, menunggunya berbicara karena sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu.


"Kamu gila, ya? Kalau aja aku ngga dateng tadi, kamu pasti udah...." Ia tidak melanjutkan kata-katanya.


"Aku ngga gila, Farel. Dan, aku ngga butuh kamu dateng. Aku senang bisa meninggalkan dunia ini. Dan, kamu juga seharusnya begitu," kataku tenang.


Aku membalikkan badan, siap melompat untuk yang kedua kalinya. Namun, lelaki itu menahanku. Ia memelukku dari belakang, erat sekali.


"Kenapa aku harus senang kalau kamu pergi?" ucapnya lirih.


"Karena ngga akan ada orang yang nangis kalau aku pergi."


"Siapa bilang? Aku nangis kalau kamu pergi. Aku sedih kalau kamu pergi. Jadi, jangan pergi!"


Aku tertegun. "Masa iya kamu nangis?" tanyaku tak percaya.


"Kamu pikir sekarang aku lagi ngapain? Ketawa? Senyum? Aku lagi nangis," katanya dengan nada sebal. Kemudian, terdengar suaranya yang sedang menyedot ingusnya sendiri.

__ADS_1


"Oke, aku ngga jadi pergi. Jangan nangis lagi! Nanti dunia makin jahat ke aku karena bikin orang lain nangis," kataku sambil mengelus rambutnya yang tebal.


__ADS_2