
Derita LDM, harus selalu menahan rindu untuk bertemu. Hubungan yang kata orang sangat susah dilewati sehingga banyak dari mereka yang gagal. Bahkan ada juga yang memilih untuk langsung mengakhiri hubungan daripada harus menghadapi perbedaan jarak. Namun, kata cerai tidak semudah mengatakan kata putus. Ikatan pernikahan bukan permainan yang bisa dengan mudahnya ditarik-ulur. Hubungan inilah yang harus dijalani Kania sebagai istri muda yang ditinggal suaminya bekerja.
Umur pernikahan Kania masih sangat muda, belum ada setahun. Meski begitu, Kania mengerti tentang risiko pekerjaan suaminya yang mengharuskan mereka berpisah jarak dalam waktu yang cukup lama. Lagipula, bukan sekali-dua kali mereka terpisahkan oleh jarak. Ketika masih berpacaran pun begitu hingga hubungan jarak jauh sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Walau begitu, tetap saja rasa rindu selalu menghiasi hati mereka di setiap harinya.
Hari ini sudah terhitung bulan kedua sejak mereka tidak lagi bisa berjumpa. Saat ini, mereka sedang melakukan panggilan video—sama seperti malam-malam sebelumnya. Sambil berbaring di atas ranjang, mereka membicarakan segala hal yang terjadi di hari ini. Entah itu penting ataupun tidak. Kadang topik obrolan mereka juga kerap melompat ke topik lain yang tak ada hubungannya sama sekali.
Tiba-tiba saja, Kania menyeletuk sesuatu yang membuat suaminya bungkam, "Aku kangen."
Ya, kata rindu itu. Hanya dua patah kata, tetapi keheningan seketika mencekam. Suami Kania, Gema tidak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, setiap kali mereka dalam kondisi berjarak seperti saat ini, baik dirinya ataupun Kania tak pernah mengatakan kata rindu. Bukan apa-apa, hanya saja kata sepele itu membuat mereka lebih merasakan jarak yang membentang jauh di antara mereka.
"Maaf jadi ngerusak suasana. Tapi, aku kangen, Ge." Tangisan seketika pecah setelah Kania selesai mengatakan kalimat itu.
Gema bingung harus bagaimana. Andai saja jika ia berada di sana, ia pasti langsung mendekap erat istrinya itu. "Nia, aku juga kangen. Tahan sebentar lagi aja, ya? Lagi empat bulan aja. Terus aku bakal ambil cuti biar bisa honeymoon sama kamu. Oke?"
Kania tidak menjawab. Ia masih menutupi kedua matanya dengan telapak tangan. Napasnya jelas sekali tersendat-sendat akibat menangis. "Nia, jangan nangis lagi, ya?" sambung Gema lembut. Suaranya ikut bergetar karena menahan tangis.
Untuk pertama kalinya, mereka sudah tidak bisa membendung rasa rindu yang meluap-luap. Mereka hanya bisa menangis berharap rasa sesak akibat rindu itu dapat berkurang. Air mata Gema perlahan jatuh ke pipi. Kania masih belum menjauhkan tangannya dari wajah cantiknya.
"Nia mau denger lagu?" ucap Gema lagi sebab tak kunjung ada jawaban dari istrinya. "Aku nyanyi sekarang, ya?"
Ku terima suratmu
Telah kubaca dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku
Di dalam hari-harimu
Bersama lagi
Air mata terus mengalir dari kedua mata Gema. Nyanyiannya pun ikut terbata-bata. Kania yang mendengar suara Gema bernyanyi mulai menyingkirkan tangan dari wajahnya. Masih dengan napas yang tersendat, Kania ikut menyanyi, menyambung lirik.
Kau tanyakan padaku
Kapan aku akan kembali lagi
__ADS_1
Katamu kau tak kuasa melawan gejolak di dalam dada
Yang membara menahan rasa
Pertemuan kita nanti
Saat bersama dirimu
Perlahan, senyum keduanya mulai mengembang tipis. Masih dengan air mata yang menghiasi kedua belah pipi, mereka berdua kembali menyanyikan reff lagu tersebut. Kini terdengar lebih baik, tanpa terbata-bata.
Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya
Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu
Ku akan pulang melepas semua kerinduan yang terpendam
"Sabar ya, sayang. Aku janji kalau aku pulang nanti, kita bakal honeymoon. Kamu mau ke mana? Ayo kita seneng-seneng bareng!" Gema menjulurkan tangannya menyentuh layar laptop, berandai bahwa ia bisa menghapus air mata Kania.
Rasa rindu mereka memang belum terbayar tuntas selama mereka belum bisa bertemu. Namun, masih bisa berbicara melalui layar saja, mereka sudah cukup senang.
Waktu demi waktu berlalu
Aku hanya bisa menatap langit
Dengan bayangan wajahmu
Berandai tentang pertemuan kita nanti
Setiap malam terasa sepi
Tanpa hadirmu di sisi
Hanya jaket birumu di sini
__ADS_1
Temaniku kala sendiri
Jarak membentang jauh
Ragamu tak dapat kusentuh
Tinggalkan rindu yang enggan meluruh
Kita selalu bertemu melalui layar
Namun rindu tak kunjung tuntas terbayar
Yang kadang ikut menyayat hati
Juga menyesakkan dada dan meluluhkan tangis
Kita masih bertahan atas nama cinta
Sebuah janji sakral menjadi penopangnya
Bersedia untuk selalu setia
Meski suka dan duka selalu melanda
Meski jarak melarang untuk berjumpa
Kita tetap ada
Saling mempertahankan
Untuk kembali bertemu
Memenuhi janji kita berdua
Song Title : Kangen - Dewa 19
__ADS_1