
Sudah lama cerita cintaku tidak ada lagi. Terakhir itu sudah setahun yang lalu. Sekarang, aku masih sendiri dan tidak menyukai siapa pun. Bukan karena aku tidak berhasil move-on, tapi karena memang tidak ada yang menarik di mataku. Aku hanya bersekolah seperti biasa, berbaur bersama teman entah lelaki atau perempuan. Tidak ada yang terlalu spesial.
Entah kenapa juga, tidak ada seorang lelaki pun yang mendekatiku. Teman-temanku kerap sekali membicarakan hal itu.
"Gue masih penasaran, woi! Bisa-bisanya perempuan secantik Gea engga ada yang deketin. Cowok-cowok pada kenapa, sih?"
Itu kata temanku, Dea. Nama kami memang mirip, tapi sama sekali tidak ada hubungan darah. Kalau dia sudah bilang begitu, biasanya selalu kujawab begini, "Cowok, kan, engga selalu mandang fisik doang!"
Dea selalu tidak terima dan balik berkata, "Tapi, lo itu nyaris sempurna, Ge. Gue yang biasa-biasa aja ada yang deketin, kok. Gue heran!"
Kalau sudah muncul kata 'heran' darinya, maka perdebatan ini tidak akan selesai kalau terus kujawab. Jadi, temanku yang satunya yang menjawab.
"Berisik lo, De! Masih mending Gea daripada lo yang sampe sekarang, masih juga PDKT-an. Tau-tau, ghosting lagi kayak yang itu."
"Lo bawa-bawa itu mulu, deh! Gue juga engga mau kali PDKT-an terus, tapi dia engga nembak-nembak."
"Cowok kayak gitu, tuh engga akan nembak, De!" ceramahku.
"Ih, jangan gitu, dong! Aku tahu kamu trauma sama masa lalumu itu, tapi mereka itu beda." Dea tetap kukuh dengan pendiriannya.
"Siapa yang trauma? Aku biasa aja," bantahku.
"Kalau engga trauma, harusnya kamu udah suka sama seseorang sekarang. Udah setahun, lho, sejak terakhir kali kalian deket!"
__ADS_1
"Terserah, deh! Intinya aku engga trauma," finalku karena malas melanjutkan omongan tidak berguna ini.
Kalau ada satu hal yang benar-benar malas kubicarakan, itu adalah masa laluku dengan lelaki itu. Maka dari itu, aku tidak akan membicarakannya. Biar saja Dea membicarakan hal itu sendiri.
Aku sampai lupa ingin menceritakan apa karena sibuk berdebat dengan Dea. Seperti yang kusampaikan di awal, kisah cintaku sudah lama betakhir. Setahun lalu tepatnya. Hingga sekarang, aku masih sendiri tanpa menyukai seseorang. Jujur saja, kupikir aku masih belum bisa move-on darinya. Namun, seharusnya sudah karena aku sama sekali tidak sedih saat mengetahui fakta tentang pacar barunya.
Entahlah. Aku sendiri kadang bingung dengan perasaanku sendiri. Jadi, aku selalu menganggap bahwa aku sudah lepas dari bayang-bayang dirinya. Sekarang, aku bahkan lebih bahagia. Saat tidak ada disukai dan menyukai seseorang, aku menyebutnya fase menunggu cinta. Kubiarkan saja perasaanku ini bekerja sesuai keinginnannya. Tidak usah bicara tentang risikonya karena aku merindukan perasaan jatuh cinta itu.
Pernahkah kau merasa
Rindu akan rasa cinta
Rindu dengan rasa sakitnya
Karena sudah terlalu lama
Gelombang-gelombang cinta
Bagai tertahan di dalam hati
Radar cinta pun rusak seketika
Entah mengapa tak mau berfungsi
__ADS_1
Apa karena terlalu nyaman sendiri?
Selalu mendamba cinta baru
Sering kali mengandai-andai
Kadang teringat masa lalu
Kata cinta yang jarang terurai
Tak pernah luput dari kepalaku
Asmara cinta . . .
Rindu akan pahit dan manisnya
Dan, aku punya satu pinta
Segerelah pertemukanku dengan dia
Agar hati ini tak lagi bertanya
**Hai, semuanya! Apa kabar? Semoga tetap baik-baik, ya? Ada yang lagi di fase yang sama dengan Gea? Gapapa, itu wajar kok. Yang perlu dilakukan cuma menikmati.
__ADS_1
Btw, ini bab kedua di tahun ini dan semoga terus bisa berlanjut hingga ke bab-bab selanjutnya. Terima kasih untuk kalian yang masih membaca sampai saat ini. Aku tunggu tema cerita dari kalian, nanti akan aku buatkan secara perlahan. Sampai jumpa di bab berikutnya!
Follow instagram author di @aisy.deli**