
Kata orang, rumah seharusnya menjadi tempat ternyaman bagi semua orang di mana mereka bisa berkumpul kembali dengan orang tersayang. Kata orang, rumah seharusnya bisa menjadi tempat pulang untuk menghilangkan lelah akibat dunia luar. Ya, seharusnya memang begitu, tapi Keala tidak pernah menemukan rumah semacam itu.
Keala, gadis kuliahan super sibuk dan sangat aktif, entah di dalam kampus atau di luar kampus. Tidak pernah ada hari libur dalam kalendernya. Setiap hari, ia akan selalu bertemu dengan orang-orang membuatnya jarang berada di kamar indekosnya. Selelah apa pun, ia tak pernah berpikir untuk berhenti. Hanya itu satu-satunya jalan untuk lari dari kesepian yang mengukung kamar sempit indekosnya. Lari dari kelelahan yang sebenarnya.
Kematian lebih dulu merenggut nyawa kedua orang tua Keala melalui kecelakaan. Sejak saat itulah, Keala yang masih SMA harus menelan bulat-bulat kesedihan dan kesepian dalam hidupnya. Kesenangannya menjadi anak tunggal seketika pudar. Ia sering berandai-andai memiliki saudara yang tak akan pernah didapatnya, membuat dirinya merasa semakin menyedihkan.
Setelah setahun hidup di rumah pamannya dan bergantung padanya, Keala akhirnya memutuskan keluar dari rumah itu. Lagipula, ia sudah lulus SMA. Sudah bisa mengurus dirinya sendiri, juga tidak mungkin ia terus-terusan merepotkan paman dan bibinya, meskipun mereka sama sekali tidak merasa direpotkan. Saatnya hidup mandiri dengan tinggal di sebuah kamar indekos yang terletak tidak jauh dari kampusnya.
Hidup Keala setelah pergi dari rumah pamannya benar-benar berantakan. Tidak ada lagi yang membangunkannya setiap pagi agar tidak terlambat. Tidak ada lagi makanan yang tersaji setelah ia pulang. Tidak ada lagi uang saku yang ia dapat setiap bulan. Tidak ada lagi suara-suara yang mampu membuat otaknya tetap waras. Hal inilah yang menyadari Keala bahwa ia tidak bisa kembali ke kamar kosnya. Ia juga tidak mungkin kembali ke rumah pamannya setelah pergi dari sana. Maka dari itu, satu-satunya cara untuk membuat pikirannya tetap waras adalah mencari kebisingan. Bukan kebisingan di dalam pikirannya, tetapi kebisingan dari luar kepalanya.
Keala sungguh-sungguh berterima kasih pada tugas-tugas ospek yang menumpuk hingga kadang membuatnya tak tidur. Kesibukan itu membuat Keala lupa akan kesepian dan keheningan yang selalu berusaha ia hindari. Karena ketika keheningan itu melanda, suara-suara dalam kepalanya kembali berebut mengambil alih akal sehatnya.
Kesibukan itu tidak berlangsung lama. Untungnya, Keala sudah merencanakan hal lain yang bisa membuatnya bebas dari kungkungan kesepian itu. Ia berhasil mendapat pekerjaan paruh waktu di salah satu minimarket di dekat kampusnya. Setelah kuliah dari pagi hingga sore, lalu dilanjutkan dengan bekerja paruh waktu yang cukup memangkas waktu 24 jamnya. Belum lagi tugas kuliah yang dipastikan cukup untuk menghabiskan sisa malamnya yang sunyi.
Kesibukan itu semakin menjadi ketika Keala memasuki semester tiga. Ia mencoba segala kegiatan organisasi dan kepanitiaan di kampusnya. Tak jarang Keala tidak sempat untuk sekadar memejamkan mata hingga kantung matanya persis seperti panda. Selelah apa pun tubuhnya, ia tak pernah mengeluh. Ia betul-betul tahu konsekuensi dari semua keputusan gilanya. Tetapi, persetan dengan itu semua. Keala membutuhkan kesibukan agar ia tetap hidup.
Sepinya jalanan dalam temaram
Dua kendaraan saling menghantam
__ADS_1
Di bawah kegelapan malam
Menghadirkan isak tangis tak terbayangkan
Dari seseorang yang telah ditinggalkan
Hangat rumah di setiap hari
Berganti sepi yang selalu dihindari
Seluruh hidupnya segelap malam
Matanya tak pernah lepas dari tangisan
Ia terus berlari, kembali mencari
Rumah yang telah lama pergi
Rumah yang selalu ia nanti-nanti
__ADS_1
Seorang diri
Dalam hening dan sepi
Riuh suara pikiran
Merenggut sisa kewarasan
Ia berusaha bertahan
Mencari segala kesibukan
Agar pada malam, ia hanya perlu terlelap
Namun, hingga pada akhirnya, Keala tak kunjung menemukan rumah yang ia cari. Bahkan hingga ia lulus kuliah pun, tak ada rumah yang nyaman ia tinggali. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan. Tanpa disadari, dunia luar telah menjadi rumahnya. Kesibukan itu adalah jiwanya yang telah mempertahankan sisa kewarasannya. Keala kini tak perlu merasakan sepi lagi. Meski kini ia belum mengetahuinya, tetapi suatu hari ia akan sadar dengan sendirinya.
Ya, rumah tidak harus selalu berbentuk rumah, bukan? Tidak harus selalu memiliki atap untuk berteduh ataupun pintu yang bisa dibuka-tutup. Rumah tidak hanya perkara tempat, tetapi juga perkara perasaan yang membawa kita pulang tanpa perlu merasa takut atau khawatir. Perasaan di mana kita tahu bahwa di sana kita akan baik-baik saja.
...----------------...
__ADS_1
Hai! Apa kabar? Udah lama nunggu, ya? Maaf baru bisa update lagi. Akhir-akhir ini aku lagi lumayan sibuk. Mungkin ke depannya akan jarang update, tapi aku akan selalu berusaha biar bisa update terus. Terima kasih karena sudah mau menunggu dan terus membaca cerita ini ^_^