
Inspired by : Fine – Taeyeon
Kicauan burung di luar terdengar semangat menyambut pagi. Ruangan yang semula gelap mendapat sedikit pencahayaan akibat sinar matahari yang memaksa masuk melalui celah-celah tirai jendela. Seorang perempuan masih terkulai tanpa semangat di atas tempat tidurnya. Ia tidak bisa menutup matanya tanpa mengenang wajah itu, ia terjaga sepanjang malam. Kini, pandangannya menatap kosong ke langit-langit di atasnya hingga air mata jatuh untuk kesekian kalinya.
Tiba-tiba, suara seorang perempuan memasuki pendengarannya bersamaan dengan daun pintu yang terbuka. "Nay, udah tiga hari lo kayak gini. Gue tau ini egois, tapi besok kita ada jadwal. Lo tau, kan, kita ga boleh ngecewain para fans?" ucap Prima lembut. Ia menyempatkan diri untuk mengelus lembut pipi Naya sebelum membuka tirai yang menutupi jendela kamar Naya.
Tangisan diam Naya seketika berubah menjadi isakan. Hatinya lagi-lagi serasa ditusuk oleh ribuan jarum kecil. Kejadian beberapa hari lalu memberi dampak besar bagi kehidupan Naya.
Prima yang mendengar isakan itu segera menghampiri dan mengusap punggung temannya yang sudah seperti adiknya sendiri, berharap dapat sedikit menenangkan gadis yang sedang menangis.
"Take your time! Nanti malam kita makan bareng sama anak-anak yang lain, oke?" ujar Prima setelah tak terdengar lagi isakan. Ia baru beranjak pergi setelah mendapat anggukan dari Naya.
Beberapa hari yang lalu, rumor bahwa dirinya dan Darsa—seorang solois sekaligus junior dari agensi yang sama dengannya—menjalin hubungan asmara terungkap oleh media, lengkap dengan bukti-bukti foto yang memperlihatkan kebersamaan mereka. Naya masih ingat dengan semua momen di dalam foto-foto yang tersebar di dunia maya. Tidak ada alibi yang bisa menyelamatkannya karena semua itu benar adanya. Ia dan Darsa memang berpacaran.
Setelah skandal dating itu muncul, kolom komentar instagram Naya segera dipenuhi dengan cercaan dan makian dari penggemar Darsa. Di hari yang sama pula, ia dipanggil menghadap CEO untuk menjelaskan semuanya. Ada Darsa juga di sana, hanya saja Darsa sudah akan pergi. Mereka berdua sempat bertatapan. Darsa hanya memberikan senyumnya dan Naya susah payah ikut mengembangkan senyumnya.
Seperti dugaannya, ia harus membereskan masalah skandal itu dengan sebuah permintaan maaf—yang sebenarnya tidak perlu karena berpacaran adalah hal normal—yang akan muncul bersamaan dengan klarifikasi resmi dari agensi.
"Lebih baik kamu fokus dengan pekerjaanmu. Saya harap tidak ada kesalahan seperti ini lagi ke depannya. Kamu tentu tidak mau grupmu tidak mendapat dukungan dari agensi atau lebih parah lagi ditangguhkan, bukan?" ucap sang CEO dengan nada datar.
Naya sedikit terkejut dengan perkataan atasannya. Inikah hal yang harus dibayarnya untuk menjadi seorang idol? Merelakan hidupnya sendiri untuk jutaan orang di luar sana yang bahkan tidak benar-benar mengenalnya. Meski begitu, Naya tetap menggelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa ancaman itu bukan sekadar ucapan main-main.
Keluar dari ruangan itu, ia bisa melihat Darsa berdiri menyandarkan dirinya pada dinding. Pandangannya semula menatap lantai sebelum menyadari keberadaan Naya. Pria itu menghampiri Naya yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
Ia menatap Naya di depannya. Yang ditatap justru menundukkan pandangan. Naya tidak memiliki keberanian menatap pria di hadapannya tanpa mengeluarkan air mata. Matanya bahkan sudah kesulitan menahan air mata bahkan tanpa melihat wajah kekasihnya.
"Naya, lihat aku!" pinta Darsa yang tidak dituruti oleh Naya.
Kedua tangan Darsa menangkup kedua pipi kekasihnya, memaksanya untuk melihat ke arahnya. Darsa dapat melihat bulir air mata yang baru saja berhasil lolos dari mata sang gadis dan membasahi jarinya.
"Maaf! Ini salahku. Harusnya aku ngga perlu buat kamu nyaman sama aku. Kamu pasti ngga akan nangis hari ini. Maaf!" lirih Darsa. Tangannya bergerak mengusap air mata Naya yang tak berhenti mengalir meskipun ia ingin.
Naya menggelengkan kepalanya. Apa pun yang terjadi hari ini bukan salah Darsa, bukan salah siapa-siapa. Namun, lidah Naya terlalu kelu untuk mengatakan hal itu. Pikirannya penuh dengan hal-hal yang mungkin Darsa akan ucapkan selanjutnya. Tak satu pun dari kemungkinan itu yang menyenangkan hatinya. Pada akhirnya, mau tidak mau, hubungan ini pun pasti akan berakhir hari ini juga.
"Hubungan ini cuma sampai sini aja, kan, Sa?" Susah payah Naya memaksa dirinya untuk bertanya. Ia sebenarnya tidak perlu jawaban atas pertanyaannya, tapi di lubuk hatinya yang terdalam, ia berharap memperoleh jawaban tidak.
Bukan ya atau tidak ataupun gelengan dan anggukan yang Naya terima. Darsa justru menarik Naya ke dalam pelukannya yang kemudian dibalas oleh Naya. Lagi-lagi, Darsa mengucapkan maaf ke sekian kalinya di mana setiap kata maaf yang keluar dari mulut Darsa menipiskan harapan Naya untuk selalu bersama dengannya.
"Sa, kita harus berangkat sekarang," ucap seseorang yang entah sejak kapan berada di sana.
__ADS_1
Pelukan keduanya terlepas dan memandang ke arah asal suara itu berada. Terlihat manajer Darsa dan juga manajer Naya berdiri sedikit jauh dari mereka dengan tatapan sedih. Hati mereka ikut merasakan sakit melihat sepasang kekasih yang terpaksa harus berpisah. Namun, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Inilah kenyataan yang harus mereka terima.
"Tetep jaga diri kamu baik-baik, ya? Aku pergi dulu," ujar Darsa pelan sambil mengusap puncak kepala sang kekasih untuk yang terakhir kalinya.
"Kak, jaga Naya terus, ya?" ucap Darsa pada manajer Naya yang kini sudah berdiri di sebelah Naya. Setelahnya, Darsa melangkah pergi bersama manajernya dan perlahan punggungnya pun menghilang dari pandangan Naya.
***
Untuk yang pertama kalinya, akhirnya Naya bangkit dari tempat tidurnya setelah tiga hari hanya berbaring di atasnya. Ia mendekat pada jendela kamarnya, melihat dunia luar yang terlihat baik-baik saja. Matahari masih bersinar terang di luar dan kini sinarnya juga menyinari kamarnya. Pepohonan masih sama hijaunya seperti sebelumnya. Tidak ada yang hancur selain dirinya. Hal itu membuat Naya tersenyum kecut. Ia sedikit terganggu dengan fakta bahwa semuanya masih berjalan baik-baik saja, kecuali dirinya.
Naya menatap sekeliling kamarnya hingga netranya terkunci pada satu sudut, tempat beberapa foto polaroid tergantung. Ia mendekati sudut itu untuk melihat lebih jelas. Semuanya adalah foto dirinya dengan Darsa. Naya melepas polaroid itu perlahan dan memandanginya satu per satu. Dalam ingatannya, terputar setiap kenangan yang masih tersimpan dengan baik. Ia lagi-lagi menitikkan air mata yang segera diseka dengan kasar olehnya.
"Jangan nangis lagi, Nay! Sampai kapan mau kayak gini?" monolog Naya. Ia mempercepat gerakannya, melepas gantungan setiap polaroid yang tergantung. Beberapa barang pemberian Darsa juga menjadi sasaran tangannya. Ia harus segera menyingkirkan barang-barang itu.
***
Hari berikutnya, Naya sudah bersiap-siap sedari pagi. Begitu pula dengan teman-teman satu grupnya yang lain. Seperti yang dikatakan Prima sebelumnya, mereka memiliki jadwal fansign hari ini. Seperti yang dikatakan Prima sebelumnya juga, ia tidak boleh egois dan mengecewakan para penggemarnya. Ditambah lagi dengan adanya klarifikasi dari agensi bahwa rumor tersebut tidak benar dan mereka hanya teman dekat membuat Naya tidak memiliki alasan untuk terlihat sedih di depan publik. Ia tidak boleh terlihat seperti orang yang sedang patah hati di depan penggemarnya.
"Kak Nay beneran udah gapapa?" tanya Wilo, si bungsu.
Mereka sedang berada di ruang tunggu. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum acara fansign dimulai, meski begitu para fans telah meramaikan lokasi.
Wilo yang berdiri di belakang Naya memeluk sosok perempuan yang lebih tua darinya dari belakang. "Semangat, kak. Kakak pasti bisa," ucapnya seraya memegang kedua pundak Naya dari belakang. Naya balas menepuk punggung tangan si bungsu yang berada di pundaknya sambil tersenyum tulus.
Acara fansign telah dimulai 20 menit yang lalu. Naya dan empat member lainnya telah duduk dan sedang berbicara dengan fans yang selalu berganti setelah semenit terlewat sambil menandatangani photobook milik penggemar.
"Kakak beneran pacaran sama Darsa?" tanya salah satu penggemarnya.
Naya yang sedang melihat-lihat bagian mana yang harus ia tanda tangani di photobook terkejut mendengar pernyataan itu, namun segera ia kendalikan. Ia kemudian hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Darsa hanya seorang teman. Banyak orang salah mengira tentang hubungan kami, tapi kami benar-benar hanya berteman."
"Untunglah. Aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya kalau harus putus karena kondisi seperti itu," ucap penggemar itu.
"Siapa namamu?" tanya Naya. Ia segera menulis dengan spidol di tangannya setelah lawan bicaranya menjawab. Naya menuliskan ucapan terima kasih. Bukan hanya karena telah mendukung Naya dan grupnya, tetapi juga karena sudah peduli dengan kondisi Naya. Setidaknya, berkat seseorang itu, perasaan Naya menjadi sedikit lebih baik. Bahwa tidak semua orang membencinya akibat kabar dating itu.
Kurangkai kata demi kata
Menuliskan setiap rasa yang ada
Air mata ikut melukis cerita
__ADS_1
Bercerita melalui melodi berirama
Apa lagi yang bisa kulakukan?
Kembali kuukir senyum di bibir
Meski hati tengah dilanda getir
Bagai manusia yang selalu bahagia
Tak sangka topeng terpasang sempurna
Mengelabui jutaan manusia
Diam-diam menaruh harap
Agar kesedihan segera menguap
Meski terlihat bahagia, semua hanya pura-pura
Langit malam telah menyaksikannya
Betapa hancur dirinya
Hanya maaf dan pesan singkat
Mengakhiri hubungan yang singkat
Aku masih di sini
Terjebak dalam kerumitan labirin hati
Selayaknya orang terbodoh di bumi
Mungkinkah akan bahagia?
Mungkinkah aku lupa?
Semua terasa tidak baik-baik saja
__ADS_1
Meski begitu, patah hati itu tak berakhir begitu saja. Tak ada satu malam pun yang dihabiskan olehnya tanpa mengeluarkan bulir air mata. Ia masih mendekap semua kenangan itu. Entah enggan untuk lepas atau tak bisa lepas.