
Inspired by : Orange (오레지) – Treasure
Jantungku berdegup kencang. Akhirnya, hari yang dinanti-nanti tiba juga. Hari di mana akhirnya kita bisa bertemu lagi. Ah, ingin sekali rasanya menyalahkan semesta! Mengapa kita berdua seakan-akan tak direstui oleh waktu dan jarak? Namun, tak apa. Hari ini, aku akan bertemu dengannya lagi setelah sekian lama.
Setelah memandangi pantulan diriku di cermin sekali lagi, aku pergi untuk menemuinya. Tidak jauh, aku masih bisa menempuhnya dengan berjalan kaki. Lagipula, cuaca hari ini indah sekali. Matahari bersinar dengan hangat bersamaan dengan semilir angin sepoi-sepoi yang menyejukkan, persis sepertinya.
Tempat ini tak pernah berubah. Pagar kayu yang membatasi jalanan dan sungai. Pohon besar dengan ranting dan dedaunan yang sangat lebat. Mungkin yang berubah adalah rerumputan yang bertambah tinggi setiap harinya, lalu terpangkas habis di kemudian harinya. Aku menunggunya datang dengan sepeda putih yang biasa ia naiki setiap kami bertemu, sembari memandangi air sungai yang memantulkan langit biru dengan gerombolan awannya.
"Hai! Udah lama, ya?" sapanya sambil menepuk pelan pundakku.
Senyumku yang sudah terpatri sedari tadi semakin melebar setelah mendengar suaranya. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya, "Hai! Engga sama sekali."
Ia terlihat seperti malaikat dengan gaun putih selutut. Aku sempat terpaku sejenak sebelum ia melambaikan tangannya di depan wajahku dan tertawa. "Melamun lagi?" tanyanya.
Aku menggeleng, "Kamu cantik."
Ia lagi-lagi tertawa. Tawa yang akan selalu menjadi candu untukku. "Kamu juga keren," pujinya.
Aku tersenyum. Ia selalu memujiku keren, bukan tampan. Menurutnya, keren itu melebihi tampan. Opininya memang ada-ada saja, tapi itulah yang aku sukai darinya. Kami berdiri bersebelahan menghadap air sungai yang terus mengalir dengan tenang. Tak ada percakapan apa pun, meski begitu ini tetap menyenangkan. Bersamanya selalu menyenangkan.
"Mau ke bawah?" tanyanya. Aku mengangguk.
Sambil berpegangan tangan, kami menuruni tangga dan duduk bersebelahan di tepi sungai. Kepalanya ia sandarkan pada pundakku. Arah pandangan kami menuju pada sungai di hadapan kami. Dari sini, suara aliran sungai terdengar lebih jelas.
Kami membincangkan banyak hal, mulai dari keseharian kami, film dan buku favorit kami yang baru saja dirilis, teman-teman, juga keluarga, hingga hal-hal random yang melintas begitu saja di kepala. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Tiba-tiba saja matahari sudah berada di hadapan kami dan bersiap-siap menenggelamkan dirinya.
__ADS_1
"Aku engga mau pergi," katanya pelan tanpa menolehku.
"Aku juga, tapi matahari sebentar lagi tenggelam. Mau engga mau, kita harus kembali." Aku baru saja hendak berdiri, tapi ia menahanku.
"Sebentar lagi," ucapnya pelan. Aku masih dapat melihat matanya yang berkaca-kaca, meski langit sudah sedikit gelap.
"Kamu bisa telat pulang ke rumah," kataku. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha menahan kesedihan dan keegoisanku. Sejujurnya, aku juga tidak ingin pergi. Aku tidak ingin ia pergi. Aku berharap waktu bisa berhenti sejenak, tapi tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi.
Kami berdua akhirnya beranjak bangun. Aku tahu ia sedang menyembunyikan tangisannya, meski aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Ia seakan enggan menatap diriku dan terus menunduk. Sebelum ia benar-benar pergi, aku memeluknya erat. Ah, rasanya aku tidak ingin melepaskannya!
"Jangan nangis! Nanti kita ketemu lagi. Aku sayang banget sama kamu," kataku sambil menatap langit malam. Aku tidak boleh menangis di depannya.
Aku melepas pelukanku dan memandangi wajahnya. Ada jejak air mata di kedua pipinya yang segera diseka olehnya sebelum sempat aku melakukannya. Ia segera menaiki sepeda putih miliknya. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh padaku terlebih dahulu dan melambaikan tangannya. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena langit semakin gelap. Aku balas melambai sambil tersenyum selebar yang aku bisa dan diam-diam berharap agar ia tak bisa melihat kesedihan yang terpancar dari mataku.
Hari ini, matahari terbenam lagi
Ucapan selamat tinggal kesekian kali
Sayangnya, waktu tak bisa berhenti
Kita harus kembali
Hanya senyum yang dapat kuberi
Ketika melepasmu pergi
__ADS_1
Meski hati ingin menahanmu di sini
Sampai nanti lagi
Hari ini, matahari terbenam lagi
Lembayung senja tanda akhir hari
Akhir pertemuan ini pula
Aku tak sanggup menatap matamu
Lagi-lagi, aku menangis
Senyum yang tak senada dengan hati
Senyum yang melepasku pergi
Maaf ini harus terjadi
Aku harus kembali
Sampai nanti lagi
Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Hari sudah berakhir. Ia sudah kembali. Aku pun juga harus kembali. Tak boleh ada sesal, tak boleh ada tangis lagi. Namun, semakin sulit menahannya seiring langkah kakiku berjalan pulang.
__ADS_1