
Pagi itu tampak suram dengan awan kelabu yang menghiasi langit. Tidak ada cahaya matahari sedikit pun yang mampu menembusnya. Bulir-bulir air berjatuhan semakin derasnya. Sedangkan, aku sibuk menunggu hujan reda di sebuah halte. Metromini yang biasanya lewat pun hilang entah kemana. Sumpah, aku benar-benar sudah pasrah kalau misalkan nanti akan dihukum karena terlambat. Beruntung aku tidak sampai basah kuyup karena sampai di halte di waktu yang tepat.
Saat sedang asik menunggu, seorang lelaki jangkung dengan seragam yang sama denganku datang terburu-buru. Ia memegang payung yang sedang mengembang. Sialnya, karena halte yang sempit—meski hanya ada kami berdua—tetesan air hujan yang tersisa di payung itu menimpaku.
"Astaga! Payung lo!" Aku spontan berteriak kesal dan berdiri mengindar.
Lelaki itu buru-buru menoleh dan segera mengatupkan payungnya sambil mengatakan maaf.
"Lo anak smansa juga? Bareng gue aja kalau gitu, daripada telat. Diem di sini juga bakal basah," ajaknya.
Aku melongo diam. Sok akrab sekali dia. Dan juga, apa maksudnya bareng? "Maksud lo bareng pake payung itu?" Aku menunjuk payung hitam yang kini sudah tertutup.
"Iya. Muat kok berdua," jawabnya santai.
Aku menatapnya aneh. Anak ini sedang modus, ya? "Engga usah, makasih. Gue nunggu hujan reda aja."
Ia berdecih, lalu menarik tanganku hingga mendekat padanya. Kemudian, ia mendekap tubuhku dari samping dengan tangan kirinya. Sedangkan, tangan kananya kembali mengembangkan payung, lalu kami melangkah ke luar dari naungan halte. Menerobos hujan yang cukup deras hanya dengan satu payung yang tidak terlalu besar. Aku tidak sempat menolak karena kejadian itu berlangsung dengan cepat.
"Ikutin gue kalau engga mau seragam lo basah!" titahnya dengan suara pelan.
Aku yang semula ingin melepaskan diri dari dekapannya, terpaksa harus terus melangkah. Kami berdua terus berjalan di bawah naungan satu payung dengan posisi yang sangat dekat. Astaga, aku bahkan bisa mencium wangi parfumnya!
__ADS_1
Setelah menit yang terasa sangat panjang, akhirnya kami sampai juga di sekolah. Hujan masih enggan untuk berhenti, tetapi setidaknya tidak sederas tadi. Gerbang sekolah masih terbuka sedikit dan kami segera menuju lobi sekolah. Baru di sanalah, lelaki itu melepaskan dekapannya.
"Sorry, gue main peluk aja. Tapi kalau gue ninggalin lo tadi, pasti lo bakal terus kejebak di halte. Jadi, sama-sama," ucapnya agak songong. Ia menutup payungnya dan mengetuk-ngetuk sedikit payung itu ke lantai.
"Gue udah bilang engga usah. Lo aja yang tiba-tiba narik gue biar ikutan. Tapi maaf aja, nih! Gue bukan tipe orang yang gampang baper sama perlakuan klasik kayak gitu. Modus-modus lo engga akan berhasil di gue. Bye!" Aku langsung pergi meninggalkannya sendirian.
"And thanks! Kalau budi lo mau gue bales, dateng aja ke kelas XI IPS 1," sambungku sebelum benar-benar pergi.
Siapa sangka, pertemuan tanpa sengaja itu membuatku dekat dengannya. Ah, tarik kembali kata-kataku saat itu! Sekarang, ia justru menjadi pacarku. Modus apa yang engga akan berhasil, bohong.
Sore ini, hal yang sama terulang kembali. Kami berdua lagi-lagi harus berbagi payung. Iya, masih payung hitam itu. Namun sekarang, sudah saatnya pulang. Satu lagi, kali ini aku tidak melakukannya dengan terpaksa. Justru sebaliknya, aku sangat bahagia.
Saat itu, hujan masih melanda semesta
Kau datang tiba-tiba tanpa diminta
Dengan payung hitam mengembang di atas kepala
Kau ajakku ikut denganmu
Menuju gerbang sekolah yang hendak tertutup
__ADS_1
Lari berdekatan dinaungi payung kecil
Layaknya berada dalam sebuah drama televisi
Hari itu memulai kisah kita
Tanpa disengaja, kini kita bersama
Kebetulan menjelma takdir atau sebaliknya
Apa pun itu namanya, cinta kita
Benar nyata adanya
Hujan hari ini menjadi saksinya
Payung hitammu di atas kepala
Kita berdua yang sibuk tertawa
Melawan deras hujan yang tak ada habisnya
__ADS_1