
Namaku Dea. Aku harap kalian tidak lupa dengan nama ini. Kalau lupa, silakan kembali membaca "Menunggu Cinta" agar bisa ingat lagi. Singkatnya, aku adalah sahabat Gea yang sedang digantung si gebetan. Habin namanya.
Sudah berbulan-bulan sejak Habin mendekatiku untuk pertama kalinya. Hingga sekarang pun, kami hanya dekat. Dekat dalam artian teman, tetapi rasanya terlalu dekat jika hanya teman. Namun, Habin dapat dipastikan bukan pacarku karena ia tidak pernah menembakku secara langsung. Di sinilah aku terjebak sekarang, hubungan tanpa status. Teman terlalu dekat, pacar belum jadian. Kadang pertanyaan tentang status hubunganku dengan Habin cukup membuatku bingung sendiri, bahkan kadang sampai uring-uringan tidak jelas.
"Kok Habin engga nembak gue juga, ya?" rengekku pada dua sahabatku itu.
"Kalau dia engga nembak, lo aja yang nembak," ucap Gea enteng.
"Gue, kan, bukan lo, Ge. Lagian, masa cewek yang nembak cowok?" dumelku padanya.
"Anggap pacar aja, sih. Emang kenapa?" Giliran Vinda yang beropini.
"Engga bisa. Nanti kalau dia engga anggap gue pacar gimana? Gue yang malu dong?"
"Lama lo! Gue aja yang tanya ke Habin." Gea bersiap untuk meneriakkan namanya, tetapi aku lebih siap untuk menutup mulutnya dengan tanganku.
"Shhht! Engga teriak juga dong, Ge! Iya, iya. Nanti gue yang tanya sendiri," finalku. Walaupun belum pasti juga aku akan benar-benar bertanya pada Habin.
Kalian pasti paham dengan risiko yang kudapat jika aku tiba-tiba bertanya begitu? Kalau bukan mengubah status, berarti mengubah situasi. Habin bisa saja langsung menjauh dan aku tidak akan bisa melakukan apa-apa. Namun, jika aku tidak bertanya, aku juga yang akan bingung dan sakit oleh pemikiran diriku sendiri. Menerka-nerka sesuatu itu tidak enak, bukan?
Malam minggu, Habin mengajakku pergi makan dan jalan-jalan sebentar. Kami lebih dulu makan di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Setelah makan, kami pergi ke taman kota. Katanya, ada live music dan stan-stan makanan.
"Kamu sering ke sana?" tanyaku saat dalam perjalanan. Sengaja kutinggikan suaraku agar Habin bisa mendengar di sela berisiknya jalanan.
"Engga. Ini pertama kali. Rekomendasi temanku, cocok untuk malming-an katanya. Jadi, aku ajak kamu," balasnya yang juga sedikit berteriak.
"Sebenarnya kita ini apa, sih?" tanyaku yang sangat tidak nyambung, kali ini dengan volume normal.
Jujur, setelah kalimat itu ke luar dari mulutku, aku pun ikut terkejut. Bisa-bisanya kalimat penting begitu kukatakan begitu saja, di tengah jalan pula. Kalau Habin mendengar, canggung sudah kegiatan malam minggu ini.
"Apa? Kamu ngomong apa?" teriaknya.
"Engga ngomong apa-apa. Kamu dengar apa?" balasku berteriak. Aku harus berbohong karena belum siap mendengar jawaban darinya.
Ia menggeleng. Lalu, suasana lengang di antara kami berdua. Hanya bunyi klakson kendaraan memenuhi indra pendengaran kami. Untung saja Habin tidak mendengar kalimat spontanku.
Sepuluh menit kemudian, kami sampai di taman kota. Habin menggenggam tanganku dan berjalan menuju tempat yang sudah dipenuhi banyak orang. Aku selalu menyukai perlakuan manisnya. Meski hanya genggaman tangan ataupun hal kecil lainnya, itu dapat membuatku tenang dan merasa spesial dalam kehidupannya. Sejenak aku bisa berhenti bertanya-tanya mengenai status kami berdua.
Tanda tanya dalam kepala
Hilang timbul sesukanya
__ADS_1
Anehnya, aku diam seribu bahasa
Menelan pahit liarnya pikiranku
Dibanding bertanya padamu
Aku tak mau renggang
Tak mau kau hilang
Kita harus terus bersenang-senang
Berdua, bersama mencipta benih asmara
Meskipun lama, kutetap menunggunya
Lebih baik aku bertahan
Dibanding tersiksa akan penyesalan
Lagi pula, bersamamu aku bahagia
Membangun batas, tak boleh dilewati
Jika kau mendengar
Jika kau membaca
Jika kau lebih perasa
Aku tak akan gundah gulana
Menanti hal tiada ujungnya
Yang kadang buatku nyaris gila
Kami duduk di salah satu bangku yang disediakan oleh stan makanan di sana. Menunggu burger dengan kentang goreng selesai dimasak.
"Kamu masih lapar?" tanyaku pada Habin. Pasalnya, ia memesan burger dan itu bukan burger biasa. Ia memesan double barbeque beef yang cukup tinggi. Padahal, tadi kami juga sudah makan di restoran.
Ia terkekeh sebentar dan menjawab, "Engga, sih, tapi belum kenyang."
__ADS_1
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. "Tenang, nanti aku yang bayar semuanya. Tidak menerima penolakan," sambungnya lagi.
Kondisi keluarga Habin memang cukup berada, bahkan terbilang kaya. Namun, ia tetap rendah hati dan bersikap sebagaimananya anak SMA. Itulah yang kusuka darinya. Maksudku adalah aku menyukai sikapnya yang rendah hati, meskipun ia berasal dari keluarga yang berada. Bukan berarti aku menyukai dirinya yang kaya karena aku bukan perempuan yang tergila-gila dengan harta.
Setelah mendapatkan pesanan kami, Habin tiba-tiba membahas percakapan terakhir di motor. Soal pertanyaanku yang mengenai status kami berdua. Dia menanyakan apa yang kutanyakan saat itu. Aku seketika berhenti menyuapkan kentang goreng ke mulutku.
"Nanya kamu sering ke sini atau engga, kan? Kamu udah jawab tadi," kataku pura-pura tidak tahu.
"Masa, sih? Aku kayaknya dengar kamu nanya yang lain, deh. Setelah kamu tanya itu." Habin tidak percaya.
"Engga ada. Mungkin kamu salah dengar," bantahku.
Habin menyerah. Ia kembali memakan burgernya, begitu pun aku yang kembali menyuap kentang goreng sambil berusaha untuk tenang. Lalu, aku meragukan fakta tentang Habin yang tidak mendengar pertanyaanku itu karena tidak lama kemudian, ia kembali bertanya seperti ini.
"Anyway, kamu anggap aku apa?" tanyanya tiba-tiba yang hampir membuatku tersedak. Ia menyambung lagi, "Tiba-tiba kepikiran aja, sih. Jadi?"
Aku tidak langsung menjawab karena masih mengunyah. Selain itu, aku juga bingung harus menjawab apa. Jadi, kuputuskan untuk balik bertanya. "Kamu sendiri anggap aku apa?" kataku setelah menelan makananku, berusaha untuk tetap tenang.
Habin terlihat berpikir dan menerawang ke langit. Sedangkan, aku menunggu dengan gelisah. Takut jawabannya tidak sesuai dengan harapanku atau anggapanku selama ini.
"Kalau aku anggap pacar, boleh engga?" tanyanya. Wajahnya terlihat sedang menggodaku sehingga aku meragukan kebenarannya. Jadi, aku hanya diam agar tidak malu sendiri.
"Boleh engga? Kita udah lama bareng terus, tapi belum ada kejelasan, kan? Aku mau perjelas sekarang. Kamu mau engga aku anggap pacarku?" Kini, Habin terlihat lebih serius. Ia juga sudah menaruh kembali burgernya di atas piring kertas dan mencondongkan tubuhnya ke arahku.
Aku diam. Otakku seperti membeku. Semua tubuhku menegang dan seperti tidak bisa digerakkan. Akhirnya, aku hanya bisa mengangguk sekali sebagai jawaban. Itu pun dengan susah payah karena lidahku masih kelu untuk mengatakan "Ya" langsung.
Habin mengepalkan tangannya sambil bergumam "Yes!" sebelum kembali berkata, "Sekarang udah kejawab pertanyaannya, Tuan Putri? Status kita sekarang adalah pacaran."
"Kamu ternyata dengar?" tanyaku kaget, meski aku sempat menduga begitu. Respon Habin hanya tertawa.
Dapat kurasakan wajahku menghangat. Mungkin warnanya juga ikut berubah menjadi merah. Jantungku pun ikut berdebar semakin cepat. Ternyata, hasil dari penantianku tidak buruk.
**Hai, semua! Apa kabar? Waktu berjalan cepat, ya? Sekarang udah Maret aja. Gimana Februarinya? Menyenangkan atau malah menyedihkan? Bagaimanapun itu, semoga di bulan ini ada banyak hal baik yang datang ke kalian.
Maaf karena baru **update **bab baru lagi. Kalian pasti bosan dengar permintaan maafku, jadi terima kasih bagi yang terus menunggu dan membaca.
Di antara kalian, ada yang pernah mengalami hal yang sama kayak Dea? Menjalani hubungan tanpa status dan selalu meminta kepastian. Pastinya tidak semua cerita berakhir bahagia seperti Dea karena yang bahagia cuma ada di dalam cerita. Kalian bisa cerita pengalaman HTS kalian di komen atau **request tema selanjutnya. Aku tunggu cerita dan request **dari kalian. Sampai jumpa!
Jangan lupa follow instagram aku @aisy.deli
Tetap jaga kesehatan kalian. Selamat Hari Raya Nyepi juga buat kalian yang merayakan**
__ADS_1