
Hari ini, Rabu, 25 November. Taukah kalian hari ini hari apa? Iya, hari ini adalah Hari Guru. Biasanya pada hari ini akan diadakan upacara untuk memperingatinya. Semua siswa dan guru berkumpul di lapangan, bersiap mengikuti upacara dengan baik. Lalu, sehabis upacara, para murid akan memberikan hadiah secara personal, seperti bunga atau coklat kepada guru-guru. Kemudian, berfoto bersama sesuai kelas masing-masing dengan wajah dipenuhi senyum lebar dan kedua tangan membawa bunga ataupun coklat.
Namun sekarang, tentu saja tidak seperti itu. Keadaan mengubah segalanya, menjauhkan jarak kita. Pembelajaran saja masih melalui layar handphone, apalagi hanya sekadar berkumpul di sekolah, hampir tidak pernah. Tidak ada lagi upacara dengan banyak peserta berdiri siap di lapangan. Sekarang mungkin hanya para guru dan OSIS yang bertugas mengikutinya. Semuanya serba terbatas. Bunga dan coklat mungkin juga tidak bisa dikirim dan diterima secara langsung. Untungnya, ucapan selamat dan terima kasih serta maaf tetap bisa tersampaikan hingga memenuhi isi grup kelas. Mengembangkan senyum meski jari lelah harus men-scroll tanpa henti hingga perbincangan habis.
Tetapi, suasana tetap saja berbeda. Tulisan berbeda dengan suara. Meski sudah menginjak kurang lebih 8 bulan belajar dari rumah, momen seperti ini tetap saja terasa berbeda. Suasana yang biasanya ramai menjadi sepi. Teriakan semangat dalam berbagai lomba hanya bisa diucapkan lewat kata-kata tanpa intonasi hingga menimbulkan kesan berbeda. Tahun ini memang tidak semeriah sebelumnya. Sekolah yang biasanya dipenuhi dengan anak sekolah sudah tidak berlaku lagi saat ini. Bunyi bel yang biasanya berdering juga tidak pernah kudengar langsung lagi. Lagu-lagu yang selalu muncul sebelum pelajaran pertama dimulai juga tidak berdendang lagi. Tapi, mau bagaimana lagi? Harus diterima, bukan? Walau harus dengan berat hati. Namun, jangan pernah putus asa menghadapi! Bukankah Januari akan segera kembali? Lalu, kita bisa bertemu lagi dalam suasana yang lama tak terjadi.
Dan, untuk hari spesial ini. Kuhadirkan puisi yang benar-benar berbeda dari puisi sebelum-sebelumnya. Bagi para guru atau pengajar lain yang membaca puisi ini, semoga kalian menyukainya dan tetap semangat menebar ilmu pengetahuan.
Langit tanpa bintang tanpa purnama
Gelap kulihat di mana-mana
Tanpa adanya secercah cahaya
Kutermenung dalam kecewa
Berusaha tidak menitikkan air mata
Menjalin rangkaian kata bahasa
Agar kubisa bercerita padanya
Tentang memori yang tertinggal jauh di sana
__ADS_1
Pada masa itu
Kupunya kesempatan itu
Melihat wajah manusia-manusia itu
Setiap hari kecuali Minggu
Namun, pada masa ini
Saat dunia sedang melindungi diri
Dari pandemi yang belum berhenti
Di saat semua hanya dari rumah
Bukan lagi dari sekolah
Yang menambah susah payah
Meningkatkan rasa lelah
Namun, kau tak menyerah
__ADS_1
Engkau berdiri tegak, tak mengaku kalah
Tetap berusaha tegar, selalu tabah
Engkau pahlawan tak kenal lelah
Julukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Memang selalu sesuai untukmu
Pekerjaan mulia bagi kaumku
Tak pernah lelah menghadapi kaumku
Engkau bagaikan irama lagu
Yang akan selalu menjadi favoritku
Tak pernah lekang oleh waktu
Kudoakan engkau agar sehat selalu
Ini ucapan terima kasihku kepadamu semua. Orang-orang, entah perempuan atau pun lelaki yang pernah mengajariku di sekolah, kuucapkan terima kasih karena sudah mampu membimbingku dengan sebaik mungkin. Maafkan kesalahanku yang disengaja maupun tidak kusengaja. Semoga engkau tetap berdiri tegak, tidak dengan kepala menunduk.
__ADS_1
~Selamat Hari Guru <3~