
Namaku Raja. Aku adalah anak rantauan yang sudah tiga tahun tidak berjumpa dengan keluargaku. Aku memang sengaja tidak pulang. Jika kalian bertanya kenapa? Aku juga tidak tahu alasannya. Rasanya takut untuk kembali pulang, namun rasa rindu pun tak bisa dipungkiri lagi. Selalu bimbang setiap akhir tahun, pulang atau tidak, ya?
Aku pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan, mencari kehidupan yang lebih baik untuk diriku sendiri dan juga keluargaku jauh di sana. Tidak mudah mencari pekerjaan di kota, sebulan harus bekerja serabutan, hingga aku pun mendapat pekerjaan tetap. Senang rasanya, bahagia. Aku bekerja dengan semangat, selalu memikirkan keluarga yang kutinggal. Setiap malam selalu melakukan panggilan telepon, tidak bisa panggilan video karena handphoneku belum memadai. Hingga hampir setahun aku di kota, mereka menyuruhku mengambil cuti untuk pulang. Ibuk dan Bapak sudah rindu berat padaku, begitu kata adik perempuanku satu-satunya, Eira. Ia masih SMP kelas tiga.
Aku bilang padanya aku akan pulang minggu depan dan ia mengiyakan, lalu segera memberitahu Ibuk dan Bapak. Iya, itu baru rencana awalku. Namun, saat sehari sebelum jadwal keberangkatanku, aku memutuskan urung pulang. Padahal, aku sudah membeli tiket kereta untuk pulang, juga sudah mengambil cuti selama seminggu penuh. Aku hanya merasa takut untuk pulang. Sejak hari itu, aku tidak lagi berkabar dengan mereka. Saat mereka menelepon, aku tidak menjawab atau bilang aku sedang sibuk, serta alasan lainnya.
Tiga tahun berjalan cepat dan terasa hampa. Aku masih merasakan takut untuk pulang. Takut saja. Namun, rasa rindu yang sudah kubendung selama tiga tahun ini rasanya juga mendesakku ingin pulang. Sayangnya, rasa takut itu masih lebih kuat hingga mengalahkan rasa rindu.
Rindu ini sudah tumbuh besar
Rasa takut juga terpelihara hebat
Saling berdampingan di sisi berbeda
Dan enggan menjalin kerja sama
Aku merindukan mereka
Namun, kaki berat melangkah
Seakan magnet tertanam di sana
__ADS_1
Padahal hanya ubin biasa
Aku ingin memeluk mereka
Memeluk erat serta melepas penat
Rasa takut justru mengunci tubuh erat
Agar tak bisa lari dari genggamannya
Teguhkan hati ini
Pergilah untuk sekali ini
Walau kau tak pernah berkata pasti
Percayalah pada raga ini
Sebelum menyesal di kemudian hari
Saat mereka pergi dan tak kembali
__ADS_1
Dan kau tak bisa melihat untuk terakhir kali
Aku pun menetapkan diri serta sudah meneguhkan hati. Tak ada lagi kata nanti-nanti, karena sekarang semuanya harus terjadi dan akan terjadi tanpa terkecuali. Ibuk, Bapak, Eira, aku pulang. Pulang ke dalam pelukan hangat keluarga. Pulang ke rumah yang tak akan pernah tergantikan. Pulang dengan perasaan rindu dan juga takut.
Kini, aku sudah berada di stasiun kereta, siap untuk membeli tiket dengan jam secepat mungkin. Walau rasanya ingin berlari pulang, berdiam diri di kos. Namun, sekarang tidak boleh lari lagi. Semuanya harus terjadi. Tidak ada kata besok-besok atau kapanpun itu. Sekarang saatnya pulang. Pulang kepada mereka.
Sekarang, aku sudah memegang tiket di tanganku. Lima belas menit lagi, kereta akan merapat di stasiun. Sepuluh menit lagi kereta akan merapat di sini. Lima menit lagi kereta akan datang. Tiga puluh detik lagi, ia akan datang. Lima... Empat... Tiga... Dua... Satu... Nol. Kereta sudah merapat sempurna dan pintu sudah dibuka. Aku masuk dan mencari tempat. Tiga jam sepuluh menit lagi aku akan sampai. Sampai kepada mereka yang sudah tiga tahun tidak berjumpa denganku. Rasanya, ingin menangis. Aku berhasil untuk pulang.
Kereta berhenti di tempat tujuan. Aku langsung terburu-buru keluar, menuju rumah lamaku, menuju keberadaan mereka. Aku sudah rindu berat dengan mereka, juga takut bertemu mereka. Namun kini, rindu itu seperti meluap dan menenggelamkan takut. Aku ingin bertemu kalian, sangat ingin.
"Ibuk, Bapak, aku pulang." teriakku dari teras rumah sambil membentangkan kedua tanganku.
Mereka langsung lari setelah mendengar suaraku. Ibuk langsung memelukku erat sekali, Bapak seperti menahan tangis.
"Ibuk kangen sama kamu, Nak. Kenapa baru pulang sekarang? Kenapa gak pernah angkat telepon Ibuk lagi? Kenapa gak kasi tau Ibuk kalau mau pulang?" kata Ibuk setelah melepas pelukannya.
"Maaf, Buk. Maafin Raja yang penakut ini. Ibuk sama Bapak sehat, kan? Eira masih belum pulang?"
Ibuk mengangguk, "Adik kamu pasti senang sekali ketemu sama kamu habis pulang sekolah. Ayo, masuk! Kamu istirahat dulu, pasti capek."
***
__ADS_1
Eira pun pulang setelah aku mandi. Dia langsung memelukku erat dan mengatakan rindu. Walau, setelahnya dia memukul dan memarahiku karena tidak pulang saat itu. Dia sampai menangis. Astaga! Setelah tiga tahun menyendiri, tanpa keluarga di sana, aku kembali merasakan kehangatannya.
Rasanya sesak di dada hilang. Rindu pun telah lepas. Takut pun langsung menguap cepat, tanpa harus diperintah. Ternyata, tidak ada yang perlu ditakutkan. Dia benar, aku tidak akan menyesal jika aku memilih untuk pulang. Terima kasih telah menyadarkanku, diriku.