Kumpulan Puisi Pendek

Kumpulan Puisi Pendek
Aku Hancur


__ADS_3

Menyerah memang tidak mengenal waktu, ya? Padahal sebentar lagi, aku harus menghadapi hal-hal yang lebih berat lagi. Tetapi sepertinya, aku lebih dulu kalah. Hari ini benar-benar buruk. Rasa sakit yang terus menetap di hati tak semudah itu untuk disembuhkan. Kupikir, dengan bersama orang lain dan tawa mereka, aku bisa memulihkan semua energi yang terkuras habis. Namun, tidak. Energi itu justru semakin tak bersisa. Aku semakin jatuh ke dalam lubang yang lebih gelap. Air mata yang kucurahkan sudah habis dan perlahan mengering. Yang tersisa hanya hampa dan rasa sesak, pasrah dengan keadaan.


Orang bilang waktu akan sembuhkan. Namun, bagaimana jika sebelum waktu berhasil menyembuhkan, aku lebih dulu menyerah? Apakah waktu tidak berniat mempercepat kesembuhan hatiku? Aku rasa aku tidak akan bisa bertahan sebelum waktunya.


Jika suatu hari aku menghilang, relakan aku, ya? Mungkin aku sudah tak ada di dunia ini. Mungkin aku lebih bahagia di tempat lain yang tak akan bisa kau raih. Jadi, relakan aku, ya? Meski aku pergi, kamu akan selalu mengingatku, bukan? Dalam hidupmu, aku akan selalu terkenang, bukan? Ah, tidak. Jangan! Mengingat kepergianku hanya akan membuatmu sakit. Aku tidak mau kamu menyusulku secepat ini. Lupakan saja tidak apa. Asal kamu bisa bahagia.


Aku sudah cukup bertahan


Waktu belum juga sembuhkan


Maukah kau merelakan?


Meski aku tak pamit saat berpergian


Lalu, tak pernah kembali lagi


Hidup sudah cukup rumit

__ADS_1


Benang kusut tak kunjung terurai


Dari kepalaku hingga ujung tumit


Nanti pun juga akan diurai


Oleh waktu dan tanah


Aku tak mau kau menangis


Saat aku sudah tak ada lagi


Tapi, coba bangkit lagi


Jangan sepertiku


Surat terakhirku :

__ADS_1


Hai, teman! Aku tahu ini adalah hal aneh. Aku menyuruhmu untuk tetap hidup, saat aku menyerah tentang hidup. Aku menyuruhmu untuk bangkit lagi, saat aku memutuskan untuk menyerah. Aneh, ya? Aku melakukan kebalikannya. Semua hal yang selalu kusampaikan padamu, aku justru tak bisa menerapkannya pada diriku. Manusia ... memang selalu lebih pandai ketika menasihati orang lain dibandingkan dirinya sendiri.


Aku baik-baik saja sekarang. Aku tak akan menyesal, tenang saja. Oh, iya, satu hal lagi. Ini mungkin akan terdengar geli, tapi kumohon untuk tetap lanjut membacanya. Aku sangat menyayangimu, sungguh. Teman yang selalu ada. Di mana lagi aku bisa bertemu orang seperti itu, selain kamu? Maaf, ya? Aku sudah berbohong berkali-kali padamu. Aku selalu bilang baik-baik saja saat kenyataannya tak begitu. Aku terkesan tidak mempercayaimu, ya? Sungguh, aku sangat mempercayaimu. Ingin sekali kuceritakan semuanya, tapi bukankah aku egois kalau begitu? Ah, kau tidak akan paham maksud egoisku. Lupakan saja. Intinya, aku benar-benar sayang padamu. Aku pergi pun karena tak mau membebanimu. Aku tahu aku seenaknya, tapi sekali lagi, relakan aku, ya?


Kau pasti sedang menangis, bukan? Hapus air matamu, lalu lihat ke sisi kananmu. Ada aku di situ, meski kau tak bisa melihatnya. Ada aku di situ yang sedang memelukmu.


***


Itu isi suratnya yang kutemukan di laci mejanya, dua hari setelah ia hilang tanpa jejak. Aku masih menatap surat itu yang sudah kubaca berkali-kali dengan mata sembap. Aku tidak percaya bahwa ia benar-benar pergi meninggalkan semuanya.


Ia bilang, ia akan ada di sisi kananku. Memelukku, tapi tak kurasakan kehangatan semili pun. Hanya ada udara kosong di sana. Pikiranku tak berhenti memarahi tindakan perempuan itu.


Tega sekali dia. Tega sekali ia meninggalkanku seorang diri dalam keramaian tiada henti. Ia menyuruhku berjuang ketika ia sendiri memilih menyerah. Menurutmu, aku bisa melakukannya tanpamu, hah?


Air mata yang tadinya sudah berhenti kembali mengalir. Saat itu juga kurasakan kehangatan pada tubuhku, disusul suara lembut yang menenangkan, "Aku selalu ada bersamamu." Tangisanku kembali menderas. Aku merengekkan namanya, berharap ia akan muncul di depanku dan mengatakan bahwa ini semua hanyalah prank. Tetapi, ia tidak pernah muncul. Seberapa banyak pun aku memanggil namanya, ia tetap tidak pernah kembali.


**Jaga mereka yang sedang dalam ambang keputusasaan. Kita tidak tahu kapan kita akan merasakan kehilangan yang sama. Untuk kamu yang sedang memilih antara mati atau hidup, semangat. Jangan biarkan dirimu tenggelam selamanya bersama arus sesat. Hiduplah demi hal-hal kecil yang selalu kau dambakan.

__ADS_1


@aisy.deli**


__ADS_2