
Aku memiliki seorang teman, namanya Anna. Menurutku, dia orang yang benar-benar baik kepada semua orang, walau setiap orang yang baru pertama kali bertemu dengannya akan beranggapan negatif tentangnya, termasuk diriku. Itu karena wajahnya yang terkesan antagonis dan sedikit berbicara. Namun, percaya padaku, Anna adalah orang yang baik, penuh perhatian, cukup humoris, dan pintar. Walau, saat amarahnya sedang memuncak, dia bisa menjadi sangat kejam.
Suatu hari, dia melakukan panggilan video kepadaku di malam hari sekitar pukul sembilan. Hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya padaku selama bersahabat dua tahun. Anna bukanlah orang yang lebih suka berbicara dengan telepon, apalagi panggilan video. Dia lebih nyaman berbicara lewat tulisan atau teks.
Karena dengan tiba-tiba dia seperti itu, tentu saja aku sigap mengangkatnya. Langsung menyapanya bahagia sekaligus heran setelah tersambung dengannya. Sungguh, aku langsung terkejut. Dia menangis. Hal yang tak pernah ia perlihatkan padaku dan siapa pun itu.
"Gis, aku capek, Gis. Aku ngerasa gak ada orang yang tulus selain kamu, Gis. Aku pengin balas dendam sama mereka, orang-orang yang aku benci. Tapi, aku gak bisa. Aku gak tega. Aku gak berani. Aku takut." katanya sambil terisak yang semakin menderas saat tiba di akhir kalimat.
Aku hanya termangu menatapnya dengan tatapan cemas serta prihatin. Aku masih menunggunya meredakan tangisnya yang tak ada hentinya. Aku ingin dia bercerita semuanya sebelum akhirnya aku berkata. Dia kuat, kataku dalam hati.
Anna, orang yang tak pernah menangis di hadapan siapa-siapa.
Anna, orang yang tak pernah menceritakan masalahnya dan selalu menyimpannya sendirian.
Anna yang selalu baik pada semua orang ternyata bisa membenci orang lain.
Tentu saja. Anna masih manusia, bukan alien. Setiap manusia pasti pernah membenci dan menyimpan dendam. Jujur, tak pernah kubayangkan dia akan berkata seperti ini.
"Capek, Gis. Capek jadi orang yang gak bisa nolak orang lain. Capek jadi orang yang selalu lebih peduli sama orang lain dibanding diri sendiri." katanya sambil menghapus air matanya yang tak berhenti mengucur.
"Selama ini, aku gak pernah mau dan bisa cerita masalah aku ke orang lain. Semua orang itu menyeramkan, Gis. Mereka cuma pura-pura peduli, padahal sama sekali gak menyimak. Kamu beda dari mereka, Gis. Dari awal, aku yakin kamu bisa jadi orang yang benar-benar aku percaya. Maaf kalau sebelumnya aku gak pernah cerita apa-apa sama kamu. Aku masih takut dan sekarang aku coba. Jangan khianati aku, ya, Gis?"
__ADS_1
"Anna, aku yang minta maaf. Aku gak pernah mau nanyain kabar kamu. Aku gak pernah coba cari tahu masalah kamu. Kamu hebat, An. Kamu kuat. Kalau aku ada di posisi kamu, mungkin ceritanya udah beda. Kalau kamu capek, istirahat. Gak perlu jawab kebutuhan mereka kalau kamu gak mau. Gapapa, kamu masih ada aku. Kita jalanin sama sama mulai sekarang." Aku tersenyum padanya dan dia membalas senyumanku sama tulusnya.
Kami berbincang hal-hal random hingga malam semakin larut. Aku menyudahi obrolanku dengan Anna pukul sebelas malam karena aku sudah mengantuk.
"Anggis adalah sahabat terbaik Anna. Selamat malam dan mimpi indah." ucapnya sambil tersenyum menampakkan giginya.
Matanya yang mengalirkan hujan deras sudah hilang sepenuhnya dari wajahnya. Setidaknya, untuk saat ini. Aku tahu dia masih banyak sekali menyimpan masalahnya sendirian. Dan, hal yang dia ceritakan tadi hanya sebagian kecilnya saja.
Dirinya sudah seperti malaikat
Dengan sebuah anugrah atau bakat
Dirinya bisa menjadi orang terhebat
Menampilkan senyum pada wajah
Berusaha untuk selalu tabah
Walau hatinya sudah sering patah
Tegak berdiri tanpa adanya goyah
__ADS_1
Manusia penuh dengan misteri
Menyimpan semua ngeri
Menusuk tanpa henti bagai duri
Menikmati sendirian bagai tari
Kini, senyum itu tulus
Matanya tidak lagi kosong
Selalu saja menatap lurus
Tuli dengan namanya bohong
Senyum hingga mata sipit
Ia sudah sepenuhnya bangkit
Melawan masa-masa sulit
__ADS_1
Terbebas kurungan burung pipit