Kumpulan Puisi Pendek

Kumpulan Puisi Pendek
Kali Kedua


__ADS_3

Inspired by : Hold It In - Treasure


Theo tidak menyangka bahwa ia akan kembali menapaki tempat ini setelah sekian lama. Sebuah kafe yang penuh dengan kenangan tentang seseorang. Kenangan yang kalau saja bisa, ia ingin mengubur kenangan itu selamanya. Dalam rangka itu pula, ia kembali ke tempat ini. Untuk mengenang semua memori yang selalu berhasil menghadirkan rasa sesal dalam hatinya untuk terakhir kalinya. Sebelum ia benar-benar mengubur kenangan itu. Sebelum ia benar-benar membuka lembaran baru dalam hidupnya.


Ia memesan secangkir espresso panas, lalu duduk di meja dekat barista. Kedua manik matanya menatap sekeliling sambil berusaha mengingat suasana kafe kala itu. Banyak hal sudah berubah, begitupun dengan hubungannya. Namun, perubahan kafe ini tentu saja membuatnya terlihat lebih baik. Tidak dengan dirinya yang justru semakin berantakan ketika status kekasih itu berubah menjadi teman atau bahkan orang asing. Tak banyak yang ia lakukan di sana, hanya bernostalgia sambil sesekali menyesap espresso yang terasa pahit di lidahnya. Ia hanya ingin diam dan melamunkan masa lalu sebelum melepaskan segalanya.


Lamunannya seketika buyar ketika mendengar dentingan lonceng akibat seseorang yang mendorong pintu kafe. Pandangannya pun spontan melirik dan membuatnya seketika membeku. Tanpa merasa diperhatikan, seseorang yang baru saja tiba itu pergi menuju meja kasir untuk memesan. Perempuan itu kemudian mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang masih kosong. Ketika itulah, manik mata sang wanita tak sengaja bersitatap dengan manik mata milik Theo. Keduanya tampak tersentak akan kebetulan yang tak sengaja mempertemukan mereka kembali. Bukannya menghampiri, wanita itu justru menjauh dan duduk membelakangi Theo.


Tingkah perempuan itu membuat Theo seketika tersenyum pahit. Sebagai teman seharusnya tidak begitu, bukan? Seasing itukah hubungan mereka sekarang? Ia ingin sekali menghampiri mantan kekasihnya, tetapi kedua kakinya enggan untuk berdiri. Sebagian dari dirinya melarang, tetapi hatinya tak bisa berbohong. Perasaan rindu seketika meluap. Pertemuan ini membangun kembali harapannya akan semua hal yang sudah lama ia pasrahkan.


Theo menenggak habis espresso miliknya dalam satu tegukan, berharap pahit espresso itu membuatnya ingat dengan pahitnya kehidupan dan menghancurkan segala harapannya untuk yang kesekian kalinya. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa dalam hatinya, ia ingin sekali menghampiri gadis itu. Berbincang dengannya, setidaknya untuk yang terakhir kali. Mungkin Theo masih menginginkan jawaban yang lebih jelas daripada hilangnya kontak di antara mereka berdua.


Setelah berbagai pertimbangan, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis itu. Kebetulan bersamaan dengan sang barista yang membawakan pesanan sang perempuan yang kemudian diambil alih oleh Theo.


"Makasih, Kak," katanya pelan, belum menyadari keanehan yang terjadi.


"Udah lama, ya, Na?" balas Theo. Ia beranjak menuju kursi di hadapan perempuan itu dan duduk tanpa dipersilakan.


Perempuan yang dipanggil Na itu tersentak. Ia mengalihkan pandangan dari buku bacaannya demi memastikan pemilik suara itu bukanlah orang yang baru saja dilihatnya.


Theo mengusahakan senyumnya ketika gadis di hadapannya menatap dirinya. "Pergi! Kita udah enggak ada hubungan apa-apa lagi," ucap gadis itu dingin.

__ADS_1


Theo menghela napas berat. Ia tahu betul respon mantan kekasihnya pasti tidak akan bersahabat, tetapi tetap saja nada dingin yang keluar dari mulutnya menusuk hatinya. "Aku tahu, tapi enggak ada salahnya nyapa teman, kan?" tanya Theo berusaha merasa biasa saja selayaknya teman.


Tiba-tiba saja, gadis itu menutup bukunya dengan keras. Pandangannya menatap tajam ke arah Theo, tetapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Theo merasa bahwa itu adalah kode untuknya agar ia bicara.


"Aku kangen kamu, Na. Setiap pagi aku selalu nunggu notif dari kamu. Setiap hari aku selalu berharap bisa denger suara kamu lagi lewat telfon. Aku pengin banget hubungin kamu duluan, tapi aku terlalu takut karena aku tahu aku udah egois dan jahat sama kamu. Aku berharap kamu tahu apa yang aku rasain," Theo mengatakan segala perasaannya dengan terburu-buru karena takut gadis di hadapannya ini akan memotong pembicaraannya, "aku... hari ini, aku mau lupain semuanya, tapi sekarang kamu muncul di sini. Semesta seakan engga mau aku lupa karena..." Theo menghentikan ucapannya. Ia tidak yakin apakah ia harus mengatakannya atau tidak.


Gadis itu tetap diam. Ia justru meraih sedotan dan meminum ice cappuccino miliknya. Sedangkan, Theo memainkan kedua tangannya di atas meja dengan kepala menunduk. Ia merasa harus menunggu lawan bicaranya membuka suara dan menanggapi perkataannya. Meskipun ia tidak menyelesaikan kalimat terakhirnya, tapi ia yakin bahwa perempuan ini paham betul apa maksudnya.


"Karena kamu pikir kalau aku masih punya rasa buat kamu? Maaf, Theo! Mungkin semesta mempertemukan kita lagi bukan untuk menyatukan kita lagi, tapi untuk meluruskan apa yang udah terjadi dan yang selanjutnya akan terjadi," ucap gadis itu dengan nada yang lebih bersahabat.


"Maksud kamu?" Theo bertanya sambil menatap gadis di hadapannya dengan raut bingung bercampur frustrasi. Theo harusnya tahu jawabannya tanpa perlu bertanya, tapi ia memilih untuk berpura-pura dan menyangkal kenyataan yang menimpanya.


"Maksud aku, kamu harus lupain semuanya karena aku juga begitu. Selanjutnya, lebih baik kita enggak usah ketemu. Kalaupun enggak sengaja ketemu, lebih baik enggak ada sapa-menyapa lagi. Status orang asing akan lebih mudah buat kita berdua." Gadis itu seketika bangkit dari bangkunya setelah selesai dengan kata-katanya. Ia bahkan tidak merasa perlu repot-repot untuk mendengar pendapat lawan bicaranya. Ia pergi begitu saja.


Tak ada yang tersisa lagi


Hanya sesal dalam hati


Sebab melepasnya pergi


Kini, aku lagi-lagi sendiri

__ADS_1


Tak akan ada lagi kata-kata mesra


Atau senyum atau sapa


Segalanya berganti, berubah


Asing menjelma kata yang tepat sudah


Karma tak pernah hilang dari permukaan rupanya


Aku akan menguburnya dalam-dalam


Melupakan semua layaknya amnesia


Sampai kau kembali padaku


Sampai kau menggenggam tanganku


Aku pasti melakukannya


Demi kamu, demi aku, demi kita berdua

__ADS_1


Theo masih diam di kursinya hingga beberapa menit ke depan. Pandangannya jatuh pada cappuccino yang masih tersisa setengah. Perempuan itu bahkan membiarkan kopi kesukaannya tersisa hanya karena muak dengan dirinya. Gadis itu tidak menyukai keberadaannya. Satu-satunya alasan gadis itu tidak langsung pergi adalah untuk mengakhiri hubungan ini, lagi. Dan kali ini benar-benar sudah berakhir. Theo sebenarnya masih enggan untuk lupa, tapi ia tak punya pilihan lain lagi. Ia benar-benar harus mengubur semua tentangnya, seperti niat awalnya sebelum pertemuan singkat itu terjadi.


__ADS_2