Kumpulan Puisi Pendek

Kumpulan Puisi Pendek
Menyerah


__ADS_3

Manusia sering kali merasa tidak puas. Semua hal seolah selalu menjadi masalah, apalagi dalam sebuah hubungan. Sikap tidak pernah puas diperumit dengan cara kerja hati yang misterius membuat semua hal terasa salah, bahkan ketika semuanya berjalan baik-baik saja.


Alina menyadari perubahan dalam hubungannya dengan Danu, seorang lelaki yang perhatian, peka, dan selalu menghargai pendapat Alina. Semuanya terasa lengkap. Danu bagai seseorang yang sempurna yang sengaja Tuhan kirimkan untuk Alina seorang. Banyak dari teman-temannya yang kerap mengatakan seberapa beruntungnya Alina mendapatkan lelaki seperti Danu. Akan sangat bodoh rasanya jika Alina pergi meninggalkan Danu demi pria lain. Sayangnya, Alina mungkin benar-benar bodoh.


Selama setahun menjalin hubungan, pertengkaran di antara mereka dapat dihitung oleh jari. Itu pun hanya pertengkaran kecil dan tak pernah bertahan lama karena Danu selalu memilih untuk mengalah. Keluarga mereka berdua juga sudah sangat dekat, restu orang tua tentu bukanlah masalah di dalam hubungan ini. Masalahnya mungkin hanya satu, yaitu diri Alina sendiri yang merasa tidak puas dengan hubungannya sendiri.


Danu bukanlah pacar pertama buat Alina. Namun, baru kali ini Alina merasa bosan dengan hubungannya. Akhir-akhir ini pikirannya selalu bertanya-tanya apa alasannya. Ia yakin betul bahwa tidak ada yang salah dalam hubungannya dengan Danu. Ia merasa nyaman dengan Danu, tetapi entah kenapa nyaman itu terasa berbeda. Terasa hampa. Kosong.


Alina merasa bersandiwara tiap kali bersama Danu yang membuatnya semakin merasa bersalah. Senyum yang biasa ia tunjukkan hanyalah sebuah kepura-puraan demi tidak menyakiti hati sang kekasih. Alina hanya bisa berharap kekasihnya itu tidak menyadari perbedaan yang ia rasakan.


Di tengah-tengah kemelut dan kebimbangan Alina terhadap Danu, tiba-tiba saja mantan terakhir Alina muncul kembali dalam kehidupannya. Entah dari mana pria itu mendapat nomornya setelah lama lost contact.


Hai


Ini Dirga


Apa kabar, Al?


Kening Alina berkerut ketika pertama kali membaca pesan itu. Bingung. Kenapa mantannya tiba-tiba menghubunginya lagi setelah sekian lama?


^^^Aku baik^^^


^^^Kenapa?^^^


Engga


Besok kamu ada waktu?


Boleh ketemu?


Karena rasa penasaran yang melingkupi pikirannya, ia pun menyetujui. Tidak ada salahnya menjalin hubungan pertemanan dengan mantannya, bukan? Hanya teman harusnya tidak masalah, pikir Alina.


Esoknya, mereka bertemu ketika jam makan siang di sebuah restoran dekat kantor Alina. Pertemuan mereka diawali dengan perasaan canggung. Tidak ada percakapan di antara mereka hingga makanan tiba di meja.


"Gimana, Al? Aku denger kamu udah punya pacar lagi," tanya Dirga membuka pembicaraan setelah pelayan yang mengantar makanan mereka pergi.


Alina yang hendak menyentuh makanannya urung. Ia lebih dulu menatap lamat pria di hadapannya sebelum akhirnya bersuara. "Iya. Dia baik. Selalu ngalah dan ngertiin aku," katanya pelan.


"Kamu bahagia sama dia, Al?" tanya Dirga lagi seolah tidak percaya dengan perkataan wanita di depannya.


Alina diam lagi, tidak langsung menjawab. Perasaan ragu memenuhi hatinya membuatnya kembali bertanya pada diri sendiri. Apakah ia bahagia dengan Danu? Bukankah seharusnya ia bahagia mendapatkan pacar sebaik Danu? Namun, kenapa rasanya sulit sekali untuk menjawab iya atau sekadar mengangguk? Meski begitu, Alina akhirnya menganggukan kepala sebagai jawaban. Tangannya mulai menyendok nasi kari yang dipesannya, berharap pria di hadapannya berhenti menanyakan tentang hubungannya sekarang.


Setelahnya, hanya dentingan suara sendok dan garpu yang terdengar di antara mereka. Dirga juga mulai menyantap hidangan miliknya sambil sesekali melirik Alina yang terus menatap makanannya, seperti sengaja menghindari tatapan dirinya. Samar terlihat, Dirga menyeringai. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


Pertemuan Alina dan Dirga tidak berhenti di sana. Hari-hari berikutnya mereka bahkan sering bertemu. Tidak kalah jarang juga berinteraksi melalui chat ataupun telepon. Daripada dengan Danu, Alina lebih sering terlihat bersama Dirga.


"Halo, Danu? Kenapa?" tanya Alina melalui telepon. Sekarang ia sedang makan siang bersama Dirga—lagi.


"Kamu lagi di mana?" tanya Danu. Ada yang aneh dari nada bicaranya, lebih dingin dari biasanya.


"Lagi di luar, makan siang. Kenapa?" jawab Alina dengan sedikit bingung. Nada bicara Danu terdengar tidak ramah, tetapi Alina memilih untuk tidak terlalu peduli.


"Sama siapa?"

__ADS_1


"Sama temen." Dahi Alina semakin mengerut.


"Cowok? Berdua aja?"


Alina tertegun. Tidak biasanya Danu menanyakan hal-hal seperti itu. Selama ini, Danu selalu memercayai Alina dan merasa tidak perlu membatasi pergaulannya. Namun, kenapa kali ini berbeda? Perasaannya menjadi tidak nyaman. Mungkinkah Danu menyadari apa yang sedang terjadi di dalam hubungan mereka?


"Rame-rame kok, sama temen-temen kantor. Kenapa? Tumben nanya gitu." Alina memutuskan untuk berbohong. Ia tidak sanggup mengatakan yang sejujurnya.


"Gapapa. Ya udah, aku tutup, ya? Bye!" ucap Danu, lalu segera mengakhiri panggilan itu tanpa menunggu Alina bersuara. Perasaan bersalah segera menyelimuti Alina. Entah kenapa, ia merasa seperti tertangkap basah. Namun, ucapan Dirga berhasil mengalihkan perhatiannya dan menghalau segala pemikiran buruk, setidaknya untuk sementara.


Alina tidak tahu bahwa kekasihnya sedang berada di restoran yang sama dengannya, bahkan duduk tidak terlalu jauh darinya. Danu menyaksikan semuanya, mulai dari awal mereka memasuki restoran hingga keluar lagi.


Awalnya, Danu hanya beranggapan bahwa lelaki itu adalah klien Alina. Namun, melihat dari gerak-gerik dan beberapa percakapan yang berhasil ia tangkap, mereka berdua terlihat sangat dekat. Belum lagi dengan sikap Alina yang sedikit-banyak berubah ketika bersamanya menimbulkan rasa curiga. Maka dari itu, Danu memutuskan untuk menelepon Alina dari kamar mandi dan betapa hancurnya ia ketika mendengar Alina berbohong. Mungkinkah kecurigaannya itu benar? Danu tidak yakin bahwa ia ingin mengetahui jawabannya.


Dusta menemukan kebenarannya


Curiga berbuah kejadian nyata


Kalau saja bisa,


ia ingin menutup mata dan berpura-pura


Pura-pura tak tahu apa-apa


Pura-pura tak melihat apa-apa


Seperti yang selama ini dilakukannya


Cintanya bagai bertepuk sebelah tangan


Mencoba segala cara


untuk menjadi seorang idaman


Namun ternyata, tak pernah puas juga


^^^Baik-baik saja^^^


^^^Itukah masalahnya?^^^


^^^Atau memang tak pernah ada?^^^


^^^Semua hanya pura-pura^^^


^^^Terbalut rasa sugesti hati^^^


^^^Bahwa memang benar ia mencintainya^^^


^^^Lalu untuk apa?^^^


^^^Setahun seakan terbuang sia-sia^^^


^^^Bermaknakah hubungannya?^^^

__ADS_1


Mungkin tak pernah ada


Mungkin semua hanya pura-pura


Selama ini, hanya dia


Berjuang sendirian, tanpa tahu apa-apa


^^^Mungkin hanya kasih sayang yang ia cari^^^


^^^Dan ada dia di sana menanti^^^


^^^Tidak ada cinta^^^


^^^Hanya rasa rindu mencari kekasih hati^^^


^^^Ini salahnya^^^


^^^Yang ia kira ternyata bukan yang sebenarnya^^^


...Setahun...


...Butuh waktu setahun...


...Hingga mereka berdua sadar...


...Terlalu lamban...


...Untuk menyelamatkan sang hati...


...Dari hubungan tak berdasar...


Setelah hari itu, hubungan mereka menjadi semakin merenggang. Danu yang biasanya sering menghubungi Alina sengaja tidak melakukannya. Sedangkan, Alina hanya menunggu tanpa berniat menghubungi lebih dulu. Selama setahun, memang selalu Danulah yang lebih aktif. Alina lebih sering diam dan menunggu. Di kondisi seperti saat ini pun, Alina masih diam dan menunggu seolah tidak pernah peduli. Danu mulai mempertanyakan perasaan dan komitmen Alina dalam diam. Apakah benar Alina mencintainya? Apakah selama ini, ia hanya berjuang sendirian untuk mempertahankan hubungan ini? Pertanyaan itu muncul kembali dalam benaknya setelah susah-payah ia meyakinkan dirinya sendiri.


Seminggu telah berlalu. Selama itu pula Danu tidak mendapat pesan atau panggilan dari Alina membuat Danu merasa muak. Ia sudah tidak tahan lagi. Tidak ada lagi jawaban yang harus ia tunggu karena semuanya sudah sangat jelas. Berpisah adalah jalan terbaik untuk mereka berdua.


"Halo, kamu lagi di mana?" tanya Danu melalui telepon. Ia sudah berada di dalam mobilnya, siap bertolak ke tempat Alina berada sekarang, di mana pun itu.


"Lagi di taman deket rumah. Kenapa, Dan?" tanya Alina. Ia sama sekali tidak memiliki bayangan tentang apa yang akan terjadi nantinya.


"Aku ke sana. Jangan ke mana-mana!" tegas Danu, lalu mengakhiri panggilan sebelah pihak. Ia segera menghidupkan mobilnya dan melaju pergi secepat mungkin.


Alina merasa bingung, tetapi ia tetap menuruti perkataan Danu. Tadinya, ia baru saja akan pulang setelah berolahraga mengelilingi taman. Namun, sekarang tidak jadi. Ia akhirnya memilih untuk duduk di bangku yang kosong, sendirian. Sembari memainkan ponselnya, ia menunggu. Alina sama sekali tidak penasaran dengan apa yang akan Danu katakan. Mungkin, Alina juga sudah sama muaknya dengan Danu.


Alina mengangkat wajahnya dari layar ponsel setelah menyadari ada seseorang tengah berdiri di hadapannya. Orang itu Danu. Napasnya sedikit terengah-engah sehingga membuat Alina menyimpulkan bahwa pria ini habis berlari. Alina pun ikut berdiri, dan kini mereka telah berdiri berhadap-hadapan. Alina yang menunggu Danu bicara dan Danu yang masih menetralkan napasnya sambil mengumpulkan keberanian dalam hatinya.


"Al, kita putus," ucap Danu akhirnya. Pria itu tidak berani menatap langsung ke mata Alina sehingga pandangannya jatuh pada sepatunya sendiri.


Hening. Alina yang diam saja membuat Danu terpaksa mendongakkan kepala hanya untuk melihat ekspresi gadis itu. Tidak ada kesedihan di sana, hanya wajah datar. Namun, Danu dapat menangkap sedikit perasaan senang dan lega di mata gadis itu yang membuat hatinya semakin terasa sakit.


Masih tidak mendapat jawaban, Danu akhirnya memutuskan untuk pergi. Ia tahu tidak ada gunanya lagi menunggu perempuan itu berbicara, meski dalam hati ia berharap gadis itu akan menghentikan langkahnya. Namun, sampai ia berjalan semakin jauh pun, tidak ada tanda-tanda yang merujuk pada harapannya.


Danu menyerah, begitu juga dengan Alina. Hubungan yang harmonis itu ternyata kandas juga. Namun, hanya satu orang yang tersakiti dalam cerita ini. Yang lainnya hanya berusaha untuk merasa sedih karena menurutnya, itulah yang harusnya terjadi dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2