
Sudah lama aku terbiasa untuk tidak berekspetasi banyak pada orang-orang. Aku tahu bahwa ekspetasi hanya bisa menghantarkanku pada kekecewaan. Dan, kecewa itu menyakitkan. Lebih menyesakkan lagi ketika aku tak bisa menyalahkan siapa pun atas rasa sakitku. Itu karena yang salah adalah diriku sendiri, ekspetasiku sendiri. Memang tidak mudah. Harapan sekecil apa pun akan selalu muncul tanpa bisa dicegah. Begitulah manusia, bukan? Suka menerka dan berasumsi sendiri. Hingga pada akhirnya. ia sadar bahwa apa yang ia pikirkan bisa saja tidak sesuai kenyataan.
Sayangnya, meski sudah terbiasa, manusia juga bisa lupa. Iya, lupa. Lupa kalau seseorang yang biasanya selalu berhasil memenuhi semua ekspetasi, juga bisa selalu berbanding terbalik dengan yang diharapkan. Dan, ini adalah kisah lupaku. Tentang seseorang yang berhasil membuatku terlena dalam arus angan dan harapan, lalu bermuara pada sebuah ekspetasi yang tak pernah diucapkan.
Aku mempunyai seorang sahabat, dia perempuan. Oh iya, ini bukan cerita romansa dua orang yang terjebak dalam status pertemanan atau persahabatan, karena aku juga perempuan. Ini cerita tentang kekecewaan. Kami memang belum lama berteman, tetapi sudah banyak sekali cerita yang kudapat darinya dan cerita yang kubagi padanya. Hampir tidak ada yang tertutupi, semua menjadi transparan di antara kami. Namun, tidak semua opini yang kupikirkan akan selalu sama dengan opininya, bukan?
Saat itu adalah hari pengumuman SNMPTN. Berita baiknya, sahabatku itu diterima di universitas dan jurusan impiannya, Ilmu Komunikasi di UGM. Berita buruknya, aku ditolak yang langsung meluruhkan semangatku. Apalagi setelah mendengar dirinya yang diterima sesuai impiannya selama tiga tahun di SMA. Bukannya aku tidak senang, tapi rasanya ia sedang mengejekku yang ditolak. Ah, tidak, ia mungkin memang benar mengejekku.
"Kamu terlalu idealis, sih! Masuk kedokteran di UGM, kan susah. Mana mungkin kamu diterima," katanya saat itu.
Entahlah, aku tidak tahu ia sengaja atau tidak. Mau sengaja ataupun tidak, rasa sakit yang kurasakan akan tetap ada. Ia seakan mengatakan diriku tidak layak diterima di kampus bergengsi di Indonesia. Ia seakan mengatakan bahwa semua usahaku selama ini hanyalah main-main. Oke, mungkin aku memang tidak selayak itu dibandingkan orang-orang yang lain. Namun, tidak bisakah aku mendapat penghiburan atau kata semangat? Itulah tujuanku untuk meminta bertemu dengannya hari itu. Karena kupikir, ia akan menyemangatiku dan menghiburku. Lalu, mengajakku bersenang-senang agar bisa melupakan warna merah itu. sebelum kembali berjuang menuju UTBK. Seperti kata orang, ekspetasi memang tidak seindah kenyataan. Kata tajam, menyudutkan, dan menjatuhkan yang justru kudapat seketika menikam hatiku. Susah payah kutahan air mata yang akan jatuh.
Trida, sahabat yang selama ini selalu merespon baik semua ceritaku. Trida yang selalu menjadi tempat ternyaman untukku seketika berubah menjadi asing. Kupikir aku kehilangannya saat itu, bahkan hingga sekarang. Sejak ia resmi menjadi maba UGM, semua perilakunya kepadaku berubah 180 derajat. Dan, beberapa hari lalu aku mengetahui alasannya.
"Kok kamu sekarang beda, Tri? Jarang banget balas chat-ku. Sibuk banget ya jadi maba?" kataku, berusaha agar terdengar seperti percakapan basa-basi sederhana setelah lama tak bersua.
"Lumayan. Maba kan harus aktif ikut sana-sini, biar luas relasinya. Jadi, lumayan sibuk. Beda sama kamu yang gap year. Pasti engga ngapa-ngapain. Pengen deh kayak kamu yang engga perlu sibuk sana-sini," jelasnya yang menurutku lebih terdengar seperti sindiran.
Iya, aku harus gap year tahun ini. Aku gagal di UTBK, gagal pula di jalur mandiri. Sebenarnya bisa saja masuk swasta, tapi idealisku masih lebih tinggi.
Aku memaksakan tawaku, "Aku malah pengen kayak kamu. Sibuk jadi maba UGM. Pasti seru."
"Engga seru sama sekali. Yang ada capek sama stres." Ia langsung membantah.
Arrgghh! Aku benar-benar frustasi mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir Trida. Ia seakan-akan menyesali keputusannya menjadi mahasiswa UGM karena sibuk yang melanda. Dan, itu semua ia katakan kepadaku yang sangat ingin menjadi maba UGM.
__ADS_1
"Tri, aku kayaknya harus pergi sekarang. Aku masih ada kerjaan. Kapan-kapan kita lanjut lagi gapapa?" potongku seketika saat Trida berhenti sejenak dari cerocosan panjangnya.
"Ah, iya gapapa. Kamu udah dapat kerja? Di mana?" Trida kembali bertanya.
Sekuat mungkin kutahan senyuman sebagai bentuk keramahan. "Udah. Ada pokoknya. Duluan ya? Aku buru-buru. Kamu juga pasti sibuk, kan?" Setelahnya, aku segera pergi buru-buru sebelum Trida sempat berkata apa pun.
Aku berbohong padanya untuk yang pertama kali. Aku bohong kalau aku sedang buru-buru. Aku bohong kalau ada pekerjaan yang menunggu. Sebenarnya, aku hanya ingin berhenti mendengar ocehan Trida. Jadi, aku memilih pergi dengan alasan pekerjaan.
Keputusan yang salah memintanya untuk bertemu sebentar. Niat awalnya aku ingin ia berterus terang alasan ia berubah seperti itu, meski aku sudah tahu alasannya. Namun, kenyataannya jauh dari hal itu. Ia justru terus berbicara hal yang bisa ia bicarakan, termasuk hal-hal yang menyinggungku. Ternyata, tak perlu mendengar langsung alasan darinya untuk membuatku yakin. Dengan melihat sikapnya yang begitu pun aku sudah tahu bahwa ia tidak sudi berteman denganku yang tidak berhasil kuliah tahun ini. Menurutnya, ia lebih pintar dan terhormat dibandingkan diriku.
Meski sudah asing dan mengecewakan, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk Trida. Terima kasih karena sudah menjadi teman yang baik selama tiga tahun terakhir, juga sudah mengembalikan diriku yang tidak mudah berekspetasi tinggi pada orang lain. Entah kenapa, sejak mengenal Trida, aku lebih sering menaruh ekspetasi tinggi yang ujungnya hanya membuatku tersakiti. Namun, tenang saja. Sekarang sudah tidak akan lagi.
Kecewa membuah trauma
Yang percaya harus terluka
Perlahan jadi rasa tak suka
Terbiasa bisa juga lupa
Hingga akhirnya terlena
Sakit pada ujungnya
Enggan lagi pada dunia
__ADS_1
Ekspetasi tak sesuai realita
Memang benar adanya
Bukan omong kosong belaka
Percaya tak percaya, harus diterima
Teman tak akan selamanya
Perubahan akan selalu ada
Maka, hati harus tetap terjaga
Agar tak rapuh saat tiba waktunya
Untuk mengaku kalah pada dunia
Sebelum bangkit kedua kalinya
Bersama rasa yang baru tercipta
**Haii!! Apa kabar? Aku mau ngucapin selamat untuk yang lolos SNMPTN, meski telat. Bagi yang belum lolos, semangat yaa!! Jangan lupa belajar dan berdoa, sama istirahat.
Selamat berbuka puasa jugaa! Jangan tidur kemalaman karena besok masih harus sahur. Semoga puasanya ga banyak yang bolong. Semangat!
__ADS_1
Follow @aisy.deli di instagram**