
Dulu, kupikir kata-kata "Aku bahagia kalau ia juga bahagia, meski bukan aku penyebabnya" hanya omong kosong belaka. Hingga aku merasakan hal itu sendiri. Aku yang ikut senang melihatnya senang bersama orang lain.
Kisahku dengannya sudah cukup lama berakhir. Kami pun sudah tidak pernah saling mengontak satu sama lain. Kalau dibilang masih berteman, rasanya kami terlalu jauh dan asing untuk kata teman. Mungkin hanya sebagai penonton story media sosial. Dari sanalah aku tahu bahwa ia sudah memiliki kekasih baru. Ia sudah menemukan penggantiku. Anehnya, aku tidak merasa sedih ataupun sesak saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari sepasang kekasih itu. Aku juga tidak iri melihat hasil foto mereka di photobooth yang terlihat sangat akrab dan mesra.
Sebaliknya, aku justru tersenyum. Salah tingkah sendiri melihat betapa menggemaskannya mantan pacarku bersama pacar barunya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku me-reply story miliknya
^^^Ciee yang lagi kasmaran^^^
Ex
Hehe. Kamu gimana?
^^^Gimana apanya?^^^
Ex
Udah punya pacar lagi belum?
^^^Udah. Ada 8 orang^^^
Ex
Idola kamu itu? Jangan terlalu sering ngehalu
__ADS_1
^^^Biarin^^^
Ia tidak membalas lagi, hanya membacanya. Meski begitu, senyumku tetap mengembang. Sudah lama tidak ada percakapan di antara kami. Rindu rasanya. Tetapi, kalau ditanya ingin mengulang masa-masa kedekatan kami berdua atau tidak, kurasa aku menjawab tidak. Masa lalu itu memang indah, tetapi menurutku lebih baik dikenang saja. Lagipula, aku tidak mau merasakan patah hati yang sama untuk kedua kalinya.
Aku masih memandangi percakapan singkat itu. Membacanya berulang-ulang kali hingga aku hafal isinya. Kerinduan itu benar-benar menyergapku. Membawa diriku kembali ke masa lalu di mana hanya ada tawa dan canda bersamanya sebelum akhirnya runtuh perlahan.
Aku sama sekali tidak menyesali keputusanku saat itu untuk mengiyakan ajakannya. Perpisahan juga bagian dari pendewasaan, bukan? Anggap saja perpisahan kami telah mengikuti garis takdir yang ditentukan yang ternyata membawa kebahagiaan yang baru. Ia bersama pacar barunya dan aku bersama delapan lelaki idolaku. Itu yang kusebut semua akan indah pada waktunya.
Pisah tak berarti akhir perjalanan
Justru proses pendewasaan
Untuk bangkit setelah keterpurukan
Untuk paham waktu menyembuhkan
Dulu, kita memang satu
Bersama selalu tak memandang waktu
Canda dan tawa kita nikmati bersama
Jenuh bukan alasan saling meninggalkan
__ADS_1
Namun, tak ada yang selamanya
Tanpa rencana, kita berubah
Tanpa alasan, kita berpisah
Akhir kata kita berakhir begitu saja
Tanpa pernah aku mengerti alasannya
Meski begitu, aku menerimanya
Bahagia bukan akhir cerita kita
Tapi, aku senang pernah mengenalmu
Aku percaya kita ada dengan alasan
Bukan sekadar bertemu
Lalu kembali asing seperti awal mula
Jujur, aku tak percaya bahwa kita akan berakhir seperti ini. Tentu saja maksudku bukan tentang kata putus yang kau ucapkan ketika kita masih pacaran. Aku pikir aku tidak akan pernah bisa merelakan dirimu, aku pikir aku akan selalu terjebak di masa lalu ketika kita masih bersama. Namun, tidak. Itu semua tidak terjadi. Ternyata aku bisa melihatmu dengan perempuan lain tanpa perlu merasa sesak atau cemburu. Aku juga sudah tidak lagi terjebak di masa itu karena kini aku pun sudah menyukai orang lain lagi. Ya, selain delapan lelaki idolaku itu, masih ada satu orang lagi yang aku sukai. Aku memang belum pernah memberi tahumu tentangnya karena aku masih ingin merahasiakannya. Nanti aku akan memberi tahumu ketika kami sudah jadian. Janji! Intinya, doakan saja yang terbaik.
__ADS_1
...----------------...
Andai aja kita bisa kayak tokoh "aku" yang tetap baik-baik aja waktu ngeliat mantan pacar udah bahagia sama pacar barunya. Andai aja kita bisa move-on semudah itu.