
Saat SMA, aku mempunyai seorang sahabat yang benar-benar berbeda dengan sahabat-sahabatku sebelumnya di muka bumi ini. Ia istimewa dan mungkin sudah sangat langka untuk ditemukan. Atau mungkin, ialah satu-satunya.
Pertemuan kami bermula di kantin. Pada masa itu, aku masih belum memiliki sahabat atau sekadar teman dekat. Entah kenapa aku susah untuk berbaur dengan teman sekelasku padahal sudah seminggu sejak hari pertama masuk sekolah. Aku bukanlah tipe orang yang sulit mencari teman dan waktu seminggu itu seharusnya lebih dari cukup untuk aku memiliki setidaknya seorang teman dekat. Namun, tidak untuk kali ini. Kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pagi-pagi sekali aku datang ke sekolah untuk piket. Sekolah masih sepi, begitu juga kelasku. Ternyata ini masih terlalu pagi untuk piket. Tidak mau berdiam lama-lama di dalam karena suasana yang seram dan di luar juga belum begitu terang, aku memilih ke kantin. Salah satu kantin yang hendak kukunjungi berada dekat dengan kelasku, di sana menjual bakso. Karena masih pagi, kurasa waktu yang tepat untuk memakan bakso yang masih hangat. Untuk membayangkannya saja aku sudah mengiler. Maka, cepat-cepatlah aku ke sana dan segera memesan semangkok bakso. Baru kusadari ternyata ada orang lain duduk tak jauh dariku. Ia seorang laki-laki dengan kacamata tebalnya dan juga seangkatan denganku---terlihat di dasinya yg bergaris satu, sama denganku.
Awalnya, aku dan dia tidak berbicara apa-apa. Ia menoleh pun tidak. Aku juga ragu untuk menyapanya, bahkan untuk sekadar senyum. Lalu, entah bagaimana, tiba-tiba juluran tangannya sudah ada di depan mataku. Aku menoleh pelan-pelan ke arahnya, memastikan bahwa itu benar tangan miliknya. Tak kusangka ia tersenyum hingga matanya menyipit, terlihat tulus sekali. Aku menyambut tangannya dan ia langsung mengatakan namanya.
"Dhira."
"Nora." Aku ikut mengatakan namaku.
Lalu, entah bagaimana dan entah apa lagi yang terjadi setelah itu, aku tidak begitu ingat. Kami pun dekat meski berasal dari kelas yang berbeda. Seperti dugaanku, dia anak yang pintar dan dia sering membantuku dalam pelajaran. Selama 3 tahun di SMA itu, dialah satu-satunya seorang sahabat yang kupunya. Tidak tergantikan. Dia baik padaku, selalu membantuku kapanpun aku membutuhkan dirinya.
Pada masa-masa ujian, entah hal apa yang menyebabkannya, aku berniat untuk memanfaatkan Dhira. Ia kebetulan seruangan denganku dan juga duduk berdekatan denganku. Walau awalnya aku takut ia mengabaikanku, ternyata ia bersedia memberiku jawaban. Sungguh seorang malaikat.
Setiap diriku kesusahan, ia selalu ada. Namun, setiap dirinya sendiri kesusahan dan memerlukan bantuanku, aku justru pergi. Pura-pura tidak tahu dan tidak kenal. Tetapi, ia tetap membantuku semaksimal mungkin. Walaupun sekarang aku benar-benar menyesali perbuatanku saat itu, tapi pengkhianat tetap pengkhianat, bukan? Iya, tentu saja. Pengkhianat tetap pengkhianat, tak akan pernah menjadi malaikat.
Kini aku akan melangkah pergi
Meninggalkan temanku sendiri
__ADS_1
Padahal ia sudah membantuku berdiri
Menjadi pegangan untuk jalan ini
Kuteringat masa-masa di masanya
Saat aku dan kamu bersama
Masa perjuangan kita berdua
Menggapai masing-masing cita
Aku ini pengkhianatmu
Membungkam mulutmu
Namun, tetap mengemis pertolongan
Lalu, kenapa selalu sama?
Jelas engkau menyadarinya
__ADS_1
Tak peduli tertikam berpuluh kali
Selalu memelukku tanpa membenci
Benciku runtuh perlahan berkatmu
Malu yang harus kutanggung itu
Menyadarkan penuh diriku
Namun, aku tak pantas lagi untukmu
Pengkhianat tetap pengkhianat
Tak pantas untuk sosok malaikat
Biarkan diri ini penuh sesal
Biarkan aku menyesal
-------
__ADS_1
Maaf setelah sekian lama akhirnya update juga🙏 Author akhir-akhir ini sedang sibuk dengan kehidupannya. Maafkan saya karena belum bisa untuk mengatur waktu🙏 Saya akan selalu berusaha untuk lebih rajin lagi ke depannya. Mohon dukungannya ^_^
Terima kasih untuk readers yang senantiasa menunggu😘🙏