
Pagi-pagi sekali, ia menghampiriku dengan terburu-buru. Wajahnya sangat berseri meski peluh membasahi pelipis. Ia bahkan sampai melompat kecil saat sampai di hadapanku.
"Kenapa? Semangat banget kayaknya," tanyaku sambil berkacak pinggang.
"Kamu tau enggak? Kemarin Alya nerima aku."
Wajahku seketika bingung. "Alya nerima kamu? Alya siapa? Nerima kamu gimana?"
Tidak langsung menjawab, ia justru menarik lenganku menuju pojok kelas. Lalu, ia mengambil ponsel dari sakunya. Mengutak-atiknya sebentar, lalu memperlihatkan layarnya padaku. Di sana, terlihat kontak Alya menge-chat dirinya.
[Aku jawab di sini, gapapa, ya?]
^^^[Gapapa. Jadi gimana?]^^^
[Aku terima]
[Aku mau]
Belum selesai kubaca, ia sudah menarik ponselnya lagi. Ia menatapku seperti menunggu respon dariku. Sedangkan, aku masih bingung. Ini tidak mungkin seperti yang kupikirkan, bukan?
"Aku masih enggak ngerti."
Ia menepuk dahi dan bersiap menerangkan. "Alya itu gebetanku. Kemarin banget, aku baru nembak dia. Terus malemnya, dia langsung terima. Seneng enggak?"
Aku bergeming. Gebetan? Nembak? Alya? Lalu, aku siapa?
"Kemarin kamu enggak jadi nganter aku pulang karena perempuan itu?"
"Ah, masalah itu! Maaf banget, ya? Aku udah ngerencanain soalnya. Dan, karena aku udah resmi pacara---"
"Kenapa kamu enggak bilang?" Aku memotong pembicaraannya.
Ia terkekeh sejenak dan berkata, "Biar surprise dong!"
__ADS_1
"Ya, kamu berhasil bikin aku kaget." Suaraku bergetar menahan tangis. Mataku mungkin sudah berkaca-kaca.
"Eh, kenapa nangis?" Ia hendak meraih pipiku, tetapi kutepis.
"Kamu anggep aku apa selama ini, hah? Aku pikir kita pacaran. Sekarang, kamu malah pacaran sama orang lain."
"Aku, kan, enggak pernah bilang kalau kita pacaran." Ia mengelak.
"Oke, kamu bener. Kamu emang enggak pernah bilang itu, tapi setelah apa yang udah kamu lakuin ke aku? Itu juga bukan apa-apa?"
"Harusnya kamu ngerti, dong! Aku enggak pernah nembak kamu, jadi kita enggak pacaran." Ia masih mengelak.
"Aku pikir hal-hal kayak gitu enggak penting buat kamu." Aku mulai meninggikan nada suaraku.
Ia tidak menjawab lagi, hanya menatapku tanpa arti. Kalau bukan dia yang bicara, aku yang bicara.
"Oke. Aku yang salah udah anggap kalau kita pacaran. Silakan! Silakan kamu nikmati waktumu dengan Alya itu! Makasih udah ngasi harapan palsu ke aku." Aku seketika pergi dari kelas, berlari menuju toilet.
Empat bulan. Empat bulan ia membohongiku begitu. Empat bulan ia bersikap baik dan romantis kepadaku. Untuk apa semua itu?
Sekarang aku tahu
Sekarang aku tahu
Kamu hanya butuh teman
Kebetulan, ini salahku
Anganku yang sudah berlebihan
Anganku yang mengecewakan
Kata sayangmu ternyata tak nyata
__ADS_1
Genggamanmu juga hanya canda
Pelukanmu, semuanya maya
Tentu bukan salahmu
Kebetulan, ini salahku
Menganggapmu milikku
Padahal tak sekali pun
Kau mengatakan begitu
Seseorang mengetuk pintu toilet dengan lembut. "Din, Dina. Kamu di dalam, kan?"
Itu ternyata dia, itu suaranya. Kenapa ia masih saja bersikap baik begitu? Harapan apa lagi yang ingin ia berikan?
"Enggak usah pura-pura baik lagi," jawabku ketus dari dalam.
"Dina, aku minta maaf. Aku enggak pernah pura-pura baik sama kamu. Aku sayang sama kamu." Ia membalas dengan suara lembut.
"Sayang apanya? Sekarang kamu udah punya pacar, kan?" Aku tersenyum miris, meski ia tidak bisa melihatnya.
"Aku sayang sama kamu ... sebagai teman."
Mendengar kata teman, kembali membuatku sesak. "Aku mau sendiri dulu," finalku.
"Oke, take care, ya?"
Setelah itu, kudengar langkah kakinya menjauh. Kurobohkan tubuhku ke dinding dengan air mata yang masih mengalir perlahan.
Sebenarnya siapa yang salah? Ia yang tidak memberikan kejelasan atau aku yang terlalu baperan?
__ADS_1
Hai! Selamat tahun baru 2022!!! Telat banget, gak sih? Maklumi, ya? Bab pertama di tahun ini dan semoga ada banyak bab lagi yang hadir di tahun ini. Terima kasih sudah membaca ^_^
Follow instagram author : @aisy.del**i**