
Percuma sudah kuberharap
Sekarang kuhanya meratap
Melihat masa depan yang gelap
Bersamamu . . .
Tahun untuk patah hatiku
Tahun untuk derai air mataku
Tahun untuk hasil penantianku
Yang kini berujung pahit
Tidak, aku tidak patah hati
Tidak juga menangis sedih
Karena itu tidak menyakitkan
Justru membahagiakan
Lalu, kenapa bertanya begitu?
Takutkah kau menyakitiku?
Padahal sudah sering terjadi, selalu.
Caramu memperlakukanku
Tidakkah kejam menurutmu?
Dihadapi dengan ketidakpastian
Berakhir dengan fakta menyedihkan
__ADS_1
Lalu, untuk apa bertanya keadaanku?
Cerita ini sudah selesai, bukan?
Sejak saat itu
Kau meninggalkanku
Sendiri dalam sepi
Menyesatkan dan menyesakkan
Simpan saja pedulimu
Untuk orang baru itu
Tepat saat cerita kita selesai, aku menuliskan sesuatu untukmu. Sesuatu yang benar-benar kutuliskan dengan tangan menggunakan pulpen di atas kertas. Dan baru saja tadi, aku mengirimkan foto satu paragraf yang kutuliskan itu kepadamu.
Ini tidak akan pernah habis jika tak kuusaikan
Akan selalu ada kata-kata baru yang muncul untukmu
Yang selalu ditujukan padamu, hanya kepadamu
Ini seakan menjadi rutinitas yang selalu menghiasi hari
Entah itu ditemani bulan ataupun matahari
Tulisan ini akan hadir hari demi hari
Meskipun tak akan pernah tersampaikan nanti
Kau tidak begitu menanggapinya. Sungguh, itu tidak apa. Aku hanya ingin berbagi padamu. Berbagi kebahagiaan menjelang hari ulang tahunmu yang sebentar lagi. Anggap saja ini hadiah dariku. Mungkin menurutmu tidak spesial dan tidak penting. Namun, jika suatu hari kamu membaca ini, semoga kamu sedang tersenyum bahagia di tempatmu nanti. Ini memang pesan. Pesan yang tidak tahu akan tersampaikan atau tidak.
Selanjutnya hanya paragraf-paragraf yang pernah kutuliskan untukmu. Tidak apa jika kalian tidak ingin membacanya.
Aku tidak pernah tahu seberapa besar diriku mencintaimu. Aku tidak pernah tahu apakah rasa ini sudah hilang sepenuhnya. Yang kutahu adalah dirimu sudah menyukai orang lain lagi. Dihantui pertanyaan tentang aku dan kamu sudah menjadi hal biasa dalam hidupku dan aku menikmatinya. Meski aku harus menangis, marah, kecewa, itu tidaklah seberapa. Karena kamu selalu lebih indah daripada itu semua. Izinkan aku tetap menganggapmu spesial
__ADS_1
Kamu yang jauh di sana itu
Kamu yang aku tidak tahu bagaimana kabarmu
Kamu yang seperti hilang dari permukaan
Sudah lama aku tidak melihat namamu
Dari layar kaca ponselku
Jujur, aku sedang bertanya-tanya
Bagaimana kabarmu selama ini?
Selama aku tidak ada untuk hadir dalam hidupmu
Kukira itu sudah lama sekali
Saat kita berdua berbicara secara langsung
Tidak, aku tidak merindukanmu lagi dan berbasa-basi dengan menanyakan kabar
Aku hanya penasaran dan sedikit khawatir tentang keadaanmu
Apa kau tahu?
Aku takut kamu sedang tidak baik-baik saja
Kumohon, tetaplah baik-baik saja saat aku menghilang!
Hei, saat tulisan ini diterbitkan mungkin ini sudah terjadi lama sekali di tahun-tahun yang lalu. Aku tidak berani menerbitkannya di tahun peristiwa itu. Kenapa? Aku juga tidak tahu. Mungkin juga kamu sudah lupa, bahkan aku sendiri mungkin nanti sudah lupa. Tidak apa-apa. Ini hanya sebagai kenangan yang bisa dijadikan sebagai bacaan. Ini hanya kata-kata yang kutulis hampir tengah malam. Ini bisa jadi kebenaran, bisa jadi juga kebohongan.
Jika kalian merasa patah hati, tidak apa-apa. Patah hati itu wajar dan menandakan bahwa kita benar manusia. Menangislah jika memang perlu. Berteriaklah jika memang perlu. Berceritalah jika kamu tidak bisa memendamnya sendiri. Entah ada atau tidak manusia yang merindukan patah hati, patah hati itu tetap spesial di masa lalu. Patah hati itu menandakan bahwa kita pernah menyayangi dirinya sepenuh hati, segenap jiwa dan raga.
— Spesial Masa Lalu —
Bab ini adalah bagian dari masa lalu. Tidak ada yang benar-benar tahu kapan peristiwa ini terjadi, selain diriku. Entah sudah berapa hari, minggu, bulan, atau bahkan tahun yang terlewat sejak hari itu. Tidak perlu dipikirkan ataupun dipusingkan. Semuanya sudah terjadi dan tidak ada yang kusesali. Cukup nikmati cerita ini sebagai bagian dari cerita fiksi.
__ADS_1
See me at instagram @aisy.deli