
Umur tidak pernah menjadi penghalang untuk tetap melakukan hobi. Begitulah kalimat yang selalu diucapkan Bira ketika ada orang kurang kerjaan mengomentari hobinya yang kerap disebut kekanak-kanakan. Setelah itu, Bira biasanya akan bersumpah serapah dalam hati atau bergumam kecil. Memang dari sisi yang mana, hobi mengoleksi action figure dapat dikatakan kekanak-kanakan? Action figure bukan barang murah yang harganya bisa ditawar seperti di pasar. Anak kecil tidak mungkin sanggup untuk mengoleksi benda seperti itu—ya kecuali dia merupakan anak orang kaya. Namun sayangnya, anak kecil masih bisa meminjam sesuka hatinya yang lebih seperti mencuri. Maka dari itu, setiap Bira melihat keponakannya berkeliaran di rumahnya, ia akan segera meletakkan semua action figurenya di tempat tak terjangkau oleh mata atau tangan mereka. Setidaknya sampai Bira bisa membeli lemari kaca khusus untuk barang koleksinya. Selagi rak bukunya masih bisa menampung action figurenya yang memang belum banyak, Bira terus menyisihkan uang hasil kerjanya.
Selama bertahun-tahun menjalani hal itu, Bira belum pernah mendapatkan action figurenya jatuh tergeletak di atas lantai. Meski keponakannya selalu rusuh dan berisik, para action figure itu tetap aman dan bersih hingga mereka pulang. Tetapi, tidak untuk hari ini. Keponakan laki-lakinya yang paling pendiam justru menjadi pelaku pertama atas hancurnya action figure milik Bira. Ya, sebenarnya tidak hancur, hanya 'sedikit' penyok.
Hari itu, tante dan keponakannya, Adit datang berkunjung untuk sekadar bersilaturahmi. Saat itu, Bira masih berada di kantor. Maka dari itu, Adit disuruh menunggu di kamar pamannya. Awalnya, semua masih berjalan dengan baik-baik saja. Adit hanya duduk di tepi kasur sambil mengamati baik-baik setiap sudutnya. Namun, selang 15 menit waktu berjalan bak siput, Adit mulai merasa bosan karena Bira yang tak kunjung datang. Akhirnya Adit memilih turun dari kasur menuju benda yang sedari tadi menarik perhatiannya, rak buku. Terdapat banyak jejeran komik yang sebagian besarnya sudah pernah ia baca. Hanya beberapa yang belum dan itu semua berada di tempat yang tak bisa ia jangkau. Untung ada sebuah kursi yang bisa ia naiki.
Adit mendapati enam buah komik yang disusun rapi. Ia belum pernah membaca judul komik itu. Adit yang memang suka membaca mengambil volume pertama dan mulai membuka satu per satu halaman, masih dengan posisi berdiri di atas kursi. Tanpa ia sadari, pintu kamar terbuka menandakan Bira baru saja pulang.
"ADIT!" teriak Bira dengan keras. Ia benar-benar terkejut melihat Adit berdiri di hadapan action figurenya.
Teriakan Bira membuat Adit terlonjak hingga tubuhnya menubruk rak buku itu. Komik yang dipegang terlepas dari tangannya. Lalu, di detik selanjutnya, sebuah action figure meluncur jatuh tanpa bisa diselamatkan. Hening melanda seketika. Bira yang menatap action figurenya tergeletak di lantai dan Adit yang menciut bersama sisa rasa kejut.
"Keluar!" kata Bira dingin yang terasa menggema di ruangan itu.
Adit yang semula menunduk mulai mendongak menatap Bira. Tercetak jelas sorot amarah di kedua mata pamannya yang menatap tajam ke arah Adit. Anak lelaki itu bergerak turun dari kursi dan menghampiri pamannya yang sudah mengepalkan tangan.
"Maaf, Om! Adit engga sengaja," cicit Adit dengan pelan di depan pamannya.
"Keluar!" Nada suara Bira meninggi hingga dua wanita paruh baya yang berada agak jauh bisa mendengarnya.
Adit terlonjak. Ia menggigit bibirnya guna menahan tangis. Sungguh, ia tak bermaksud untuk lancang apalagi sampai merusak barang milik pamannya. Adit benar-benar tidak sengaja.
"Ada apa, Bir?" tanya sang Ibu dengan raut panik. Di belakangnya, Ibu Adit langsung memeluk anaknya yang menangis.
"Kenapa, Bir? Kok Adit nangis?" Sang Ibu mendekat pada sosok anaknya yang masih memunggunginya.
"Ibu tanya aja sama Adit. Bira capek, mau istirahat," ketusnya. Tanpa berbalik, ia langsung membanting pintu kamarnya untuk menyalurkan emosi.
"Adit engga sengaja, Bunda. Adit cuma baca komik, terus mainan Om Bira engga sengaja jatuh," ucap Adit bersusah-payah di tengah isakannya dalam pelukan Bundanya.
"Tar, ajak Adit pulang! Biar aku yang omongin ini ke Bira."
Setelah Adit dan Bundanya pulang, Ibu Bira mengetuk pintu kamar anaknya sambil sesekali memanggil nama. Butuh beberapa kali ketukan hingga Bira mau membukakan pintu. Ia masih belum mengganti pakaian kerjanya. Wajahnya terlihat kesal dan rambutnya semakin berantakan.
"Ibu boleh masuk?" tanya lembut Ibunya.
__ADS_1
Bira menyingkirkan dirinya dari pintu menuju tepian tempat tidur. Sedangkan, Ibunya berjalan ke arah meja kerja anaknya. Terdapat satu action figure yang sudah tidak sempurna bentuknya.
"Maaf! Bira engga maksud bentak Ibu tadi," ucap Bira tiba-tiba.
"Ini mainannya engga bisa dibenerin?" tanya Ibunya, tidak merespon permintaan maaf Bira. Beliau menoleh ke arah anaknya sambil menunjukkan action figure itu.
Bira menggeleng pelan sebagai jawaban, lalu terdengar helaan napas dari wanita paruh baya itu. Ia menaruh kembali action figure itu di meja, kemudian menghampiri anaknya.
"Berapa harganya? Ibu yang gantiin."
Bira lagi-lagi menggeleng. "Engga usah, Bu. Engga terlalu penting juga."
"Engga penting, tapi tadi marah ke Adit."
"Penting kalau dirusakin, tapi engga terlalu penting kalau sampai diganti. Penyok sedikit aja kok, Bu."
Lagi-lagi, sang Ibu menghela napas berat. "Adit engga sengaja, Bir. Ibu emang engga lihat tadi, tapi Ibu yakin Adit engga mungkin bohong. Besok kamu libur, kan? Kita ke rumah Tante Tara." Ibunya menepuk tangan Bira pelan.
"Masa Bira terus yang ngalah, Bu?" Ia tahu ajakan itu bermaksud untuk meminta maaf pada Adit. Namun, dalam kasus ini, Bira merasa bahwa ia tak bersalah.
***
Esoknya, Bira dan Ibunya pergi menuju kediaman Tante Tara. Bira sudah memutuskan dalam hatinya tentang apa yang akan ia bicarakan. Ia belum bisa merelakan hal yang sudah berlalu itu, mengingat jerih payahnya menabung penghasilan. Ia ingat betul bagaimana rasa senangnya kala itu. Namun, apakah bisa ganti rugi dari saudara dekatnya itu membuatnya bahagia?
Ketika sudah berjerih payah
Menabung sisa-sisa upah
Hingga impian tercapai sudah
Bisakah ia menerima maaf?
Tahun-tahun yang berat
Terbantu oleh keluarga dekat
__ADS_1
Tegakah ia meminta tanggung jawab?
Hanya untuk hal-hal kecil
yang bukan karena sengaja
Rela memang bukan hal mudah
Berkorban pun sama halnya
Sesama keluarga memang sudah kodratnya
Lagipula, ia tak sengaja
Kini, bisakah ia menerima maaf?
Rela memang bukan hal mudah
Namun sekarang semua sama susah
Masih tegakah dirinya?
Hanya untuk bahagianya
Seorang diri
Tidak. Bira tidak sejahat itu. Bira tidak seegois itu. Keluarganya memang sudah tidak lengkap lagi. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Hanya ada Ibunya yang selalu mendukung setiap keputusan Bira. Untuk hal kecil ini saja, Bira tidak mungkin membuat Ibunya malu mempunyai seorang putra yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Tan, Bira minta maaf soal kemarin udah marah-marah. Kemarin Bira capek banget sama masalah kantor, jadi gampang kebawa emosi. Adit ada? Bira mau minta maaf juga sama Adit," ucap Bira pada akhirnya.
Ibunya diam-diam tersenyum mendengar penuturan anaknya. Ia bahkan tidak berkata apa-apa, tetapi anaknya itu sudah bersikap dewasa. Rasanya, sebulir air mata bisa saja terjatuh jika tak ia bendung.
**Hello!! Akhirnya up lagi, hehe. Gimana kabarnya? Kemarin diterima SBMPTN ga? Selamat ya yang udah diterima! Untuk yang belum, gapapa. Masih ada jalan lain, jadi semangat terus!!
Kalian bisa request tema chapternya ke aku, lho. Bisa lewat komentar atau DM ke IG aku @aisy.deli. Aku tunggu, ya**!
__ADS_1