Lahirnya Pahlawan Sejati

Lahirnya Pahlawan Sejati
episode 23 Tak tahu diri


__ADS_3

Ketika hendak pulang aku mampir ke rumah pengungsian tempat Ririna membantu merawat korban yang terluka.


Di sela perjalanan aku melihat banyak rumah yang terbakar dan anak - anak yang menangis melihat orang tua mereka meninggal.


Melihat itu, akupun sedikit prihatin pada mereka, walaupun orang tua mereka merendahkanku, tapi itu tidak ada hubungannya dengan mereka.


Aku juga tidak menaruh dendam apapun pada anak - anak yang tidak berdosa itu. Aku juga ingin agar anak - anak itu bisa hidup walaupun tanpa orang tua mereka.


Lalu aku sampai ke tempat Ririna dan langsung masuk ke dalam sana.


" Ririna, ayo kita kembali "


" Rui, aku tidak bisa meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini, apakah kau tidak bisa meminjamkan kekuatannmu untuk menolong mereka ?" Pinta Ririna dengan muka penuh harap.


Aku bisa saja membantu menyembuhkan keadaan mereka saat ini, tapi mengingat yang mereka lakukan padaku dahulu, aku memilih tidak menyia-nyiakan manaku untuk mereka.


" Maaf Ririna, aku sudah kehabisan mana saat bertarung dengan bandit " jawabku berbohong pada Ririna.


Seketika para warga disana melihat ke arahku dengan tatapan heran . Bahkan ada yang berbisik - bisik di antara mereka, meragukan kalau aku yang sudah menghentikan bandit itu.


" Eh, bukankah dia anak bangsawan yang di katakan gagal sebagai Penyihir itu "


Bisik salah satu perempuan pada temannya.


" Iya itu memang dia, lalu kenapa dia disini, bukankah Nona ini meminta tolong pada orang yang salah " balasnya kepada temannya.


" Tapi ada yang bilang kalau dialah yang menghentikan Bandit - Bandit itu " sahut seorang Pria yang terluka.


" Ehh, apa benar dia yang melakukannya, bukankah itu sangat aneh, apa jangan - jangan dia yang menyuruh para Bandit itu untuk menyerang Desa dan pura - pura bertindak sebagai Pahlawan " ucap mereka sambil melihatku dengan tatapan curiga.


Aku mendengar itu semua tapi tidak terlalu peduli dengan apa yang mereka katakan. Akupun sudah tidak heran dengan bagaimana cara mereka melihatku. Aku cuma berniat membantu kakekku bukan demi orang - orang bodoh ini.


" Cukup, apa yang kalian katakan, kalian bisa selamat hari ini karna Rui yang mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kalian "


Bentak Ririna sangat marah pada orang yang membicarakanku itu.


" Bukannya bersyukur tapi kalian malah memfitnah dan berkata yang tidak masuk akal, kalian benar - benar orang yang tidak tahu malu dan menjijikan ".


Mendengar itu mereka langsung diam dan Kakekku tiba di tempat itu.


" Ada apa ini, kenapa kalian ribut di tempat orang - orang yang sedang dirawat " ucap Kakek tidak tahu yang terjadi.


" Tidak apa - apa Kakek, lebih baik kita pergi saja untuk membicarakan masalah tadi, lagi pula aku ingin menemui Ibu " jawabku sambil tersenyum dan menarik tangan kakek.


" Iya sudah kalau begitu, kita pergi "


" Untuk Kepala Desa, silahkan laporkan bila ada sesuatu yang di butuhkan dan untuk Tim medis aku akan segera meminta bantuan tambahan dari kota untuk para merawat warga yang terluka.


" Terima kasih tuan Count " Ucap Kepala Desa melihat kami pergi dari tempat itu.


Tapi setelah keluar dari tempat pengungsi, aku kaget melihat Ririna ikut kami untuk pulang.


"Eh, bukannya kau mau tinggal untuk membantu mereka Ririna" ucapku bingung.


" Tidak perlu, untuk apa aku menghabiskan waktuku disini untuk orang - orang tidak tahu diri itu " Ucap Ririna masih kesal.


" Bodoh, kenapa kau secepat itu berubah fikiran, bukannya dulu Profesor bilang pada kita bahwa menolong itu kepada orang yang membutuhkan tanpa melihatkan perasaan " ucapku heran.

__ADS_1


" Bodo amat, aku menolong siapa yang ingin aku tolong, pokoknya aku ikut pulang denganmu titik " ucap Ririna dengan kesal.


" Ahaha, baiklah ayo " ucapku sambil berjalan pulang dengan mereka.


Sebenarnya aku ingin menggunakan Teleport agar cepat sampai tapi tidak bisa, karna aku sudah terlalu banyak menggunakan mana saat aku diam - diam menyembuhkan para anak - anak yang terluka disana.


Mungkin aku bisa membawa Ririna tapi kalau dengan kakek spertinya agak sulit, jadi kami memutuskan untuk jalan kaki.


Aku juga tau seberapa batasan tubuhku untuk bertahan menggunakan manaku terus menerus.


Walaupun cukup meningkat tapi aku masih jauh dari kata puas jika aku tidak bisa menggunakan mana penuhku semauku.


Kami selama di perjalanan berbicara cukup lama dengan kakek, bagaimana aku kenal Ririna dan bagaiman kehidupan kami semasa di Akademi.


Lalu kakek membahas kenapa aku mau merekrut Bandit itu menjadi penjaga keamanan dan penjaga perbatasan.


Setelah mendengar penjelasanku kakek akhirnya mengerti dan mengabulkan keinginanku.


Kakek juga tidak terlalu terkejut saat aku memberitahu siapa dalang di balik kejadian ini karna ini persis dengan perkiraan kakekku.


Yah walaupun kakek berjanji akan melaporkan kejadian ini pada Istana Kekaisaran dan mengadili Viscount Armin.


Tapi jika aku tidak melakukan sesuatu, keluarga pemimpin Bandit itu pasti akan berada dalam bahaya. lagipula aku juga sudah memutuskan untuk memberi pelajaran pada Viscount itu sebelum dia di adili.


Lalu lanjut membahas tentang anak - anak yang kehilangan orang tua dalam kejadian itu, aku menyarankan agar kakek mendirikan Panti Asuhan.


Karena Panti Asuhan belum ada di daerah kakek dan panti asuhan hanya ada di gereja kekaisaran.


Namun aku mendengar rumor yang tidak sedap tentang nasib anak - anak yang ada disana. Ada yang di doktrin menjadi pelayan setia dan diberikan misi - misi yang gila. Ada yang mengatakan anak - anak disana dijual dan dijadikan budak.


Jadi aku lebih memilih agar anak - anak bisa hidup selayaknya di panti asuhan buatan kakek. Lalu tanpa pikir panjang kakek menyetujui keinginanku.


Nenek dan ibu menunggu kami dengan muka hawatir. Tapi semua kembali tenang melihat kami pulang tanpa luka.


" Ah , Julia itu ayah dan anakmu, mereka kembali"


Ibu berlari dan langsung memelukku dan menanyakan bagaimana keadaanku.


" Rui, kenapa kau begitu gegabah pergi ke tempat Bandit itu"


" Bagaimna keadaanmu, apakah ada yang sakit, apakah kau baik - baik saja " Tanya ibuku cemas.


" Aku tidak apa - apa kok bu, tidak perlu secemas itu dan aku belum sempat bilang sesuatu kemarin "


" Maafkan aku dan aku pulang ibu "


Mendengar itu, ibuku menangis dan memelukku lagi.


" Tidak, ibu yang salah, ini sama sekali bukan salahmu , selamat datang rui, aku cuma butuh kamu dan Karin, aku tidak butuh apapun dan siapapun di Dunia ini " Ucapnya sambil menangis.


" Lalu bagaimna denganku" Ucap kakek cemberut.


" Ayah di nomor tiga setelah ibu" Ucap ibu sambil mengusap air matanya.


" Ehh, aku kalah dari wanita tua ini " Ucap kakek sambil melihat nenek.


" Plaak" suara kepala kakek di pukul nenekku.

__ADS_1


" Kau cari mati pak tua " Ucap nenek sambil melihat kakek dengan tatapan murka.


Kamipun tertawa melihat tingkah laku mereka berdua.


Setelah itu aku memperkenalkan Ririna kepada ibu dan kami kembali ke dalam.


Di ruang tamu sudah ada kakak yang sedang membaca buku.


" Ah Rui, selamat datang kembali" tanya Karin.


" Iya kakak, aku pulang "


" Tunggu Karin, bukannya kau terlalu santai dan tidak ada rasa khawatir pada adikmu " ucap ibuku penasaran.


" Kenapa aku harus mencemaskan Rui, aku malah lebih kasihan pada Bandit yang dilawan Rui " ucap Karin santai.


Mendengar itu ibu kebingungan tapi segera membuang pikiran itu dan membawa kami ke Taman belakang mansion.


" Ayo kita ke taman saja, aku sangat rindu ingin menghabiskan waktu dengan kalian berdua "


Kami langsung mengiyakan keinginan ibu. Tapi ririna duduk disaat kami ingin pergi.


" Ririna apa yang kau lakukan ayo pergi " ucapku mengajak Ririna.


" Tidak, lebih baik kau berdua saja dengan Karin , ibumu pasti sangat ingin menghabiskan waktu dengan kalian berdua " ucap Ririna dengan senyum.


" Bodoh, kalau kau tidak ikut aku juga tidak " Ucapku ke Ririna.


" Iya Ririna kau juga, bukannya kau mau mendengar cerita Rui saat dia masih sangat kecil " ucap ibuku sambil tersenyum.


" Ehh, ibu , jangan yang itu " ucapku yang membuat mereka semua tersenyum.


Lalu tanpa terasa haripun berganti malam. Aku menyelinap menggunakan pakaian serba hitam dan pergi diam - diam tanpa sepengetahuan siapapun.


Aku berencana menuntaskan masalahku dengan penyebab masalah kemarin yang mencoba cari gara - gara dengan kekuargaku.


Setelah meluncurkan manaku ke arah wilayah kekuasaan Viscount Armin, aku sampai di dekat kediamannya.


Membunuhnya langsung tanpa terlihat adalah sesuatu yang sangat mudah bagiku. Tapi aku bukan orang sebaik itu kepada orang - orang yang berani mengusik kedamaian keluargaku dan menjadi penyebab ibuku sakit karna rasa bersalahnya padaku.


Aku melihatnya sedang marah - marah pada seseorang di ruang kerjanya.


" Bagaimna kabar dari para Bandit - Bandit itu, kenapa tidak ada laporan dari mereka satupun "


" Aku sudah menyewa mahal para Bandit - Bandit di daerah ini dan di daerah kekuasaan Count, bahkan menyewa gadis penyihir tingkat Elite dari Manara Sihir untuk menghancurkan kehidupan para warga disana, namun kenapa tidak ada laporan apapun " teriaknya pada pelayannya.


" Maa_maafkan saya Tuan, saya sudah mengirim beberapa orang ke sana tapi merekapun belum kembali " ucap pelayan itu ketakutan.


" Jika sampai besok mereka tidak memberi laporan apapun, langsung Eksekusi saja keluarga pemimpin Bandit itu karna membuatku marah "


Setelah mengatakan itu, Viscount Armin pergi dari sana menuju kamar tidurnya.


Ketika dia menutup mata, aku masuk dan membawanya ke hutan di dekat wilayah kekuasaannya.


Ketika itu dia merasa aneh karna dia merasakan dinginnya malam, dia membuka matanya dan akupun terseyum di balik cadarku sambil menyapanya.


" Selamat malam tuan Viscount yang terhormat".

__ADS_1


......The end......


__ADS_2